BI dan Pemerintah Perkuat Sinergi Jaga Rupiah
Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian perekonomian global dan dinamika arus modal internasional.
Dalam siaran pers-nya, BI mencatat tekanan eksternal masih mewarnai pergerakan pasar keuangan domestik sepanjang pekan ketiga Januari 2026. Pada penutupan perdagangan Kamis (22/1/2026), Rupiah ditutup pada level Rp16.880 per dolar AS, seiring dengan kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ke level 6,32%.
Di pasar global, yield US Treasury Note tenor 10 tahun naik ke 4,245%, meskipun indeks dolar AS (DXY) melemah ke level 98,36.
Memasuki perdagangan Jumat (23/1/2026), Rupiah dibuka menguat terbatas pada level Rp16.850 per dolar AS, dengan yield SBN 10 tahun relatif stabil di kisaran 6,33%.
Kondisi ini menunjukkan langkah stabilisasi yang terus dilakukan otoritas moneter untuk menjaga keseimbangan pasar valuta asing dan pasar obligasi domestik.
Dari sisi risiko negara, premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 22 Januari 2026 tercatat 73,28 basis poin, meningkat dibandingkan posisi pekan sebelumnya sebesar 70,86 basis poin. Peningkatan tersebut mencerminkan kehati-hatian investor global terhadap negara berkembang di tengah ekspektasi kebijakan suku bunga global yang masih ketat.
Tekanan jangka pendek juga tercermin dari pergerakan arus modal asing. Berdasarkan data transaksi periode 19–22 Januari 2026, investor nonresiden mencatatkan jual neto sebesar Rp5,96 triliun, yang terdiri dari jual neto di pasar saham sebesar Rp2,67 triliun, di pasar SBN sebesar Rp1,44 triliun, serta Rp1,85 triliun di instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Meski demikian, secara kumulatif sejak awal tahun 2026 hingga 22 Januari 2026, nonresiden masih membukukan beli neto Rp8,02 triliun di pasar saham dan Rp1,89 triliun di pasar SBN, sementara di SRBI tercatat jual neto Rp2,67 triliun.
Hal ini menunjukkan minat investor terhadap aset keuangan domestik tetap terjaga, meskipun diwarnai penyesuaian portofolio jangka pendek.
Merespons perkembangan tersebut, Bank Indonesia menegaskan akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, serta memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah.
Sinergi tersebut diarahkan untuk menjaga defisit transaksi berjalan agar tetap berada pada tingkat yang sehat, mengendalikan inflasi sesuai sasaran, serta memastikan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berlangsung efisien dan berkelanjutan.
Dengan kebijakan yang bersifat pre-emptive dan forward-looking, Bank Indonesia optimistis stabilitas Rupiah dan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dapat terus terjaga, sekaligus mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah volatilitas global yang masih tinggi.(Olpah Sari).
