Ketika Perempuan Menjadi Pilar Ketahanan Ekonomi Keluarga

0
DOSEN ASAHAN

Oleh: Dr. Chairia Ulfa Siagian

“Tidak semua perempuan dilahirkan dengan jalan yang mudah. Namun banyak perempuan memilih tetap berjalan, bahkan ketika hidup menghadiahkan tanjakan yang panjang dan melelahkan.”

Setiap pagi, bahkan sebelum matahari benar-benar terbit, jutaan perempuan Indonesia telah memulai perjuangannya. Mereka menyiapkan sarapan, membangunkan anak-anak, mengantar ke sekolah, berangkat bekerja, mengurus rumah tangga, hingga memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Mereka tidak selalu tampil di panggung, tidak pula menerima tepuk tangan. Namun dalam senyap, di pundak merekalah ketahanan keluarga sering kali bertumpu. Dari tangan-tangan perempuan, harapan tentang masa depan terus dirawat.

Saya mengenal perjuangan itu bukan sekadar dari cerita atau buku-buku akademik. Saya menjalaninya sendiri setiap hari.

Sebagai seorang ibu tunggal di Kabupaten Asahan, Sumatra Utara, saya belajar bahwa hidup tidak selalu menawarkan pilihan yang ideal. Ada masa ketika kenyataan datang tanpa aba-aba, membuyarkan rencana yang telah disusun dengan rapi.

Ada saat ketika tanggung jawab terasa jauh lebih besar dibanding kemampuan yang kita miliki. Ada pula malam-malam panjang yang dipenuhi kegelisahan tentang masa depan anak, pekerjaan, dan kehidupan yang harus terus berjalan.

Namun dari perjalanan itulah saya memahami satu hal bahwa kekuatan bukanlah tentang tidak pernah jatuh. Sederhananya kekuatan itu adalah keberanian untuk bangkit setiap kali kehidupan menjatuhkan kita.

Hari ini saya menjalani beberapa peran sekaligus sebagai aparatur sipil negara, guru sekolah dasar, dosen, ibu bagi seorang putri, sekaligus pelaku usaha.

Bagi sebagian orang, peran-peran itu mungkin tampak berat. Akan tetapi, bagi saya, semuanya adalah bagian dari ikhtiar untuk menjaga harapan tetap menyala.

Sebab dalam situasi ekonomi yang terus berubah, harapan saja tidak cukup. Harapan harus disertai keberanian untuk bertindak.

Kita hidup di era ketika kebutuhan hidup semakin kompleks. Harga kebutuhan pokok bergerak dinamis, biaya pendidikan terus meningkat, sementara ketidakpastian ekonomi menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Banyak keluarga harus bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan kualitas hidup yang sebelumnya dianggap cukup.

Di tengah situasi tersebut, semakin banyak perempuan yang memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Mereka membuka usaha rumahan, berjualan secara daring, menawarkan jasa sesuai keahlian, atau memanfaatkan keterampilan yang dimiliki untuk menambah pendapatan keluarga.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan tidak lagi hanya dipandang sebagai pengelola rumah tangga, tetapi juga sebagai aktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga.

Dari banyak perempuan hebat itu, saya belajar bahwa peluang sering kali bersembunyi di balik kesulitan.

Ketika sebagian orang melihat persoalan, sebagian lainnya justru melihat kesempatan untuk menghadirkan solusi. Ketika sebagian memilih menunggu perubahan, ada pula yang memutuskan menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Barangkali inilah makna kewirausahaan sesungguhnya.Ia bukan semata-mata mencari keuntungan, tetapi menciptakan manfaat sekaligus memperkuat ketahanan keluarga.

Sebagai seorang pendidik, saya percaya bahwa pendidikan merupakan cahaya yang membantu manusia menemukan jalan ketika keadaan terasa gelap.

Namun pendidikan bukan hanya tentang gelar atau ijazah yang terpajang di dinding. Pendidikan adalah keberanian untuk terus belajar, kemampuan beradaptasi dengan perubahan, serta kesediaan untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Ilmu pengetahuan akan menjadi lebih bermakna ketika mampu diterjemahkan menjadi tindakan nyata, tatkala ketika dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik dan ketika mampu menjaga optimisme di tengah ketidakpastian.

Dari perjalanan hidup yang saya jalani, setidaknya ada tiga pelajaran sederhana yang ingin saya bagikan.

Pertama, jangan takut menghadapi kenyataan. Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun menerima kenyataan bukan berarti menyerah. Justru dari penerimaan itulah lahir keberanian untuk mencari jalan keluar.

Kedua, belajarlah membaca peluang. Tidak semua peluang hadir dalam bentuk besar dan mengesankan. Sering kali peluang muncul dari kebutuhan-kebutuhan sederhana di sekitar kita. Bahkan, tidak jarang tantangan itulah yang memaksa kita menjadi lebih kreatif.

Ketiga, percayalah pada kekuatan konsistensi. Kehidupan jarang berubah karena satu langkah besar. Perubahan justru lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus dengan kesabaran dan ketekunan.

Tentu, menjadi perempuan yang kuat bukan berarti tidak pernah merasa lelah. Ada hari-hari ketika tubuh ingin berhenti, ketika hati dipenuhi keraguan, bahkan ketika menyerah tampak menjadi pilihan yang paling mudah.

Namun cinta kepada keluarga, tanggung jawab terhadap pekerjaan, dan harapan akan masa depan selalu menghadirkan alasan untuk kembali melangkah.

Barangkali itulah yang membuat banyak perempuan mampu bertahan. Bukan karena mereka lebih kuat dari siapa pun, melainkan karena mereka memiliki alasan yang begitu besar untuk tidak berhenti berjuang.

Di balik kemajuan bangsa ini, ada jutaan perempuan yang bekerja dalam diam. Ada ibu yang menahan lelah demi pendidikan anak-anaknya. Ada guru yang tetap mengajar dengan penuh dedikasi.

Ada pula pelaku usaha mikro yang bertahan meski diterpa berbagai kesulitan. Mereka mungkin tidak dikenal luas, tetapi kontribusinya nyata dalam menjaga denyut kehidupan masyarakat.

Jika kita memahami, masa depan itu tidak dibangun oleh mereka yang hidup tanpa ujian. Masa depan dibangun oleh mereka yang memilih tetap berjalan meski jalannya terjal.

Dan oleh mereka yang tetap menyalakan harapan ketika keadaan terasa gelap dan oleh mereka yang percaya bahwa setiap tetes keringat hari ini adalah investasi bagi kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Karena itu, kepada setiap perempuan yang sedang berjuang di mana pun berada, jangan pernah meragukan nilai dari setiap usaha yang Anda lakukan.

Mungkin dunia tidak selalu melihatnya, tetapi anak-anak Anda melihatnya. Keluarga Anda merasakannya. Dan sesungguhnya, masa depan sedang dibangun oleh tangan-tangan yang hari ini memilih untuk tidak menyerah.

Endingnya, perempuan bukan hanya penjaga rumah tangga. Perempuan adalah penjaga harapan. Dan selama harapan itu tetap hidup, masa depan akan selalu memiliki alasan untuk tumbuh.

Penulis adalah ASN & Dosen tinggal di Asahan , Sumatera Utara.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!