Piala Dunia dan Orkestra Bisnis Global
Oleh: Bambang Budiansyah
Kolomnis Economic Travelling.Com
Piala Dunia 2026 baru memasuki putaran kedua fase grup. Namun, beberapa negara sudah memastikan tiket ke babak berikutnya. Argentina, Prancis, Jerman, Norwegia, Amerika Serikat, dan Meksiko sudah bisa bernapas sedikit lega. Sebaliknya, Haiti, Turki, dan Tunisia harus lebih cepat mengemasi koper.
Begitulah sepak bola. Kadang, pertandingan belum selesai, tetapi arah sejarah sudah mulai terbaca.
Dalam dunia usaha, situasinya tidak jauh berbeda. Ada perusahaan yang sejak awal sudah terlihat matang, terukur, dan memiliki kedalaman strategi. Ada pula yang datang dengan optimisme tinggi, tetapi gagal membaca ritme permainan pasar.
Sepak bola modern sesungguhnya adalah miniatur ekonomi global.
Tidak ada lagi tim yang bisa hanya mengandalkan satu bintang. Lionel Messi sehebat apa pun tetap membutuhkan rekan setim. Kylian Mbappe secepat apa pun tetap membutuhkan organisasi permainan.
Bahkan Norwegia yang kini tampil impresif, bukan semata karena Erling Haaland, melainkan karena seluruh orkestrasi tim berjalan harmonis.
Di dunia usaha pun demikian. Era “one man show” sudah lama berakhir. Perusahaan yang hanya bertumpu pada satu produk, satu pasar, atau satu figur pemimpin akan sangat rentan menghadapi guncangan.
Lihatlah peta geopolitik dunia hari ini. Ketegangan Amerika Serikat dan Tiongkok belum benar-benar reda. Konflik Rusia-Ukraina masih menyisakan ketidakpastian energi global.
Timur Tengah terus menjadi kawasan dengan dinamika yang sulit diprediksi. Sementara perang dagang, proteksionisme, hingga disrupsi teknologi kecerdasan buatan terus mengubah lanskap bisnis dunia.
Kondisi ini mirip pertandingan Piala Dunia. Kadang bukan tim terkuat yang menang, tetapi tim yang paling adaptif.
Dalam sepak bola, pelatih hebat selalu memiliki skenario A, B, bahkan C. Ketika strategi utama tidak berjalan, perubahan taktik segera dilakukan. Pergantian pemain menjadi momentum. Formasi berubah sesuai kebutuhan pertandingan. Dunia usaha pun demikian.
Perusahaan yang bertahan bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling cepat beradaptasi. Kemampuan membaca perubahan pasar, diversifikasi bisnis, memperluas jaringan, hingga membangun kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama.
Tidak heran jika banyak ekonom menyebut abad ke-21 sebagai era kolaborasi.
Dalam sepak bola, seorang gelandang tidak mungkin mencetak gol jika lini belakang gagal membangun serangan. Demikian pula dunia usaha. Pemerintah, perbankan, pelaku industri, UMKM, investor, hingga regulator harus memainkan perannya masing-masing.
Layaknya sebuah orkestra. Pemain biola tidak boleh mendominasi seluruh panggung. Pemain drum tidak boleh bermain sendiri. Semua harus mengikuti partitur besar yang sama. Tujuannya satu yakni menghasilkan harmoni.
Saya menengok Kalimantan Selatan, misalnya. Daerah ini,sedang berada pada momentum penting. Keterhubungan dengan pasar global semakin terbuka. Infrastruktur tumbuh, sektor pertambangan tetap bergerak, hilirisasi mulai berkembang, dan sektor UMKM terus bertumbuh.Terlebih juga sekarang Bank Kalsel resmi beroperasi sebagai Bank Devisa.
Tantangannya kini bukan sekadar bertanding, tetapi memenangkan kompetisi. Sebab dalam ekonomi global, seperti halnya Piala Dunia, tidak ada lawan yang mudah. Semua negara sedang berlari. Semua perusahaan sedang berinovasi.
Dan satu pelajaran paling berharga dari sepak bola adalah pertandingan tidak dimenangkan oleh mereka yang paling banyak menguasai bola, tetapi oleh mereka yang mampu memanfaatkan peluang sekecil apa pun menjadi gol.
Begitu pula dunia usaha.
Peluang selalu datang. Persoalannya, apakah kita sudah menyiapkan strategi, pemain terbaik, dan keberanian untuk mengeksekusinya.
Pendapat pakar mana pun menyebut baik sepak bola maupun bisnis, sama-sama mengajarkan satu hal sederhana, bahwa kemenangan adalah hasil dari kerja sama, disiplin, strategi, dan kemampuan membaca perubahan zaman.
