Gol, Euforia, dan IHSG Ketika Piala Dunia 2026 Menguji Rasionalitas Investor
Oleh: Rofinus Leki
Piala Dunia bukan sekadar turnamen sepak bola. Event ini adalah fenomena global yang mampu menghentikan rutinitas miliaran manusia selama beberapa pekan.
Makanya ketika sebuah gol tercipta, emosi kolektif meluap melampaui batas negara, bahasa, bahkan perbedaan budaya.
Namun di balik hiruk-pikuk stadion, sorak-sorai pendukung, dan drama adu penalti, muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji dari perspektif ekonomi dan pasar keuangan apakah euforia Piala Dunia dapat memengaruhi perilaku investor dan pergerakan pasar saham?
Sekilas, sepak bola dan pasar modal tampak berada di dua dunia yang berbeda. Yang satu berbicara tentang olahraga, sedangkan yang lain berbicara mengenai valuasi, laba perusahaan, dan ekspektasi ekonomi.
Namun berbagai penelitian dalam bidang behavioral finance menunjukkan bahwa keduanya memiliki satu kesamaan mendasar, yakni sama-sama digerakkan oleh manusia yang tidak selalu rasional.
Teori keuangan klasik selama bertahun-tahun berasumsi bahwa investor bertindak rasional dalam mengambil keputusan. Informasi yang tersedia dianggap langsung tercermin dalam harga aset, sehingga pasar bergerak secara efisien.
Realitasnya tidak sesederhana itu.
Peraih Nobel Ekonomi Richard Thaler bersama Nicholas Barberis dan Andrei Shleifer menunjukkan sentimen investor kerap menciptakan penyimpangan harga dari nilai fundamental dalam jangka pendek.
Sementara penelitian Alex Edmans menemukan fakta yang lebih menarik kekalahan tim nasional dalam pertandingan sepak bola internasional sering diikuti penurunan pasar saham pada hari perdagangan berikutnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa suasana hati masyarakat ternyata dapat memengaruhi persepsi terhadap risiko.
Ketika optimisme meningkat, investor cenderung lebih percaya diri dan berani mengambil risiko. Sebaliknya, ketika sentimen memburuk, kecenderungan defensif meningkat meskipun tidak terdapat perubahan signifikan pada fundamental ekonomi.
Menurut sudut pandang kami, Piala Dunia menjadi relevan bagi pasar modal. Turnamen ini tidak mengubah laba perusahaan, tidak mengubah suku bunga, dan tidak mengubah produktivitas ekonomi. Namun ia berpotensi mengubah psikologi pelaku pasar.
Euforia yang Tidak Selalu Rasional
Dalam literatur keuangan perilaku terdapat konsep herd behavior, yaitu kecenderungan individu mengikuti tindakan kelompok tanpa melakukan analisis independen yang memadai.
Piala Dunia merupakan salah satu contoh paling nyata dari fenomena psikologi massa.
Selama turnamen berlangsung, media sosial dipenuhi perbincangan mengenai pertandingan, media massa menyoroti setiap perkembangan, dan masyarakat larut dalam emosi kolektif yang sama.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi fokus serta proses pengambilan keputusan investor.
Berbagai studi menemukan aktivitas perdagangan di sejumlah bursa saham dunia cenderung berubah selama berlangsungnya ajang olahraga besar.
Bahkan pada pertandingan-pertandingan penting, volume transaksi sering kali mengalami penurunan karena perhatian investor terpecah.
Bukan karena prospek bisnis berubah atau karena laporan keuangan memburuk.
Melainkan karena fokus manusia berpindah sementara dari layar perdagangan ke layar pertandingan.
Fenomena ini menunjukkan kalau pasar tidak selalu digerakkan oleh angka dan data. Dalam jangka pendek, pasar juga dapat dipengaruhi oleh emosi, perhatian, dan sentimen yang berkembang di luar faktor ekonomi.
Apa yang Sesungguhnya Menggerakkan IHSG?
Meski sentimen olahraga dapat memengaruhi psikologi investor, sejarah menunjukkan arah utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap ditentukan oleh faktor-faktor fundamental.
Selama Piala Dunia 2026 berlangsung, terdapat sejumlah variabel yang kemungkinan jauh lebih dominan dibandingkan hasil pertandingan di lapangan hijau.
Pertama, arus dana asing (foreign capital flow). Investor global masih memiliki pengaruh besar terhadap berbagai saham berkapitalisasi besar di Indonesia. Perubahan alokasi dana internasional dapat menjadi penggerak utama IHSG.
Kedua, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Stabilitas kurs tetap menjadi indikator penting yang diperhatikan investor institusi dalam menentukan eksposur mereka terhadap pasar Indonesia.
Ketiga, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Ekspektasi terhadap penurunan maupun kenaikan suku bunga AS berpotensi memengaruhi aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Keempat, perkembangan geopolitik global. Ketegangan kawasan, konflik internasional, maupun perlambatan ekonomi dunia dapat memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan sentimen olahraga.
Kelima, harga komoditas dunia. Sebagai negara yang memiliki eksposur besar terhadap sektor energi dan sumber daya alam, Indonesia sangat sensitif terhadap pergerakan harga batu bara, minyak mentah, nikel, emas, maupun minyak sawit.
Karena itu, meskipun sebuah gol spektakuler mampu mengubah suasana hati jutaan orang, arah jangka menengah pasar saham tetap ditentukan oleh faktor ekonomi yang lebih mendasar.
Pelajaran Investasi dari Lapangan Hijau
Ada kemiripan yang menarik antara sepak bola dan investasi.
Dalam sepak bola, kemenangan tidak selalu diraih oleh tim yang paling banyak menguasai bola. Banyak tim tampil dominan tetapi gagal mencetak gol. Sebaliknya, tim yang bermain disiplin dan efektif justru mampu keluar sebagai pemenang.
Investor yang terlalu sering bereaksi terhadap berita, rumor, dan sentimen sesaat belum tentu menghasilkan kinerja terbaik.
Sebaliknya, investor yang memiliki strategi jelas, disiplin menjalankan rencana, dan mampu mengendalikan emosi sering kali memperoleh hasil yang lebih konsisten dalam jangka panjang.
Piala Dunia mengajarkan pesan penting, emosi adalah bagian dari permainan.
Namun kemenangan biasanya dimiliki oleh mereka yang mampu menjaga disiplin ketika tekanan sedang berada pada titik tertinggi.
Piala Dunia 2026 akan menjadi salah satu peristiwa global terbesar tahun ini. Euforia yang tercipta hampir pasti memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk cara sebagian investor memandang risiko dan peluang.
Namun sejarah pasar modal memberikan pelajaran yang konsisten bahwa sentimen bersifat sementara, sementara fundamental memiliki daya tahan yang jauh lebih panjang.
Karena itu, investor perlu mampu membedakan antara kegembiraan sesaat dan nilai intrinsik yang sesungguhnya menentukan harga aset.
Seorang investor tentu boleh menikmati pertandingan, merayakan gol kemenangan, bahkan tenggelam dalam drama yang tersaji di lapangan hijau.
Akan tetapi ketika kembali membuka portofolio investasinya, keputusan harus tetap didasarkan pada analisis yang objektif dan pertimbangan yang rasional.
Benjamin Graham, yang dikenal sebagai bapak investasi nilai, pernah mengingatkan:
“The investor’s chief problem—and even his worst enemy—is likely to be himself.”
Menurut kami kalimat ini masih relevan hingga hari ini.
Musuh terbesar investor sering kali bukan kondisi pasar, bukan ketidakpastian ekonomi global, dan bukan pula volatilitas harga saham. Musuh terbesar itu adalah emosi yang tidak terkendali.
Piala Dunia hanya berlangsung beberapa minggu, namun pelajaran mengenai disiplin, kesabaran, dan kemampuan menjaga rasionalitas akan tetap relevan sepanjang perjalanan investasi.
Karena di pasar modal, seperti halnya di sepak bola, kemenangan jarang ditentukan oleh siapa yang paling emosional. Kemenangan biasanya datang kepada mereka yang paling disiplin.
- Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin
