Mengapa Jakarta Fair Selalu Dinanti Orang?
Oleh: Muhammad Risanta
Sejatinya memang ada banyak pameran di Indonesia. Ada banyak festival, konser, bazar, bahkan pusat perbelanjaan yang buka setiap hari.
Namun ada satu acara yang selalu memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia yang dikenal dengan Jakarta Fair atau yang lebih akrab disebut PRJ (Pekan Raya Jakarta).
Setiap kali bulan Juni tiba, orang-orang mulai bertanya termasuk teman saya bernama Syahriyanto, Jurnalis Banjarmasin, “PRJ sudah buka belum?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan makna yang lebih dalam.
Sebab Jakarta Fair bukan sekadar pameran dagang. Event tahunan ini telah tumbuh menjadi tradisi, ruang nostalgia, sekaligus perayaan ekonomi rakyat yang hampir enam dekade usianya.
Tahun 2026 ini, Jakarta Fair Kemayoran kembali digelar mulai 11 Juni hingga 12 Juli di JIExpo Kemayoran. Selama 32 hari, kawasan tersebut akan berubah menjadi lautan manusia.
Jutaan orang datang dari berbagai daerah. Ada yang berburu diskon, ada yang ingin menikmati konser, ada yang datang bersama keluarga, dan tidak sedikit yang hanya ingin merasakan suasana khas PRJ yang sulit ditemukan di tempat lain.
Lalu mengapa Jakarta Fair selalu dinanti? Menurut saya, setidaknya ada beberapa alasan menarik.
Pertama, Jakarta Fair adalah “Indonesia dalam satu lokasi”.
Di sana kita bisa melihat wajah Indonesia yang sangat beragam. Produk UMKM dari daerah berdampingan dengan perusahaan nasional besar. Makanan tradisional berdampingan dengan teknologi terbaru. Kerajinan tangan dari pelosok Nusantara berada dalam satu ruang dengan produk otomotif modern.
Bagi masyarakat, berjalan di Jakarta Fair seperti melakukan perjalanan keliling Indonesia tanpa harus meninggalkan Jakarta.
Sebagai dosen ekonomi, saya melihat inilah kekuatan utama Jakarta Fair. Karena mempertemukan produsen dan konsumen secara langsung. Tidak ada algoritma media sosial. Tidak ada batasan layar telepon genggam. Yang ada adalah interaksi nyata antara penjual dan pembeli.
Kedua, Jakarta Fair adalah surga diskon.
Masyarakat Indonesia pada dasarnya menyukai nilai tambah. Kita senang mendapatkan harga terbaik untuk barang yang diinginkan.
Karena itulah banyak orang rela datang berjam-jam ke PRJ. Mereka percaya ada peluang mendapatkan produk dengan harga lebih murah, bonus lebih banyak, atau promo yang tidak tersedia di tempat lain.
Di tengah tekanan ekonomi dan naiknya biaya hidup, berburu promo menjadi aktivitas yang bukan hanya menyenangkan tetapi juga rasional.
Ketiga, Jakarta Fair menawarkan pengalaman yang tidak bisa dibeli secara daring.
Hari ini hampir semua barang bisa dibeli melalui marketplace. Namun manusia ternyata tidak hidup hanya untuk bertransaksi.Kalau mau jujur masyarakat termasuk saya adalah manusia yang membutuhkan pengalaman.
Di PRJ, orang bisa mencicipi makanan baru, menyaksikan demonstrasi produk, mencoba kendaraan, berfoto, menikmati pertunjukan seni, dan bertemu banyak orang.
Ekonomi modern menyebutnya sebagai experience economy atau ekonomi pengalaman. Nilai sebuah acara tidak hanya diukur dari barang yang dijual, tetapi juga dari pengalaman yang dirasakan pengunjung. Dan Jakarta Fair memahami hal itu sejak lama.
Keempat, konser musik menjadi magnet luar biasa.
Setiap malam panggung Jakarta Fair dipenuhi musisi dari berbagai genre. Pop, rock, dangdut, hingga band indie tampil silih berganti.Sudah pasti sebagai salah satu penggemar musik, saya dan masyarakat lainnya tidak menyempatkan momen seperti ini.
Menariknya, konser di PRJ tidak hanya menjadi tontonan. Namun sekarang juha menjadi ruang pertemuan sosial.
Anak muda datang bersama teman-temannya. Keluarga datang bersama anak-anak mereka. Pasangan muda menghabiskan malam sambil menikmati suasana festival.
Musik menjadikan Jakarta Fair lebih dari sekadar pameran dagang. Sesungguhnya PRJ ini sudah berubah menjadi perayaan kehidupan perkotaan.
Kelima, Jakarta Fair adalah nostalgia yang terus hidup.
Banyak pengunjung yang dahulu datang bersama orang tua mereka, kini datang bersama anak-anak mereka. Ada kenangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hem, bau sate yang dibakar, keramaian stan pameran, suara musik dari kejauhan, lampu-lampu warna-warni saat malam hari, semuanya membentuk memori kolektif yang sulit dilupakan.
Mungkin inilah alasan mengapa Jakarta Fair tidak pernah kehilangan penggemarnya.
Jakarta Fair ini bukan hanya acara tahunan, tetapi ini adalah kenangan yang datang kembali setiap tahun.
Jika ditarik lebih jauh ke sejarah, keberhasilan Jakarta Fair sesungguhnya merupakan buah dari visi besar Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.
Ketika pertama kali digelar pada 1968 di kawasan Monas, tujuan utamanya sederhana untuk membantu pelaku usaha memasarkan produknya sekaligus menghadirkan hiburan rakyat yang terjangkau.
Gagasan itu lahir dari keinginan menghadirkan kembali semangat Pasar Gambir yang pernah menjadi ikon keramaian Batavia.
Siapa sangka, hampir 60 tahun kemudian gagasan tersebut berkembang menjadi pameran multiproduk terbesar di Indonesia.
Inilah bukti bahwa sebuah ide yang baik akan bertahan melampaui zamannya.
Sebagai jurnalis, saya melihat Jakarta Fair bukan hanya tentang transaksi ekonomi. Namun perpekstif khusus adalah cermin bagaimana sebuah kota merayakan dirinya sendiri.
Sementara sebagai dosen ekonomi, saya melihat Jakarta Fair sebagai laboratorium raksasa yang memperlihatkan denyut konsumsi masyarakat Indonesia, perkembangan UMKM, strategi pemasaran perusahaan, hingga perubahan perilaku konsumen dari waktu ke waktu.
Namun sebagai warga biasa, saya memahami alasan paling sederhana mengapa orang selalu menunggu PRJ. Karena di sana ada kegembiraan yang bisa dirasakan setahun sekali, hitung-hitung liburan sambil bernostalgia.
Di tengah rutinitas pekerjaan, kemacetan, tekanan ekonomi, dan berbagai persoalan kehidupan, Jakarta Fair menawarkan ruang untuk bersenang-senang.
Dan mungkin itulah yang membuatnya selalu hidup. Karena kita ini tidak hanya membutuhkan tempat untuk berbelanja.Namun juga membutuhkan tempat untuk merayakan harapan.
Beruntunglah kita selama hampir enam puluh tahun, Jakarta Fair telah menjadi salah satu ruang perayaan itu bagi jutaan orang Indonesia.
*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Akademisi.
