Batola Tak Ingin Hanya Jadi Penonton, Pelajar Didorong Tampil Berprestasi
Kabupaten Barito Kuala (Batola) tampaknya mulai mengirim pesan tegas:,pelajar daerah tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah kompetisi pendidikan dan olahraga yang semakin ketat.
Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Barito Kuala untuk menegaskan arah baru pendidikan mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya tamat sekolah, tetapi juga berprestasi dan kompetitif.
Pesan itu terlihat saat Pemkab Batola melepas kontingen Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kalimantan Selatan usai upacara Hardiknas di halaman Kantor Bupati Barito Kuala, Senin (11/05/2026).
Di tengah seremoni tahunan tersebut, ada target yang lebih besar yakni membangun mental juara bagi pelajar Batola.
Sekretaris Daerah Barito Kuala, H. Zulkipli Yadi Noor, menegaskan peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan seiring dengan penguatan karakter, disiplin, dan prestasi pelajar.
“Peningkatan mutu pendidikan tidak akan terlaksana tanpa 3M: mindset yang maju, mental yang kuat, dan misi yang lurus,” ujar Zulkipli saat membacakan amanat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti.
Dorongan agar pelajar Batola tampil kompetitif bukan tanpa alasan. Dalam kurun setahun terakhir, sejumlah capaian mulai terlihat di berbagai bidang, baik akademik maupun non-akademik.
Di bidang sains, pelajar Batola menunjukkan tren positif melalui partisipasi aktif pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Salah satu capaian menonjol datang dari SMP Negeri 8 Tamban yang mencatat dominasi pada seleksi OSN tingkat Kabupaten Barito Kuala 2025 dengan menempatkan sejumlah siswa di berbagai cabang lomba sains. Capaian ini menunjukkan pembinaan akademik di daerah mulai menemukan ritme kompetitif.
Tak hanya itu, pelajar tingkat madrasah di Batola juga mulai memperlihatkan daya saing. Empat siswa MAN 2 Barito Kuala berhasil lolos ke tingkat provinsi dalam ajang Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI), masing-masing di bidang Biologi, Matematika, Fisika, dan Ekonomi.
Prestasi ini memperlihatkan bahwa sekolah-sekolah di Batola mulai mampu bersaing di level yang lebih tinggi.
Di sektor olahraga, POPDA menjadi panggung penting untuk mengukur kualitas pembinaan atlet pelajar Batola.
Pemerintah daerah menaruh harapan besar agar kontingen yang diberangkatkan ke Banjarmasin tidak sekadar menjadi peserta pelengkap, tetapi mampu membawa pulang prestasi yang mengangkat nama daerah.
Di tengah persaingan kualitas sumber daya manusia antar daerah, Batola menghadapi tantangan besar. Pendidikan tidak cukup hanya berhenti pada angka kelulusan atau rutinitas upacara tahunan. Yang lebih penting adalah sejauh mana sekolah mampu melahirkan pelajar yang unggul dalam akademik, olahraga, seni, maupun karakter.
Pemerintah pusat sendiri tengah mendorong transformasi pendidikan melalui pendekatan deep learning, revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, hingga penguatan kesejahteraan guru.
Namun, keberhasilan kebijakan tersebut pada akhirnya bergantung pada kemampuan daerah menerjemahkannya menjadi gerakan nyata.
Bagi Batola, Hardiknas 2026 menjadi momentum refleksi sekaligus tantangan, apakah pendidikan hanya menjadi agenda seremonial, atau benar-benar diarahkan untuk mencetak generasi yang siap bersaing.
Sebab di tengah kompetisi antardaerah yang semakin keras, Batola tampaknya tak ingin anak-anak mudanya hanya berdiri di pinggir arena,melainkan ikut bertanding, menang, dan diperhitungkan.(Olpah Sari).
