Jude Bellingham Bukan Pemain Biasa

0
BAMBANG JUDE BELLINGHAM

Oleh: Bambang Budiansyah

Kolumnis EconomicTravelling.Com

Ada pertandingan yang kita tonton sekadar ingin mengetahui siapa yang menang. Ada pula pertandingan yang membuat kita rela duduk selama 90 menit hanya untuk menikmati bagaimana sepak bola dimainkan. Bagi saya, laga Inggris melawan Norwegia di Piala Dunia 2026 termasuk kategori kedua.

Jujur saja, pertandingan ini sudah saya tunggu sejak fase gugur dimulai. Alasannya sederhana. Dua negara ini datang dengan karakter yang berbeda, tetapi sama-sama memiliki pemain kelas dunia.

Di satu sisi ada Erling Haaland, mesin gol Norwegia yang nyaris selalu menjadi ancaman. Di sisi lain ada Harry Kane, striker yang kenyang pengalaman dan tetap tajam di depan gawang.

Namun, setelah peluit akhir dibunyikan, perhatian saya justru tertuju kepada seorang anak muda bernama Jude Bellingham.

Ia kembali membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pemain berbakat. Jude Bellingham adalah pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan.

Dua gol yang dicetaknya membawa Inggris menang 2-1 atas Norwegia sekaligus mengantar The Three Lions melangkah ke semifinal Piala Dunia 2026.

Salah satu golnya bahkan lahir pada menit-menit terakhir, ketika banyak orang mulai bersiap menerima pertandingan menuju perpanjangan waktu dan adu finalti.

Gol itu bukan hanya memastikan kemenangan Inggris. Gol itu juga menunjukkan karakter seorang pemain besar.

Dalam sepak bola modern, kemampuan mengolah bola memang penting. Kecepatan juga penting. Namun, ada satu kualitas yang tidak bisa diajarkan di ruang kelas ataupun diperoleh hanya dengan latihan fisik, yakni keberanian mengambil tanggung jawab ketika tekanan sedang berada di titik tertinggi. Dan Jude Bellingham memilikinya.

Usianya baru menginjak 22 tahun. Tetapi cara bermainnya sering kali membuat kita lupa bahwa kalau pemain inimasih sangat muda.

Ia tidak bermain seperti anak muda yang ingin sekadar menunjukkan kemampuan individu. Ia bermain seperti seorang pemimpin.

Bellingham tahu kapan harus mempercepat tempo permainan, kapan mengalirkan bola dengan tenang, kapan membantu bertahan, dan kapan muncul dari lini kedua untuk mencetak gol. Seorang gelandang yang lengkap.

Tidak heran bila banyak pengamat menyebutnya sebagai salah satu gelandang terbaik dunia saat ini.

Perjalanannya pun tidak dibangun secara instan.

Semuanya dimulai dari akademi Birmingham City. Ketika usianya baru 16 tahun, ia sudah dipercaya tampil di tim utama. Klub itu bahkan memberikan penghormatan luar biasa dengan memensiunkan nomor punggung 22 saat Bellingham memutuskan pindah ke Borussia Dortmund.

Keputusan itu sempat dianggap terlalu dini. Namun, waktu membuktikan bahwa ia memang berbeda.

Di Jerman, kemampuannya berkembang pesat. Ia tidak hanya belajar bermain di level tertinggi, tetapi juga belajar menjadi pemimpin di ruang ganti. Dari sana, Real Madrid datang dengan kepercayaan besar. Dan seperti banyak pemain hebat lainnya, Santiago Bernabéu justru menjadi tempat ia semakin bersinar.

Bersama Real Madrid, ia langsung memenangkan Liga Champions dan La Liga. Prestasi yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun berhasil ia raih dalam waktu singkat.

Kita sepakat Piala Dunia 2026 menjadi panggung yang semakin menegaskan kualitasnya. Di fase grup, ia menjadi motor permainan Inggris ketika mengalahkan Kroasia dan Panama.

Memasuki babak gugur, kontribusinya semakin terasa. Ia menjadi pemain kunci saat Inggris menyingkirkan Republik Demokratik Kongo. Ketika menghadapi Meksiko, ia mencetak dua gol yang membawa Inggris lolos ke perempat final.

Dan saat menghadapi Norwegia, ia kembali menjadi pembeda. Statistik memang mencatat dua gol.

Namun, yang tidak tercatat adalah pengaruhnya terhadap seluruh permainan Inggris.

Ia berlari tanpa mengenal lelah. Menekan lawan sejak bola masih berada di kaki bek. Membuka ruang bagi rekan-rekannya. Bahkan ketika tim sedang tertinggal, bahasa tubuhnya tetap menunjukkan optimisme.

Inilah kualitas yang sering kali membedakan pemain hebat dengan pemain biasa.

Saya teringat sebuah ungkapan dalam dunia olahraga.

“Bakat membuatmu dikenal. Karakter membuatmu dikenang.” Maka Bellingham tampaknya memahami kalimat itu.

Ia tidak banyak membuat sensasi di luar lapangan. Bellingham itu lebih suka berbicara melalui permainannya. Sikap seperti inilah yang membuat banyak pelatih menyukainya.

Sepak bola memang selalu melahirkan bintang baru. Setelah era Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Luka Modric, dan Neymar mulai mendekati ujung perjalanan internasional mereka, dunia membutuhkan sosok baru yang dapat menjadi wajah sepak bola masa depan.

Lalu, apa pelajaran bagi Indonesia?

Menurut saya, kisah Jude Bellingham seharusnya menjadi inspirasi bagi talenta-talenta muda sepak bola Indonesia.

Kesuksesan tidak lahir dalam semalam. Sukses itu dibangun melalui proses panjang, latihan yang disiplin, keberanian keluar dari zona nyaman, dan kemauan untuk terus belajar.

Bellingham tidak menjadi pemain kelas dunia hanya karena bakat. Pria muda ini menjadi besar karena menggabungkan bakat dengan kerja keras, kedisiplinan, kerendahan hati, dan mental juara.

Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan pemain berbakat. Hampir setiap daerah memiliki anak-anak yang piawai mengolah bola. Yang sering kali kurang adalah pembinaan yang berkelanjutan, kompetisi yang berkualitas, serta budaya profesional sejak usia dini.

Piala Dunia 2026 mengajarkan bahwa usia muda bukan lagi penghalang untuk tampil di panggung tertinggi. Jika diberi kesempatan, dibimbing dengan baik, dan memiliki etos kerja yang tinggi, seorang pemain berusia 20 atau 22 tahun dapat menjadi pemimpin tim nasionalnya.

Dan saya percaya, suatu hari nanti, Indonesia juga akan memiliki “Jude Bellingham”-nya sendiri. Bukan untuk meniru gaya bermainnya, melainkan meneladani semangatnya bekerja dalam diam, berkembang tanpa henti, dan menjawab semua keraguan dengan prestasi di lapangan hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!