Perilaku Organisasi Ilmu Manajemen Berbicara Tentang Manusia
Oleh: Muhammad Risanta
Jurnalis Ekonomi Senior | Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin
Selama lebih dari dua puluh lima tahun menjadi jurnalis ekonomi, saya berkesempatan mewawancarai sejumlah pemimpin perusahaan.
Ada direktur bank, CEO perusahaan nasional, pengusaha sukses, menteri, hingga pelaku UMKM yang memulai usaha dari garasi rumah. Menariknya, ketika saya bertanya tentang rahasia keberhasilan mereka, jawabannya hampir tidak pernah hanya soal modal, teknologi, atau strategi pemasaran.
Sebagian besar justru berbicara tentang manusia.
Ada yang mengatakan, “Mencari pelanggan itu sulit, tetapi mempertahankan karyawan yang baik jauh lebih sulit.” Yang lain berpendapat, “Teknologi bisa dibeli, tetapi budaya kerja harus dibangun.”
Semakin lama saya menjadi jurnalis ekonomi, semakin saya memahami bahwa perusahaan yang hebat bukan hanya dibangun oleh gedung megah atau mesin-mesin canggih, melainkan oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Pemahaman itulah yang membuat saya sangat menikmati ketika dipercaya mengampu mata kuliah Perilaku Organisasi di kampus. Sejak 2015 saya menjadi Dosen Tetap di STIE Pancasetia Banjarmasin dan menjadi pembicara berbagai seminar.

Terus terang, bagi saya, ini bukan sekadar mata kuliah manajemen. Ini adalah mata kuliah yang berbicara tentang kehidupan sehari-hari. Tentang bagaimana manusia berpikir,dengan bahasa sederhana manusia yang bekerja, berkomunikasi, memimpin, bahkan menyelesaikan konflik.
Karena kita tahu organisasi bukanlah kumpulan meja, komputer, atau bagan struktur organisasi. Organisasi adalah kumpulan manusia dengan karakter, harapan, emosi, dan tujuan yang berbeda-beda.
Belajar Memahami Manusia Sebelum Mengelola Perusahaan
Sering kali mahasiswa beranggapan bahwa manajemen identik dengan angka-angka, laporan keuangan, grafik penjualan, atau strategi bisnis. Padahal, sebelum semua itu berjalan, ada satu unsur yang menjadi penggeraknya, yaitu manusia.
Jujur kalau boleh saya berpendapat, inilah letak keunikan mata kuliah Perilaku Organisasi. Karena mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau besarnya modal, tetapi juga oleh kemampuan memahami perilaku manusia.
Mengapa seorang karyawan sangat bersemangat bekerja, sementara yang lain kehilangan motivasi?
Mengapa dua orang yang sama-sama cerdas bisa menghasilkan kinerja yang sangat berbeda?
Mengapa ada tim yang kompak dan produktif, sementara tim lain justru dipenuhi konflik?
Semua pertanyaan itu dipelajari dalam Perilaku Organisasi.

Organisasi Adalah Laboratorium Kehidupan
Saya sering mengatakan kepada mahasiswa bahwa ruang kuliah Perilaku Organisasi sebenarnya adalah miniatur dunia kerja.
Di dalam organisasi, kita akan bertemu berbagai macam karakter. Ada yang komunikatif, ada yang pendiam. Ada yang cepat mengambil keputusan, ada pula yang sangat berhati-hati. Ada yang senang bekerja dalam tim, ada yang lebih nyaman bekerja sendiri.
Perbedaan-perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami.
Karena keberhasilan seorang pemimpin bukan diukur dari kemampuannya memerintah, tetapi dari kemampuannya memahami manusia.
Memahami Perilaku Individu
Bagian pertama dalam mata kuliah ini membahas perilaku individu.
Setiap orang datang ke organisasi dengan membawa latar belakang yang berbeda. Mereka memiliki nilai hidup, pengalaman, kepribadian, persepsi, dan motivasi yang tidak sama.
Ada karyawan yang bekerja karena ingin memperoleh penghasilan. Ada yang mencari pengalaman. Ada pula yang ingin mendapatkan pengakuan atas prestasinya.
Perbedaan motivasi inilah yang harus dipahami oleh seorang manajer.
Saya sering mengingatkan mahasiswa, jangan pernah menganggap semua orang termotivasi oleh uang. Bagi sebagian orang, penghargaan, kesempatan berkembang, atau lingkungan kerja yang nyaman justru jauh lebih penting.
Ketika Kelompok Menentukan Hasil
Di dunia kerja, hampir tidak ada pekerjaan yang bisa diselesaikan sendirian.
Karena itu, Perilaku Organisasi juga mempelajari bagaimana manusia bekerja dalam kelompok.
Nah dalam konteks sederhana menurut saya, mahasiswa belajar tentang komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, konflik, hingga proses pengambilan keputusan.
Saya selalu tersenyum ketika membahas materi konflik di kelas.
Mengapa?
Karena sebagian besar mahasiswa menganggap konflik adalah sesuatu yang buruk.Padahal tidak selalu demikian.
Konflik yang dikelola dengan baik justru dapat melahirkan inovasi, memperkaya sudut pandang, dan menghasilkan keputusan yang lebih baik.
Yang berbahaya bukan konflik, tetapi ketidakmampuan mengelola konflik.
Setiap organisasi memiliki kepribadiannya sendiri.Karena ada perusahaan yang sangat formal atau yang santai. Bahkan ada pula yang sangat disiplin, termasuk yang memberi kebebasan tinggi kepada karyawannya. Semua itu disebut budaya organisasi.
Budaya inilah yang membentuk bagaimana seseorang bekerja, berkomunikasi, berpakaian, bahkan mengambil keputusan.
Budaya organisasi yang sehat akan melahirkan lingkungan kerja yang produktif. Sebaliknya, budaya organisasi yang buruk dapat menghambat inovasi dan menurunkan semangat kerja.
Lima Wajah Kepemimpinan Organisasi
Dalam mata kuliah ini, mahasiswa juga mengenal lima model perilaku organisasi yang berkembang dalam praktik manajemen.
Model Otokratik menempatkan pimpinan sebagai pusat kekuasaan. Keputusan sebagian besar berasal dari atasan.
Model Kastodial menitikberatkan pada rasa aman melalui sistem kesejahteraan dan perlindungan karyawan.
Model Suportif menempatkan pemimpin sebagai pendukung yang membantu karyawan berkembang.
Model Kolegial mengedepankan kemitraan, kerja sama, dan rasa memiliki dalam organisasi.
Sedangkan Model Sistem merupakan pendekatan modern yang membangun budaya saling percaya, kolaborasi, dan pemberdayaan.
Saya selalu mengatakan kepada mahasiswa bahwa tidak ada satu model yang cocok untuk semua organisasi. Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang mampu membaca situasi dan menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan organisasi.
Mengapa Mata Kuliah Ini Semakin Penting?
Dunia kerja saat ini berubah sangat cepat.
Kecerdasan buatan, otomatisasi, digitalisasi, dan transformasi bisnis membuat perusahaan berlomba menciptakan inovasi.
Namun di balik semua teknologi tersebut, tetap ada manusia yang menjalankannya. Teknologi boleh berubah setiap tahun dan Software dapat diperbarui setiap bulan.
Tetapi memahami manusia tetap menjadi keterampilan yang tidak tergantikan.
Perusahaan masa depan membutuhkan pemimpin yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional.
Mereka harus mampu mendengarkan, membangun komunikasi, menyelesaikan konflik, memotivasi tim, serta mengelola perubahan. Semua itu dipelajari dalam Perilaku Organisasi.
Saya sering menyampaikan kepada mahasiswa bahwa ijazah memang dapat membuka pintu masuk dunia kerja.
Namun yang menentukan keberhasilan karier justru sering kali adalah soft skills. Kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, memimpin, beradaptasi hingga menyelesaikan konflik. Dan semua keterampilan tersebut menjadi inti pembelajaran Perilaku Organisasi.
Karena itu saya selalu mengajak mahasiswa untuk tidak hanya mengejar nilai tinggi, tetapi juga melatih kemampuan memahami orang lain. Sebab dalam dunia profesional, orang yang mampu membangun hubungan baik sering kali memiliki peluang berkembang lebih cepat dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan kecerdasan akademik.
Semakin lama saya mengajar, semakin saya menyadari bahwa ilmu manajemen sesungguhnya bukan hanya tentang mengelola uang, aset, atau strategi. Manajemen adalah seni mengelola manusia.
Organisasi yang hebat lahir dari orang-orang yang saling percaya. Tim yang hebat dibangun oleh komunikasi yang baik. Pemimpin yang hebat tumbuh dari kemampuan memahami orang lain sebelum meminta mereka memahami dirinya.
Tak heran saya selalu menikmati mengajar mata kuliah Perilaku Organisasi.
Karena setiap pertemuan di kelas bukan hanya membahas teori, melainkan juga mengajak mahasiswa memahami kehidupan. Belajar mengenali diri sendiri, memahami orang lain, dan membangun organisasi yang sehat, produktif, serta penuh makna.
Di tengah era digital yang serba cepat, satu hal tetap tidak berubah, sesungguhnya manusia akan selalu menjadi aset paling berharga dalam setiap organisasi.
