Ramadan, Hotel, dan Strategi Menjaring Konsumen

0
RAMADAN IFTAR BAGUS

Foto Ilustrasi - Seorang koki hotel menyapa sekaligus mempromosikan paket Iftar Ramadan kepada wisatawan di sebuah hotel berbintang. (Foto-Risanta).

Catatan Muhammad Risanta Menjelang Ramadan.

Setiap Ramadan, industri perhotelan bergerak hampir serempak. Paket berbuka puasa diluncurkan nyaris di waktu yang sama, menu Nusantara dan Timur Tengah kembali mendominasi meja saji, dan diskon berlapis menjadi bahasa utama pemasaran.

Dari Jakarta hingga kota-kota regional, termasuk Banjarmasin polanya relatif seragam. Ramadan memang menjanjikan lonjakan permintaan, tetapi juga membawa risiko lama yang terus berulang, yakni arti kompetisi yang kian rapat, diferensiasi yang menipis, dan perang harga yang sulit dihindari.

Bagi hotel, Ramadan adalah musim panen sekaligus ujian. Karena di bulan ini menjanjikan perputaran uang yang cepat, terutama di sektor makanan dan minuman.

Namun, justru karena potensinya besar, semua pemain masuk ke arena yang sama dengan strategi yang mirip. Hasilnya adalah pasar yang padat, bising, dan semakin homogen.

Ketika Diferensiasi Menjadi Barang Langka

Secara konseptual, Ramadan hotel telah lama berada dalam satu pakem. Buffet iftar tetap menjadi tulang punggung, dengan variasi menu yang berputar di kisaran rasa aman.

Upaya pembeda lebih sering bersifat kosmetik dekorasi bernuansa Timur Tengah, penamaan tema yang puitis, atau klaim menu khas yang sulit diverifikasi perbedaannya.

Di tengah homogenitas ini, konsumen bergerak semakin rasional. Pilihan mereka ditentukan oleh dua faktor paling mendasar yaitu harga dan lokasi. Ketika hampir semua hotel menawarkan pengalaman yang terasa serupa, nilai unik kehilangan daya tawarnya. Konsep menjadi latar, bukan alasan utama.

 

Salah satu promo Iftar Ramadan di Hotel Harper Banjarmasin. (Foto – M.Irfani).

Sebagai akademisi kami memandang, Homogenitas strategi hampir selalu berujung pada risiko klasik yakni perang harga. Promo early bird, diskon kartu bank, potongan grup, hingga paket bundling menjadi senjata utama untuk mengamankan kursi sebelum Ramadan mencapai puncaknya.

Dalam jangka pendek, strategi ini efektif menjaga okupansi. Namun dalam jangka panjang, margin tergerus, sementara ekspektasi pasar terbentuk pada harga murah.

Inilah dilema yang dihadapi banyak pelaku industri. Menurunkan harga memang menarik arus tamu, tetapi terlalu agresif dapat merusak persepsi nilai.

Karena bicara ekonomi, Ramadan, yang semestinya menjadi momentum memperkuat citra dan loyalitas, justru berisiko berubah menjadi ajang banting harga yang melemahkan posisi merek.

Data industri menunjukkan bahwa Ramadan memang memberi dorongan signifikan pada okupansi restoran hotel.

Tingkat keterisian selama jam berbuka kerap menembus 70 hingga 90 persen, terutama pada pekan-pekan awal puasa dan di hotel bintang empat serta lima. Namun, lonjakan ini tidak selalu berbanding lurus dengan okupansi kamar.

Hunian kamar cenderung bergerak selektif, melihat analisa dan pengalaman kami dalam liputan, maka akan meningkat pada akhir pekan, periode mudik, atau menjelang Idulfitri.

Artinya, Ramadan lebih banyak menjadi momentum konsumsi sosial ketimbang perjalanan wisata. Ini pula yang menjelaskan mengapa paket berbuka puasa untuk komunitas, institusi, dan korporasi tetap menjadi tulang punggung penjualan.

 

Konsumen yang Lebih Selektif

Pola konsumsi selama Ramadan juga mengalami pergeseran. Masyarakat tidak lagi semata mencari kemewahan, melainkan pengalaman yang terasa relevan. Kebersamaan keluarga, kenyamanan ruang, dan nilai yang sepadan dengan harga menjadi pertimbangan utama.

Dalam konteks ini, hotel tidak lagi cukup menjual “kelengkapan menu”. Mereka dituntut menjual makna, pengalaman yang terasa personal di tengah suasana yang serba massal.Barangkali inilah yang sebagian besar mulai dibaca oleh sejumlah manajemen hotel, terutama tim marketing yang berpengalaman.

Media, Influencer, dan Kebisingan Promosi

Di tengah padatnya kompetisi, media dan influencer menjadi alat diferensiasi yang dianggap strategis. Media menghadirkan konteks dan jarak kritis, sementara influencer menawarkan kedekatan emosional dan visualisasi pengalaman.

Namun, ketika hampir semua hotel mengadopsi pola yang sama, efeknya pun menipis.

Linimasa dipenuhi foto buffet, video menu, dan klaim “wajib dicoba”. Tantangan industri bukan lagi soal visibilitas, melainkan relevansi.

Bagaimana membangun narasi yang tidak terdengar seperti iklan, tetapi tetap mampu membedakan diri di tengah kebisingan.

Di balik semua paket dan diskon, pesan yang ingin disampaikan hotel relatif sederhana, Ramadan adalah momen kebersamaan. Hotel ingin hadir sebagai ruang temu,tempat keluarga, kolega, dan komunitas berbagi waktu tanpa harus dipusingkan oleh detail teknis.

Pertanyaannya, apakah pesan itu cukup kuat untuk membedakan satu hotel dari yang lain? Ataukah Ramadan akan kembali menjadi musim yang ramai, menguntungkan, tetapi seragam?

Jawabannya mungkin baru akan terlihat ketika Ramadan berakhir dan industri kembali menghitung bukan hanya pendapatan, tetapi juga makna dari strategi yang dipilih.

Penulis adalah Seorang Jurnalis-Akademisi 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!