Hans Kwee: Lonjakan Harga Saham Tak Otomatis Manipulasi Pasar

0
HANS KWEE

Co-Founder PasarDana, Hans Kwee menegaskan bahwa pergerakan harga saham yang tinggi di pasar domestik tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai praktik manipulasi pasar. Menurutnya, manipulasi pasar harus dibuktikan secara hukum dan tidak bisa disimpulkan hanya dari volatilitas harga.

Hal tersebut disampaikan Hans Kwee dalam kegiatan Edukasi Wartawan secara daring yang membahas dinamika pasar modal dan perlindungan investor, terkait Arah IHSG di Tengah Tensi Geopolitik dan Potensi Bubble AI.

“Manipulasi pasar adalah upaya memengaruhi harga saham agar naik, turun, atau tidak bergerak secara tidak wajar. Namun, definisi tersebut harus dibuktikan secara hukum,” kata Hans.

Praktisi Pasar Modal ini menjelaskan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memperketat penindakan terhadap pelanggaran pasar modal. Sepanjang 2025, OJK menjatuhkan sanksi administratif berupa denda sekitar Rp80 miliar kepada 121 pihak.

Selain itu, regulator juga melakukan pencabutan izin terhadap enam pihak serta menjatuhkan peringatan tertulis kepada puluhan pelaku pasar.

Menurut Hans, langkah tersebut mencerminkan komitmen regulator dalam menjaga integritas dan stabilitas pasar modal nasional.

Terkait saham-saham domestik yang mengalami kenaikan signifikan, Hans menilai sebagian di antaranya didukung oleh kinerja historis yang solid dan prospek pertumbuhan seiring rencana aksi korporasi. Namun, ekspektasi pasar yang terlalu tinggi dapat mendorong valuasi saham berada di level premium.

“Valuasi yang tinggi mencerminkan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang. Jika pasar memberi valuasi tinggi, artinya investor berharap pertumbuhan signifikan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Hans menambahkan, keputusan investasi tidak dapat semata-mata didasarkan pada mahal atau murahnya harga saham. Saham dengan potensi pertumbuhan tinggi, khususnya yang didukung aksi korporasi seperti merger dan akuisisi, berpotensi mencatatkan pertumbuhan agresif, dengan catatan tetap likuid.

Namun, ia mengingatkan bahwa risiko muncul ketika realisasi kinerja tidak sesuai ekspektasi. Dalam kondisi tersebut, investor cenderung melakukan aksi jual dan rebalancing portofolio.

“Tekanan pasar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir lebih dipengaruhi oleh aktivitas rebalancing, terutama ketika pasar Asia melemah, bukan karena memburuknya fundamental,” ucapnya Hans.

Ia menegaskan, secara umum kondisi pasar saham Indonesia masih relatif sehat, dengan pergerakan harga yang mencerminkan penyesuaian ekspektasi dan dinamika pasar regional.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!