Dari Zakat ke Keberlanjutan, Jejak BSI Membangun Desa Mandiri

0
SERTIFIKAT ZAKAT DESA MANDIRI

Foto - HUmas BSI.

Di tengah geliat pembangunan ekonomi nasional, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) terus menegaskan perannya bukan hanya sebagai lembaga keuangan, melainkan sebagai penggerak perubahan sosial. Salah satu inisiatif yang mencuri perhatian adalah program Green Zakat di Desa BSI, sebuah terobosan yang memadukan semangat zakat, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.

Program ini bukan sekadar kegiatan filantropi, tetapi bagian dari strategi besar BSI dalam membangun ekosistem ekonomi umat yang berkeadilan dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi dengan Baznas dan UNDP, BSI menghadirkan model zakat produktif yang mengubah cara pandang masyarakat terhadap potensi zakat—dari sekadar bantuan sosial menjadi investasi sosial jangka panjang.

Program Green Zakat di Desa BSI telah diimplementasikan di dua lokasi, yakni Desa Mattaro Adae dan Kelurahan Barrang Caddi, Sulawesi Selatan. Kedua desa ini sebelumnya menghadapi berbagai tantangan sosial-ekonomi, mulai dari kemiskinan struktural, keterbatasan akses modal, hingga degradasi lingkungan pesisir.

Melalui program ini, BSI melakukan pemberdayaan komunitas rentan dengan pendekatan terintegrasi: pelatihan kewirausahaan, pendampingan usaha, pembiayaan mikro syariah, serta pelestarian lingkungan.
Masyarakat diajak mengelola potensi lokal, seperti hasil laut, pertanian organik, dan olahan pangan, dengan prinsip berkelanjutan.

 

Foto – Humas BSI

Hasilnya mulai tampak kelompok usaha perempuan dan nelayan kecil kini mampu meningkatkan pendapatan, memperluas jaringan pemasaran, dan mengelola usaha secara mandiri. Desa yang dulu pasif kini tumbuh menjadi pusat ekonomi mikro berbasis nilai-nilai Islam dan kepedulian lingkungan.

“Program Green Zakat di Desa BSI adalah wujud nyata upaya kami memberdayakan masyarakat, khususnya komunitas rentan, agar dapat mandiri secara ekonomi dan berkelanjutan,” ujar Bob Tyasika Ananta, Wakil Direktur Utama BSI.

Apresiasi Nasional dan Capaian Nyata.Konsistensi BSI dalam mendorong zakat berkelanjutan mendapat pengakuan luas.Pada ajang ESG Now Awards 2025 yang digelar Harian Republika di Hotel Borobudur Jakarta, BSI meraih Penghargaan Pilar Sosial dalam kategori Empower Vulnerable Community berkat program Green Zakat di Desa BSI.

Penghargaan ini menegaskan bahwa pendekatan zakat produktif yang dikelola dengan tata kelola ESG (Environmental, Social, and Governance) bukan hanya ideal, tetapi terbukti memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Secara institusional, BSI juga menunjukkan kemajuan signifikan dalam penerapan keuangan berkelanjutan.Hingga Juni 2025, total pembiayaan berkelanjutan BSI mencapai Rp72,8 triliun, tumbuh 9,56% dibanding tahun sebelumnya. Dari total tersebut, Rp57,5 triliun dialokasikan untuk pembiayaan sosial, dan Rp15,3 triliun untuk pembiayaan hijau.Atas capaian itu, BSI berhasil menempati peringkat pertama bank syariah global dalam Bloomberg ESG Score edisi Juli 2025.

Menjadikan Syariah Sebagai Jalan Keberlanjutan

BSI meyakini bahwa nilai-nilai keuangan syariah sejatinya selaras dengan prinsip ESG. Syariah tidak hanya berbicara tentang halal-haram, tetapi juga maslahah—kemaslahatan umat dan alam.

Prinsip keadilan, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial yang terkandung dalam maqashid syariah menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan BSI.

“Kami percaya bahwa prinsip-prinsip syariah sangat sejalan dengan prinsip ESG. Karena itu, kami terus berinovasi agar setiap produk dan program kami tidak hanya memberikan keuntungan finansial, tetapi juga dampak positif bagi sosial dan lingkungan,” tegas Bob Tyasika Ananta.

Sebagai bentuk keseriusan, BSI membentuk unit kerja khusus ESG di bawah pengawasan langsung Wakil Direktur Utama untuk memastikan bahwa seluruh lini bisnis, dari pembiayaan hingga program sosial, mengikuti standar keberlanjutan global.

Tak hanya itu, BSI juga aktif menjadi advokat Green Zakat di berbagai forum nasional dan internasional, termasuk di Markas Besar PBB, New York, guna memperkenalkan potensi zakat dan keuangan syariah sebagai alat percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan aksi iklim global.

Dari Dana Zakat ke Kemandirian Ekonomi

BSI telah menyalurkan dana Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) kepada lebih dari 240 ribu penerima manfaat di seluruh Indonesia. Dana tersebut disalurkan melalui lima pilar utama: ekonomi, pendidikan, kemanusiaan, kesehatan, serta dakwah dan advokasi, mencakup lebih dari 3.190 lembaga penerima.

Program Green Zakat menjadi salah satu motor penting dalam pilar ekonomi mendorong masyarakat agar tidak hanya menerima bantuan, tetapi mampu menciptakan nilai tambah dan berdiri di atas kemandiriannya sendiri.

Inisiatif BSI menandai fase baru dalam evolusi zakat di Indonesia. Zakat tidak lagi dipandang sekadar instrumen amal, melainkan instrumen pembangunan berkelanjutan yang menghubungkan spiritualitas, solidaritas sosial, dan ekonomi hijau.

Dengan semangat “Dari Zakat ke Keberlanjutan”, BSI menunjukkan bahwa bank syariah mampu menjadi katalisator perubahan — menjembatani keuangan dengan kemanusiaan, modal dengan nilai, dan kesejahteraan dengan keberlanjutan.

Langkah BSI di Desa BSI adalah permulaan, namun jejaknya telah menjadi inspirasi bahwa ekonomi berkeadilan bukan utopia, melainkan jalan nyata menuju masa depan Indonesia yang mandiri dan berkelanjutan.(Olpah Sari).

Olpah Sari – Jurnalis -Economic Travelling.Com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!