Desa Wisata Bangka Belitung Antara Harapan dan Mengubah Daya Saing
Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Hariyanto saat bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) melakukan kunjungan kerja ke Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tanggal 8 September 2025.(Foto-Dok Biro Komunikasi Kemenpar).
Oleh : Agus Pahlevi
Ada yang menarik dari kunjungan kerja Kementerian Pariwisata bersama DPR RI ke Bangka Belitung awal September 2025. Bukan sekadar agenda formal, kunjungan ini menyentuh langsung denyut kehidupan desa wisata yang selama ini menjadi andalan baru pariwisata Indonesia.
Di Bangka Belitung, desa wisata bukan hanya soal pantai yang memesona atau tradisi budaya yang masih kental, tapi juga tentang harapan masyarakat untuk hidup lebih sejahtera lewat pariwisata berbasis lokal.
Setidaknya kunjungan kawan-kawan ini menjadi spirit terbaik bagi pariwisata disana.Karena sejatinya pemerintah selalu hadir untuk masyarakatnya dan pengembangan sektor pariwisata menjadi denyut ekonominya.
Potensi besar dari desa memang ada benarnya.Desa wisata ibarat magnet baru. Kehadirannya mendorong tumbuhnya usaha kecil mulai dari warung makan, homestay, hingga kerajinan tangan. Bagi masyarakat lokal, ini bukan hanya peluang ekonomi, tapi juga cara melestarikan budaya.
Di satu sisi, desa wisata membuat identitas Bangka Belitung semakin kuat: tidak hanya dikenal sebagai “negeri timah”, tapi juga sebagai rumah bagi tradisi, keramahan, dan pesona alam yang unik.

Tantangan yang Tidak Kecil
Ketika dihadapan dalam sisi ekonomi kehidupan, sesungguh pula meski menjanjikan, pengembangan desa wisata bukan tanpa hambatan.Karena Standar dan klasifikasi desa wisata masih belum jelas.
Hal ini belum lagi dengan persoalan fasilitas dasar seperti jalan, internet, hingga amenitas belum sepenuhnya siap. Kesiapan sumber daya manusia mulai dari pemandu lokal hingga pengelola wisatamasih perlu ditingkatkan.
Belum lagi, persaingan dengan destinasi internasional membuat desa wisata harus punya kualitas layanan yang setara jika ingin bersaing di pasar global.
Kunci Masa Depan: Digital dan Kolaborasi
Di era serba digital, pariwisata desa tak bisa lagi hanya mengandalkan promosi mulut ke mulut. Platform reservasi online, promosi lewat media sosial, hingga pemanfaatan big data bisa menjadi jalan untuk mengangkat nama desa wisata ke panggung nasional dan internasional.
Namun, teknologi saja tidak cukup. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan akademisi menjadi kunci. Tanpa keterlibatan warga, desa wisata bisa kehilangan ruh lokalnya.
Karenanya supporting Kementerian Pariwisata dan perhatian wakil rakyat di Parlemen Senayan memberikan spirit daerah dalam mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan yang menopang sendi perekonomian masyarakatnya terutama di pedesaan.
Menjadi Ekosistem Berkelanjutan
Harapan besar memang digantungkan pada desa wisata. Ia bisa jadi jalan keluar bagi ekonomi lokal, ruang untuk melestarikan budaya, sekaligus model pembangunan yang inklusif. Tetapi, semua itu membutuhkan kerja bersama dan strategi yang jelas.
Bangka Belitung punya modal kuat untuk jadi contoh nasional. Kini tinggal bagaimana potensi itu dikelola agar desa wisata benar-benar menjadi ekosistem berkelanjutan, bukan sekadar label indah di papan nama.
Cahaya dari Timur
Kunjungan ke Bangka Belitung ini menjadi semacam cermin. Bahwa desa wisata bukan hanya tentang potensi alam, tetapi tentang manusia di dalamnya mereka yang menjaga budaya, menyambut wisatawan dengan senyum, dan berharap pada masa depan yang lebih sejahtera.
Desa wisata adalah cahaya kecil dari timur yang jika dijaga dan diperkuat, bisa menyinari pembangunan nasional. Bangka Belitung sudah memberi contoh. Tinggal bagaimana kita, sebagai bangsa, menjaga api itu agar tidak padam.

