Catatan Ringan, Uang Beredar Menguat, Ekonomi Bergerak

0
UANG BEREDAR 2025

Foto - Dok Humas Bank Indonesia.

Oleh : Muhammad Risanta SE MM

Minggu ketiga September 2025, ada kabar bagus tentang perekonomian kita. Perhatian kita adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi kita, seiring pula transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan RI. Secercah harapan masyarakat pun tertuju dengan hadirnya ekonom nasional , Purbaya Yudhi Sadewa yang resmi ditunjuk sebagai Menteri Keuangan.

Setidaknya di minggu ketiga September ini melegakan kita semua.Pertumbuhan likuiditas perekonomian Indonesia kembali menunjukkan tren positif. Data Bank Indonesia mencatat, uang beredar dalam arti luas (M2) pada Agustus 2025 tumbuh 7,6% year on year (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya tumbuh 6,6%. Secara nominal, jumlah M2 mencapai Rp9.657,1 triliun, sebuah angka yang mencerminkan daya dorong besar terhadap perekonomian nasional.

Apa Itu M2 dan Mengapa Penting?

M2 merupakan indikator likuiditas yang paling komprehensif, mencakup uang beredar sempit (M1) seperti uang kartal dan giro, serta uang kuasi seperti tabungan, deposito, dan rekening valuta asing milik swasta domestik. Dengan kata lain, M2 mencerminkan seberapa banyak uang berputar di masyarakat baik yang siap dibelanjakan maupun yang tersimpan di perbankan.

Literatur serta analisa pengamat ekonomi menyebutkan Ketika M2 tumbuh tinggi, hal itu biasanya menandakan dua hal yakni ada peningkatan aktivitas ekonomi karena masyarakat dan dunia usaha memiliki lebih banyak dana untuk dibelanjakan atau diinvestasikan.

Yang kedua adalah terdapat potensi tekanan inflasi, jika pertumbuhan likuiditas tidak diimbangi dengan peningkatan produksi barang dan jasa.

Rincian Pertumbuhan sendiri tergambar dari lonjakan M2pada Agustus 2025 ditopang oleh beberapa komponen kunci seperti :

Uang Beredar Sempit (M1) tumbuh 10,5% yoy, menunjukkan bahwa dana likuid yang siap dipakai—baik untuk konsumsi maupun transaksi—semakin besar. Ini bisa menjadi sinyal menguatnya daya beli masyarakat.

Uang Kuasi juga ikut naik 5,6% yoy, menandakan bahwa tabungan dan deposito tetap tumbuh, meski tidak secepat M1. Artinya, masyarakat masih menyimpan sebagian dananya di perbankan, tapi kecenderungan untuk berbelanja dan bertransaksi mulai lebih dominan.

Uang kuasi  sendiri adalah komponen dari M2 (uang beredar dalam arti luas) yang mencakup simpanan masyarakat di bank yang tidak bisa langsung digunakan untuk transaksi, tetapi bisa dicairkan atau dipindahkan dengan mudah.

Mencermati ini semua berdasarkan analisa sesuai laporan Bank Indonesia faktor pendorong utamanya. Tercatat Ada tiga variabel penting yang menjelaskan mengapa M2 meningkat cukup tajam pada Agustus 2025

Aktiva Luar Negeri Bersih (Net Foreign Assets)
Pertumbuhannya mencapai 10,7% yoy, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 7,3%. Totalnya menembus Rp2.024,9 triliun. Ini menandakan masuknya aliran modal asing, baik melalui investasi portofolio, perdagangan internasional, maupun cadangan devisa. Kondisi ini memperkuat posisi eksternal Indonesia dan mendukung likuiditas domestik.

Penyaluran Kredit
Kredit perbankan tumbuh 7,0% yoy, sedikit lebih tinggi dibandingkan Juli (6,7%). Pertumbuhan kredit menjadi motor penting karena menunjukkan dunia usaha dan rumah tangga lebih aktif meminjam untuk ekspansi usaha, konsumsi, atau investasi.

Tagihan Bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus)
Setelah sempat terkontraksi -6,2% yoy pada Juli, pos ini berbalik tumbuh 5,0% yoy pada Agustus. Artinya, dukungan pembiayaan perbankan terhadap pemerintah meningkat, bisa jadi karena penerbitan SBN (Surat Berharga Negara) yang terserap oleh perbankan.

Sejatinya kenaikan M2 pada Agustus 2025 adalah sinyal positif bahwa likuiditas domestik cukup longgar untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Beberapa poin penting yang bisa kita dicermati:

Konsumsi dan investasi berpotensi meningkat karena pertumbuhan M1 dan kredit yang cukup kuat. Ini sejalan dengan pemulihan ekonomi pasca tekanan global.

Risiko inflasi perlu diwaspadai. Pertumbuhan uang beredar yang cepat harus diimbangi dengan ketersediaan barang dan jasa. Jika tidak, daya beli yang tinggi bisa mendorong kenaikan harga.

Stabilitas sistem keuangan relatif terjaga. Kenaikan aktiva luar negeri bersih menunjukkan fundamental eksternal Indonesia masih kuat, sehingga dapat menopang nilai rupiah.

Secara keseluruhan, M2 yang tumbuh 7,6% pada Agustus 2025 adalah kabar baik bagi perekonomian Indonesia. Kombinasi meningkatnya M1, penyaluran kredit, dan pulihnya pembiayaan pemerintah mencerminkan mesin ekonomi yang bergerak lebih kencang. Namun, tugas utama pemerintah dan otoritas moneter adalah menjaga agar likuiditas yang melimpah tidak justru menimbulkan inflasi berlebihan.

Dengan manajemen yang tepat, momentum ini bisa menjadi bahan bakar bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Penulis adalah Akademisi & Ahli Pers Dewan Pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!