Pesona Malam “Jukung Tanglong” di Sungai Martapura
Menikmati wisata malam di bulan September 2025 di Banjarmasin, dengan Festival Jukung Tanglong. (Foto - Dok Diskominfotik Banjarmasin).
Sungai Martapura kembali menunjukkan pesonanya. Pada 23–24 September 2025, aliran sungai yang menjadi nadi kehidupan warga berubah menjadi panggung indah lewat Festival Jukung Hias Tanglong, salah satu rangkaian Hari Jadi ke-499 Kota Banjarmasin.
Malam itu, suasana tepi sungai penuh warna. Puluhan jukung berhias lampu dan ornamen berlayar perlahan, memantulkan cahaya yang gemerlap di permukaan air. Dari kejauhan, tampak seperti barisan bintang yang bergerak di atas sungai. Ribuan warga dan wisatawan yang hadir terpesona, seakan Banjarmasin sedang merayakan pesta cahaya di negeri dongeng.
Setiap jukung membawa cerita. Ada yang menyerupai rumah adat Banjar, masjid, hingga perahu naga. Warna-warni lampu yang menyala memberi kesan hangat dan menghidupkan kembali tradisi sungai yang sejak lama menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Banjar.
“Indah sekali, rasanya seperti Banjarmasin menyala dari tengah sungai,” tutur Rusnah, seorang pengunjung yang datang bersama keluarganya.
Baginya, festival ini bukan sekadar hiburan, tapi juga momen untuk mengenalkan budaya sungai kepada anak-anak.

Festival Jukung Hias Tanglong bukan hanya parade perahu berhias. Ia menjadi simbol bahwa budaya sungai tetap dijaga, meski zaman terus berubah. Bagi warga Banjar, jukung bukan sekadar sarana transportasi, melainkan bagian dari identitas.
“Festival ini mengingatkan kita semua bahwa sungai adalah jiwa Banjarmasin. Menjaganya berarti menjaga warisan yang akan kita titipkan kepada generasi berikutnya,” ujar Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR.
Wali Kota Yamin menegaskan Festival ini menjadi salah satu rangkaian perayaan Hari Jadi Kota Banjarmasin yang ke-499 tahun. Melalui festival ini diharapkan semakin memperkuat identitas budaya Banjarmasin sekaligus menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara
Festival yang berlangsung dua malam ini berhasil menarik ribuan penonton, termasuk wisatawan dari luar daerah. Jalan-jalan di tepi sungai penuh sesak, suara tawa anak-anak bercampur dengan decak kagum orang dewasa.
Bagi para pedagang kecil, festival ini juga membawa rezeki. Lapak kuliner dan suvenir ramai diserbu pengunjung. Kehadiran festival membuktikan bahwa tradisi bisa berjalan beriringan dengan geliat ekonomi rakyat.
“Festival Jukung Hias Tanglong adalah bagian dari perayaan ulang tahun kota, tetapi maknanya lebih dari sekadar seremonial. Ia adalah cara warga Banjarmasin merayakan identitas, kebersamaan, dan harapan,” tutut Syahriyanto Ruslan, salah satu Jurnalis Banjarmasin yang ikut naik Jukung Tanglong dengan teman seprofesinya.
Hem, Ketika jukung-jukung berhias itu terus melaju di permukaan sungai, suasana terasa hangat. Lampu-lampu yang berpendar seakan membawa doa: semoga sungai tetap lestari, budaya tetap hidup, dan Banjarmasin selalu bersinar dengan harmoni tradisi dan kemajuan.
Malam itu, Sungai Martapura tidak hanya membelah kota. Ia menyatukan warganya dalam keindahan, cahaya, dan kebanggaan.(Muhammad Irfani).

