Berita Itu Tetap Butuh Wartawan!
Redaktur Tempo.co, Mitra Tarigan, dalam Media Gathering Bank Kalsel 2026 di Hotel Platinum Tunjungan, Surabaya, Kamis (3/9/2026).(Foto - Irfani).
Perubahan paling besar dalam dunia jurnalistik mungkin bukan soal teknologi, melainkan soal waktu.
Dulu, wartawan punya cukup ruang untuk mengumpulkan bahan sebelum sebuah berita dibaca publik. Sekarang, ketika sebuah peristiwa baru saja terjadi, informasinya bisa sudah beredar di media sosial bahkan sebelum wartawan tiba di lokasi.
Sebuah kecelakaan, misalnya, cukup direkam menggunakan telepon seluler. Video berdurasi beberapa detik kemudian diunggah ke media sosial.
Tidak lama setelah itu, orang lain mengutipnya, akun lain menyebarkannya, lalu percakapan berkembang ke berbagai grup percakapan. Dalam situasi seperti ini, publik sering kali sudah mengetahui sebuah peristiwa sebelum media sempat memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.
Perubahan kebiasaan masyarakat dalam mendapatkan informasi itu menjadi pembahasan Redaktur Tempo.co, Mitra Tarigan, dalam Media Gathering Bank Kalsel 2026 di Hotel Platinum Tunjungan, Surabaya, Kamis (3/9/2026).
Mitra berbicara di hadapan puluhan jurnalis dan pimpinan media dari Kalimantan Selatan mengenai perubahan lanskap media, kemunculan homeless media dan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pekerjaan jurnalistik.
Menurut dia, media sosial mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki sebagian besar media konvensional. Orang yang berada di tempat kejadian dapat langsung merekam dan menyebarkan informasi tanpa harus menunggu proses redaksi.

Persoalannya muncul ketika informasi tersebut kemudian dianggap sudah cukup untuk menjadi berita.
“Bedanya, mereka berhenti pada konten. Wartawan seharusnya melanjutkan dengan verifikasi, konteks, konfirmasi, dan pertanggungjawaban,” kata Mitra.
Apa yang terlihat dalam sebuah video belum tentu menggambarkan seluruh kejadian. Video kebakaran, misalnya, hanya menunjukkan api yang sedang membesar.
Wartawan masih perlu mencari tahu lokasi persisnya, luas area yang terdampak, penyebab kebakaran, siapa yang menangani, apakah ada korban dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat.
Hal yang sama berlaku pada informasi mengenai kebijakan pemerintah, pernyataan pejabat ataupun persoalan yang melibatkan seseorang. Unggahan di media sosial dapat menjadi petunjuk awal, tetapi tidak semestinya langsung dipindahkan ke dalam naskah berita.
Wartawan perlu mencari sumber pertama, memeriksa dokumen apabila tersedia, menghubungi pihak yang disebut dan memberi kesempatan kepada pihak yang berkepentingan untuk menjelaskan persoalan dari sudut pandangnya.
Proses seperti itu memang membuat kerja jurnalistik tidak selalu menjadi yang tercepat. Tetapi pekerjaan wartawan memang bukan sekadar memindahkan apa yang sudah beredar dari satu platform ke platform lainnya.
Mitra melihat perubahan tersebut sebagai persoalan yang harus dipahami media, bukan sekadar dilawan. Menurutnya, ketika masyarakat sudah terbiasa memperoleh informasi dari media sosial, media profesional harus mempunyai alasan yang jelas mengapa pembaca tetap membutuhkan mereka. Alasan itu berada pada proses kerja jurnalistik.
Perubahan lainnya datang dari penggunaan AI. Sejumlah pekerjaan yang selama ini menyita waktu wartawan mulai dapat dibantu oleh teknologi tersebut.
Transkripsi wawancara menjadi salah satu contohnya. Wawancara yang berlangsung cukup lama dapat diubah menjadi teks dalam waktu relatif singkat.
AI juga dapat membantu menerjemahkan percakapan, merangkum dokumen, mencari informasi awal, mengembangkan gagasan tulisan atau membantu membuat draf.
Bagi redaksi, kemampuan seperti itu tentu menarik karena pekerjaan teknis dapat dilakukan lebih cepat. Namun Mitra mengingatkan bahwa penggunaan AI tidak berarti wartawan dapat menyerahkan seluruh proses penulisan kepada mesin.
“AI bisa membantu mencari, merangkum, atau menyusun informasi. Keputusan terakhir tetap harus berada di tangan manusia,” ujarnya.
Ada alasan yang cukup sederhana. AI bekerja berdasarkan data yang tersedia dan pola yang dipelajarinya. Jika bahan yang digunakan keliru, hasilnya pun bisa keliru. Mesin juga dapat menghasilkan kalimat yang terdengar meyakinkan meskipun informasi di dalamnya tidak sesuai dengan sumber asli.
Karena itu, wartawan tetap harus membuka kembali dokumen sumber, memeriksa kutipan, mencocokkan angka dan memastikan informasi yang digunakan memang benar.
Persoalan yang lebih rumit muncul ketika AI membuat sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada. Kutipan dapat muncul seolah-olah berasal dari narasumber. Sebuah informasi dapat terlihat masuk akal, padahal tidak memiliki sumber yang jelas.
Dalam kondisi seperti itu, wartawan tidak bisa beralasan bahwa kesalahan terjadi karena menggunakan AI. Tanggung jawab tetap berada pada media yang menerbitkan berita.
Mitra juga mengingatkan pentingnya wartawan tetap turun ke lapangan. Wawancara langsung memungkinkan wartawan mengembangkan pertanyaan berdasarkan jawaban narasumber.
Ada informasi yang baru muncul setelah pertanyaan lanjutan diajukan. Ada pula hal-hal kecil yang terlihat ketika wartawan berada langsung di lokasi dan tidak akan ditemukan hanya dengan membaca dokumen atau mencari informasi di internet.
“Turun ke lapangan itu tetap sangat penting. Itu adalah bentuk verifikasi paling mendasar,” tuturnya.

Wartawan Daerah Jangan Kehilangan Keunggulan
Bagi wartawan di daerah, perkembangan teknologi dan perubahan perilaku pembaca tidak harus dilihat sebagai ancaman.
Wartawan lokal mempunyai pengetahuan yang terbentuk dari pengalaman meliput wilayahnya. Mereka mengenal tokoh-tokoh di daerah, mengetahui persoalan yang sudah berlangsung lama, memahami karakter masyarakat dan memiliki jaringan narasumber yang dibangun melalui hubungan bertahun-tahun.
Pengetahuan tersebut menjadi penting ketika sebuah persoalan muncul dan informasi yang beredar di media sosial hanya memperlihatkan permukaannya.
Seorang wartawan yang sudah lama meliput suatu daerah biasanya tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang terjadi. IA bisa mengetahui bahwa persoalan tersebut pernah muncul sebelumnya, mengenali pihak-pihak yang terlibat, atau mengingat kebijakan lama yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Kemampuan seperti ini tidak muncul dari mesin pencari. Tetapi tumbuh dari pekerjaan sehari-hari di lapangan.
Karena itu, perubahan teknologi semestinya membuat wartawan semakin fokus pada pekerjaan yang memang membutuhkan kemampuan manusia untuk mencari fakta, membangun sumber, bertanya, melakukan konfirmasi dan memahami persoalan secara utuh.
Persoalan lain yang dihadapi media adalah tekanan untuk mengikuti apa yang disukai algoritma. Jumlah tayangan dan interaksi menjadi bagian dari ukuran keberhasilan sebuah konten.
Kondisi itu membuat redaksi berhadapan dengan godaan untuk mengejar sesuatu yang sedang viral, meskipun belum tentu memiliki nilai berita yang kuat.
Judul yang berlebihan mungkin mendatangkan pembaca. Berita yang dibuat tergesa-gesa mungkin lebih dulu muncul di mesin pencarian. Namun apabila kesalahan terus terjadi, pembaca akan mempertanyakan kredibilitas media tersebut.
Karena itu sejatinya pekerjaan wartawan berada pada wilayah tersebut. Wartawab pun selalu memeriksa informasi yang diterima, mencari sumber lain, menguji keterangan, kemudian menyusun fakta menjadi berita yang bisa dipahami pembaca.
Itulah sebabnya kehadiran AI dan homeless media tidak serta-merta membuat profesi wartawan kehilangan tempat. Teknologi mungkin mengubah cara wartawan bekerja, tetapi pekerjaan untuk memastikan sebuah informasi benar tetap membutuhkan orang yang bersedia memeriksa fakta dan bertanggung jawab atas berita yang ditulisnya.
Berita tidak lahir hanya dari kamera, algoritma atau mesin penulis. Ada proses jurnalistik yang harus dilalui sebelum sebuah informasi layak disebut berita. Dan proses itu masih membutuhkan wartawan.
Media Gathering Bank Kalsel 2026 turut dihadiri Direktur Operasional Bank Kalsel Iwan, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Kalsel Firmansyah serta Kepala Divisi Konsumer Bank Kalsel Agus Setiawan.
Dalam kegiatan tersebut, Bank Kalsel memberikan penghargaan Influencer Internal Terbaik kepada Muhammad Akhsan dan Muhammad Rizky Affandi atas aktivitas edukasi literasi perbankan melalui kanal digital.
Penghargaan Kantor Cabang Pengelola CSR Terbaik diberikan kepada Bank Kalsel KC Tanjung atas pelaksanaan program sosial di wilayah kerjanya.(Muhammad Irfani).
