Menentukan Laptop dari Pekerjaan, Bukan Sekadar Spesifikasi
Memilih laptop sering kali dimulai dari pertanyaan tentang prosesor, kapasitas RAM, ukuran penyimpanan atau harga. Padahal, bagi sebagian pengguna, spesifikasi tinggi belum tentu menjadi kebutuhan utama.
Yang lebih penting justru sederhana laptop itu akan dipakai untuk pekerjaan apa?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin menguat saat laptop tidak lagi hanya digunakan di ruang kerja. Bagi pekerja yang memiliki mobilitas tinggi, perangkat harus ikut berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengganggu pekerjaan.
Hal itu dirasakan Gusti Frieda Cintya, jurnalis asal Banjarbaru. Dalam pekerjaan jurnalistik, laptop menjadi salah satu perangkat yang digunakan untuk menunjang aktivitas mulai dari menulis naskah, mengolah bahan liputan, membuka dokumen hingga berkomunikasi dengan redaksi.
Menurut Cintya, kebutuhan wartawan terhadap laptop tidak selalu sama dengan pengguna yang bekerja sepenuhnya dari kantor.
“Kalau untuk jurnalis, yang paling terasa itu mobilitas. Kita bisa bekerja dari mana saja. Jadi laptop yang ringan, mudah dibawa dan cepat saat digunakan tentu sangat membantu,” ujarnya.
Pekerjaan jurnalistik juga menuntut wartawan membuka berbagai sumber informasi dalam waktu bersamaan. Ketika sedang menyusun berita, misalnya, laptop digunakan untuk membaca dokumen, mengecek data, menulis naskah hingga mengirimkan hasil liputan.
“Kadang kita harus membuka banyak file sekaligus. Belum lagi kalau ada foto atau bahan pendukung lainnya. Jadi bukan cuma soal laptopnya cepat, tetapi bagaimana perangkat itu bisa mendukung pekerjaan kita,” katanya.
Cintya menilai pengguna sebaiknya tidak terjebak mengejar spesifikasi tertinggi ketika memilih laptop.
Menurutnya, perangkat dengan kemampuan sangat tinggi belum tentu memberikan manfaat maksimal jika pekerjaan yang dilakukan sehari-hari sebenarnya tidak membutuhkan kapasitas sebesar itu.
Sebaliknya, pekerja yang menggunakan aplikasi berat untuk mengolah video, desain atau grafis tentu membutuhkan perangkat dengan kemampuan yang berbeda.
Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan industri laptop yang kini semakin membagi perangkat berdasarkan karakter penggunanya.

Head of Public Relations at ASUS Indonesia, Muhammad Firman, mengatakan kebutuhan pengguna menjadi salah satu pertimbangan dalam menghadirkan berbagai lini laptop.
“Yang pertama harus dilihat adalah kebutuhan pengguna. Apakah laptop digunakan untuk mobilitas, produktivitas, bisnis, membuat konten atau pekerjaan yang membutuhkan performa tinggi. Dari situ baru menentukan spesifikasi yang sesuai,” ujar Firman, di sela-sela kegiatan Media Gathering Asus, di Pontianak, Kamis (03/09/2026).
Untuk kebutuhan bisnis, ASUS menghadirkan ExpertBook, termasuk ExpertBook Ultra yang ditujukan untuk kalangan profesional seperti C-level executive dan business founder.
ExpertBook Ultra mengusung desain tipis dan ringan serta sejumlah fitur yang menunjang pekerjaan profesional. Perangkat tersebut menggunakan layar Tandem OLED, sistem audio enam speaker, haptic touchpad dengan enam sensor serta Intel Core Ultra X7 Series 3.
ASUS juga membekali ExpertBook Ultra dengan sistem pendinginan ExpertCool Pro yang dirancang menjaga kestabilan performa dengan TDP hingga 50W.
Selain performa, aspek kecerdasan buatan atau AI juga mulai menjadi bagian dari pertimbangan dalam memilih laptop.
Kemampuan AI pada perangkat dapat membantu berbagai aktivitas kerja, mulai dari pengolahan informasi, dokumen hingga pekerjaan kreatif dan produktivitas.

Namun, menurut Firman teknologi tersebut tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu pekerjaan.
“Teknologi harus memberikan manfaat yang nyata bagi pengguna. AI menjadi salah satu kemampuan yang semakin penting, tetapi tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan dan cara pengguna memanfaatkan perangkat tersebut,” tambahnya lagi.
ASUS ExpertBook Ultra diposisikan untuk mengungguli laptop flagship kompetito lainnya. Dan terbukti,ia menawarkan kemampuan yang lebih baik dari produk-produk tersebut secara signifikan.
ASUS (2357.TW) adalah pemimpin teknologi inovatif yang menghadirkan solusi AI paling komprehensif di dunia, mencakup Infrastruktur, AI Fisik (Physical AI), PC dan Perangkat AI, serta pengembangan keunggulan berbasis AI (Engineering the AI Advantage). Berlandaskan strategi “Ubiquitous AI. Incredible Possibilities”, ASUS mewujudkan penerapan AI di seluruh spektrum, mulai dari tingkat perusahaan (enterprise) hingga edge. Portofolio ASUS juga mencakup sub-merek ROG dan ProArt yang melayani para gamer dan kreator di seluruh dunia.
Di tahun 2025, ASUS kembali mengukuhkan diri sebagai pemimpin pasar laptop di Indonesia dengan penguasaan pasar lebih dari 30%. Pencapaian tersebut juga menandakan bahwa ASUS telah menjadi pemimpin pasar laptop consumer di Indonesia selama lebih dari satu dekade berturut-turut. (Olpah Sari).
