Demi Haul Guru Sekumpul, Jemaah Ini Menembus Sumatera–Jawa Naik Motor Tua
Abdul Razak disambut hangat petugas saat tiba memasuki kota Jakarta. Di Pos ini ia beristirahat sejenak untuk menempuh perjalanan melintasi daratan Jawa sebelum menyeberang ke Kalsel. (Foto-Dok Pribadi).
Perjalanan panjang ribuan kilometer itu tidak dimulai dari sebuah peta, melainkan dari sebuah tekad. Tekad seorang lelaki bernama Abdul Razak, warga Serdang Bedagai, Sumatera Utara, yang meninggalkan rumahnya hanya dengan satu tujuan, menghadiri Haul Guru Sekumpul, 5 Rajab 1447 H.
Bukan dengan mobil nyaman. Bukan pula dengan rombongan besar. Razak memilih menempuh perjalanan seorang diri, mengandalkan sepeda motor tuanya yang ia modifikasi secukupnya, yang menurutnya “cukup kuat untuk menahan rindu menuju Sekumpul.”
Sudah sebelas hari ia melaju, mengiris daratan pulau demi pulau. Dari Medan, ia memulai perjalanan menuju Pekanbaru, lalu menembus Jambi, Palembang, dan tiba di Lampung sebelum menyeberangi Selat Sunda. Di sepanjang jalan, debu, panas, hujan, dan angin menjadi teman setia. Sesekali ia beristirahat di tepi jalan, sekadar meneguk air atau melemaskan tangan yang mulai pegal.
Di Jambi, langkahnya seolah mendapat energi baru ketika ia sempat menghadiri acara di kawasan Tembilahan,Pembacaan Maulid Simtud Durar oleh Tuan Guru Gusti Nata Dimyati, zuriat dari Tuan Guru Ahmad Dimyati Tembilahan. Momen singkat itu menjadi semacam pengisian ulang batin, Razak merasa perjalanannya diberi tanda bahwa ia berada di jalan yang benar.

Dari Jambi ia bergerak lagi menuju Palembang. Di sana, singgahnya di Rumah Makan Bubuhan Banjar menjadi sebuah oase kecil. Kehangatan sapaan perantau Banjar membuatnya merasa tidak benar-benar sendirian di jalan yang panjang itu.
Setelah menyeberang dari Bakauheni ke Merak, Razak kembali menyalakan motornya dan bergerak menyusuri tanah Pasundan. Hujan kecil menyambutnya di perbukitan Banten, sementara lampu-lampu kota Jakarta menjadi saksi sunyi dari perjalanan spiritualnya yang tak kenal waktu.
Setibanya di jalur Pantura Jawa Tengah, termasuk Pekalongan, Razak merasakan seolah semesta mempermudah langkahnya. Hampir di setiap daerah yang ia lalui, ia disambut oleh warga Banjar di perantauan, mayoritas Jemaah Guru Sekumpul yang memahami betul nilai perjalanannya.
Ada yang mengajaknya makan. Ada yang menawarkan tempat untuk merebahkan punggung. Ada pula yang ikut mengiringi motornya beberapa kilometer, sebagai tanda penghormatan terhadap perjuangannya.


“Ini barakah perjalanan,” ujarnya berkali-kali kepada mereka. “Saya cuma ingin sampai. Allah yang menggerakkan semua kebaikan di jalan.”
Di wajahnya ada gurat lelah, tapi sorot matanya tetap penuh tekad. Motor tuanya berderu pelan, namun tidak pernah menyerah. Setiap meter jalan adalah doa, setiap tikungan adalah ikhtiar, dan setiap dukungan dari orang asing adalah energi baru yang ia simpan dalam hati.
Hingga pada Kamis malam, setelah ribuan kilometer ia taklukkan, Abdul Razak akhirnya tiba di Pekalongan, melanjutkan sisa perjalanan menuju Martapura.
Masih tersisa jarak ratusan kilometer. Masih tersisa hari-hari yang melelahkan.
Namun bagi Razak, jarak bukan halangan. Karena rindu menuju Sekumpul adalah bahan bakar yang tak pernah habis di hatinya.(M.Irfani).
