Kalsel Uji Surfaktan 1.500 Liter untuk Padamkan Karhutla

0
SURFAKTAN

Uji coba Surfaktan menjadi bagian dari penguatan strategi penanganan karhutla, terutama melalui operasi water bombing dengan dukungan sumber air yang disiapkan di sekitar kawasan rawan kebakaran. (Foto - Biro Adpim Kalsel).

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan meningkatkan volume cairan surfaktan menjadi 1.500 liter dalam uji pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui udara.

Langkah ini dilakukan untuk menguji efektivitas campuran surfaktan dan air dalam menekan suhu panas pada titik kebakaran yang sulit dijangkau petugas darat.

Pengujian tahap ketiga tersebut ditinjau langsung Gubernur Kalsel H. Muhidin bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin di Embung Mini, kawasan Jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar, Kamis (29/10/2026).

Uji coba ini menjadi bagian dari penguatan strategi penanganan karhutla, terutama melalui operasi water bombing dengan dukungan sumber air yang disiapkan di sekitar kawasan rawan kebakaran.

Gubernur Muhidin menjelaskan, penambahan volume surfaktan dilakukan secara bertahap berdasarkan evaluasi dua pengujian sebelumnya.

Pada uji pertama, Selasa (20/10/2026), petugas menggunakan 800 liter Surfaktan Pyrox yang dicampurkan dengan air dan dijatuhkan ke titik api di sekitar Guntung Damar.

Evaluasi berikutnya mendorong pemerintah memperdalam embung hingga empat meter dan meningkatkan volume surfaktan menjadi 1.000 liter pada uji kedua, Selasa (27/10/2026). Dalam pengujian ketiga, jumlahnya kembali ditingkatkan menjadi 1.500 liter.

“Ini sudah ketiga kalinya kita melakukan uji coba. Pertama 800 liter, kedua 1.000 liter, dan sekarang 1.500 liter. Kita ingin mengetahui apakah penambahan ini membuat pemadaman lebih efektif,” kata Muhidin.

Efektivitas metode tersebut dipantau melalui pengukuran suhu menggunakan perangkat thermal.

Pemerintah ingin mengetahui sejauh mana campuran surfaktan dan air mampu menurunkan suhu di titik kebakaran setelah penyiraman dari udara.

Pada pengamatan sebelumnya, suhu yang semula mencapai sekitar 300 derajat dilaporkan turun sekitar 100 derajat setelah penyiraman. Pengujian terbaru diharapkan memberikan data pembanding untuk melihat dampak peningkatan volume surfaktan.

“Kita lihat hasilnya melalui pengukuran thermal. Kalau penurunan suhunya lebih besar, berarti metode ini semakin menjanjikan untuk diterapkan pada titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau,” ujarnya.

Muhidin mengatakan, penggunaan surfaktan tidak menggantikan metode pemadaman yang selama ini dilakukan petugas.

Penanganan karhutla tetap mengandalkan operasi darat menggunakan tangki air dan dukungan helikopter untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses.

Dalam skema tersebut, Embung Mini disiapkan sebagai sumber air tambahan agar helikopter dapat melakukan pengisian lebih cepat sebelum menjalankan operasi water bombing. Fasilitas ini diharapkan mendukung pemadaman, khususnya di kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor.

“Kita sudah melakukan pemadaman melalui jalur darat. Untuk lokasi yang tidak bisa dijangkau, kita siapkan embung agar helikopter bisa mengambil air dan melakukan water bombing. Mudah-mudahan metode campuran surfaktan ini efektif,” lanjutnya.

Sebelum meninjau lokasi pengujian, Gubernur Muhidin bersama Pangdam, Kapolda Kalsel Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan, dan jajaran Forkopimda menghadiri penyaluran sekitar 3.500 paket sembako bantuan Presiden di Posko Guntung Damar, Banjarbaru.

Bantuan tersebut disalurkan kepada masyarakat terdampak karhutla, relawan, komunitas ojek online, serta petugas yang menjalankan tugas di posko penanganan kebakaran.

Di tengah penguatan operasi pemadaman, Gubernur juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pencegahan, menurutnya, tetap menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan, karena dampaknya bisa meluas dan menyulitkan upaya pemadaman. Mari bersama-sama menjaga lingkungan agar kebakaran tidak terus berulang,” pungkasnya.

Pengujian surfaktan hingga 1.500 liter kini menjadi salah satu alternatif yang sedang dievaluasi Pemprov Kalsel. Hasil pengukuran suhu dan evaluasi teknis akan menentukan sejauh mana metode tersebut dapat mendukung operasi pemadaman karhutla melalui udara.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!