WAJAH PARIWISATA DALAM BINGKAI KARHUTLA

0
KARYA RISANTA

Hutan Terbakar, Asap Menutup Langit, dan Industri Wisata Kehilangan Napas

Ada pemandangan yang belakangan ini terasa semakin akrab, tetapi sesungguhnya tidak pernah layak dianggap biasa. Langit yang semula biru berubah kelabu.

Matahari tampak seperti bola merah yang tertahan di balik selimut asap. Jalan-jalan penghubung antarkota kehilangan jarak pandang, penerbangan terganggu, sementara warga mulai terbiasa mengenakan masker untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan, musim kering datang bersama persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar berkurangnya curah hujan.

Hutan dan lahan terbakar, gambut mengeluarkan asap yang sulit dikendalikan, dan masyarakat kembali berhadapan dengan ancaman kesehatan.

Di Jawa, api juga merambah kawasan pegunungan dan sejumlah destinasi alam. Kawasan yang selama ini dikenal karena udara sejuk, panorama hijau, dan jalur petualangannya mendadak harus berhadapan dengan situasi darurat.

Bayangkan saja seorang wisatawan yang sudah memesan perjalanan jauh-jauh hari. Tiket pesawat dibeli, hotel dibayar, kendaraan disiapkan, bahkan agenda mengunjungi destinasi unggulan sudah tersusun rapi.

Namun, beberapa hari menjelang keberangkatan, kabar yang diterima justru mengenai kebakaran, kabut asap, pembatasan aktivitas luar ruang, atau gangguan penerbangan. Perjalanan yang semula menjanjikan pengalaman menyenangkan berubah menjadi pertimbangan keselamatan.

Maka bercermin dari ini kita perlu melihat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla dari sudut yang lebih luas. Bencana ini tidak berhenti pada pohon yang hangus, lahan yang menghitam, atau satwa yang kehilangan habitat.

Kita menengok lebih jauh, ada wajah lain yang ikut terdampak yakni pariwisata, ekonomi masyarakat, investasi daerah, hingga kepercayaan wisatawan terhadap sebuah destinasi.

Pariwisata memang sering dipromosikan melalui gambar-gambar indah. Pantai dengan air jernih, hutan tropis yang rimbun, sungai yang membelah permukiman, pegunungan dengan udara segar, serta keramahan masyarakat lokal. Tetapi, bagaimana jika seluruh daya tarik itu harus berhadapan dengan asap dan kerusakan lingkungan?

Pertanyaan ini tidak berlebihan. Sebab, industri pariwisata sesungguhnya sangat bergantung pada satu modal yang sering luput dari perhitungan bisnis yakni kualitas lingkungan.

 

Foto Ilustrasi -Salah seorang wisatawan berinteraksi dengan satwa liar di sebuah destinasi di pulau Jawa. (Foto – Risanta).

Asap yang Menghitung Kerugian Ekonomi

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan gambaran betapa seriusnya persoalan ini. Hingga 24 Oktober 2026, pemantauan BNPB mencatat 13.910 titik panas dengan luas lahan terbakar sekitar 25.409 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 17.942 hektare masih dalam penanganan dan belum sepenuhnya padam.

Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang paling mendapat perhatian, dengan luas terbakar sekitar 13.944 hektare.

Sumatera Selatan tercatat sekitar 3.429 hektare, Kalimantan Barat 2.500 hektare, dan Kalimantan Selatan sekitar 526 hektare.

Sementara itu, kebakaran juga menjalar ke kawasan lain, termasuk sejumlah kawasan pegunungan dan taman nasional di Pulau Jawa.

Angka tersebut bukan sekadar statistik kebencanaan. Karena di dalamnya terdapat cerita tentang hutan yang kehilangan tutupan vegetasi, satwa yang terusir dari habitat, masyarakat yang kehilangan kenyamanan hidup, serta pelaku usaha yang harus menghitung ulang pendapatannya.

Dampak ekonomi pariwisata mulai terlihat jelas di Sumatera Selatan. Pemberitaan Bisnis.com pada 6 Oktober 2026 menyebutkan sejumlah hotel di Palembang mengalami penurunan tingkat hunian hingga 50 persen.

Sedikitnya tujuh general manager hotel melaporkan tekanan tersebut. Dalam lima hari pertama Oktober, 74 penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II juga terdampak kabut asap, mulai dari penundaan hingga pengalihan pendaratan.

Angka ini perlu dibaca secara proporsional. Penurunan okupansi hingga 50 persen merupakan laporan dari sejumlah hotel yang terdampak, bukan gambaran seluruh industri perhotelan Sumatera Selatan.

Namun, justru dari sini terlihat bagaimana gangguan lingkungan dapat merambat ke sektor ekonomi yang kelihatannya tidak berhubungan langsung dengan hutan.

Hotel kehilangan tamu. Agen perjalanan menghadapi pembatalan. Pemandu wisata kehilangan jadwal perjalanan. Sopir kendaraan wisata tidak memperoleh pesanan. Rumah makan, pedagang oleh-oleh, penyedia jasa susur sungai, hingga pelaku UMKM ikut merasakan dampaknya.

Rantai ekonomi pariwisata memang panjang. Satu perjalanan wisata dapat menghidupi banyak orang, mulai dari pengelola destinasi hingga pedagang kecil yang menunggu pembeli di sekitar kawasan wisata.

Ketika wisatawan membatalkan perjalanan, yang hilang bukan sekadar satu kamar hotel atau satu tiket masuk. Ada perputaran uang masyarakat yang ikut terhenti.

Persoalan ini semakin menarik jika dibandingkan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan. Perjalanan wisatawan nusantara ke provinsi tersebut sepanjang Januari-Agustus 2026 tercatat 17,46 juta perjalanan, turun 1,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data tersebut merupakan gambaran kinerja pariwisata secara kumulatif, sehingga tidak seluruh penurunannya dapat langsung dikaitkan dengan karhutla. Meski demikian, kondisi asap pada periode berikutnya memperlihatkan risiko tambahan yang harus diantisipasi industri.

Ada satu pelajaran penting pariwisata tidak bisa dipisahkan dari kondisi alam dan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.

 

Para Tour Guide Kalsel yang tergabung dalam PHPI Kalsel saat mengawal perjalanan rombongan wisatawan ke Pasar Terapung Lok Baintan. (Foto – Reifa HPI Kalsel).

Wisatawan Tidak Bisa Dibujuk dengan Pemandangan Saja

Selama ini, promosi destinasi sering kali lebih sibuk menampilkan keindahan daripada menjelaskan kesiapan pengelolaannya. Foto-foto matahari terbit, hutan hijau, dan panorama pegunungan menjadi materi utama pemasaran.

Tidak salah. Namun, di tengah meningkatnya risiko bencana, wisatawan membutuhkan informasi yang lebih mendasar.

Apakah kawasan aman dikunjungi? Bagaimana kualitas udaranya? Apakah jalur wisata sudah dibuka? Apakah tersedia fasilitas kesehatan, jalur evakuasi, dan petugas tanggap darurat?

Pertanyaan seperti itu semakin relevan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Mereka tidak sekadar membeli pengalaman, tetapi juga mempertimbangkan keamanan dan kepastian selama perjalanan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan mengandung campuran polutan, dengan partikel halus PM2.5 sebagai salah satu ancaman kesehatan utama. Partikel ini berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan mencapai aliran darah. Dampaknya dapat berupa iritasi saluran pernapasan, gangguan jantung dan paru, hingga peningkatan risiko kematian dini.

WHO juga mencatat bahwa sekitar 90 persen massa partikel yang dilepaskan dari kebakaran hutan dapat berupa partikulat berukuran PM2.5 atau lebih kecil.

Artinya, kabut asap bukan persoalan estetika yang membuat pemandangan kurang menarik untuk difoto. Ini persoalan keselamatan manusia.

Karena itu, promosi wisata di tengah kondisi darurat tidak boleh dilakukan dengan menutup-nutupi fakta. Mengatakan destinasi sudah aman hanya karena api tidak terlihat dari jalan utama merupakan pendekatan yang keliru.

Industri pariwisata membutuhkan komunikasi yang jujur. Jika suatu kawasan masih berisiko, sampaikan. Jika hanya sebagian zona yang aman, jelaskan batas wilayahnya. Jika aktivitas luar ruang harus dibatasi, berikan alternatif kegiatan yang masuk akal.

Kepercayaan wisatawan jauh lebih berharga daripada satu kampanye promosi yang dipaksakan.

Hutan Tidak Bisa Pulih Secepat Kalender Promosi

Ada persoalan lain yang sering kurang diperhitungkan, yakni lamanya waktu pemulihan ekosistem setelah kebakaran.

Kita kadang terlalu cepat menganggap kawasan hutan kembali pulih hanya karena beberapa bulan setelah kebakaran mulai terlihat tunas-tunas hijau. Padahal, warna hijau pada permukaan tanah belum tentu menandakan ekosistem telah kembali berfungsi sebagaimana mestinya.

Penelitian ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2024, berjudul Impacts of Fire and Prospects for Recovery in a Tropical Peat Forest Ecosystem, meneliti perubahan ekosistem hutan gambut tropis Indonesia selama 16 tahun.

Hasilnya cukup penting untuk menjadi bahan pertimbangan. Pada kawasan yang terbakar, struktur habitat, kepadatan pohon, dan tutupan kanopi mengalami penurunan sekitar 58 hingga 98 persen dibandingkan kawasan yang tidak terbakar.

Sejumlah indikator vegetasi memang menunjukkan tanda pemulihan dalam rentang 12 tahun, tetapi kebakaran berulang dapat menghambat bahkan membalikkan proses tersebut.

Temuan ini seharusnya mengubah cara kita memandang pemulihan destinasi wisata alam.

Menanam pohon memang penting, tetapi tidak cukup jika tidak disertai pemulihan tata air, perlindungan tanah gambut, pengendalian kebakaran berulang, dan pemulihan habitat satwa. Apalagi untuk destinasi yang menjadikan keanekaragaman hayati sebagai daya tarik utama.

Taman Nasional Tanjung Puting, misalnya, tidak sekadar menawarkan pengalaman menyusuri sungai dan melihat orang utan. Nilai pentingnya terletak pada keseluruhan ekosistem hutan gambut dan keanekaragaman hayati yang menopang kehidupan di dalamnya.

Demikian pula kawasan Gunung Bromo. Daya tariknya tidak hanya berada pada lautan pasir atau panorama matahari terbit. Disana terdapat bentang alam, vegetasi, kehidupan masyarakat Tengger, dan keseimbangan lingkungan yang membuat kawasan itu memiliki karakter tersendiri.

Jika ekosistemnya rusak, yang hilang bukan sekadar objek foto. Identitas destinasi ikut terancam.

Maka, pemulihan pariwisata seharusnya berjalan seiring dengan pemulihan lingkungan. Tidak boleh ada semangat membuka kembali destinasi yang lebih cepat daripada kemampuan alam untuk pulih.

Penulis : Muhammad Risanta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!