Menulis Berita bagi Wartawan Pemula

0
RISANTA MENULIS BAGI WARTAWAN PEMULA

Oleh: Muhammad Risanta

Profesi wartawan selalu memiliki daya tarik tersendiri. Pekerjaan ini menawarkan pengalaman bertemu banyak orang, menyaksikan berbagai peristiwa, menelusuri persoalan, hingga menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat.

Profesi ini menarik karena ada tantangan, tekanan tenggat, dan tentu saja ada kepuasan ketika berita yang ditulis mampu membuka mata publik terhadap sebuah persoalan.

Di era digital, profesi ini semakin diminati generasi muda. Bermunculan wartawan-wartawan baru yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mempercepat kerja jurnalistik.

Kamera ponsel, alat perekam digital, aplikasi penyuntingan, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini menjadi bagian dari keseharian dunia media.

Namun, ada satu keterampilan dasar yang tetap harus dikuasai siapa pun yang ingin menjadi wartawan adalah menulis berita dengan baik, benar, dan bertanggung jawab.

Teknologi boleh semakin canggih, tetapi kemampuan memahami peristiwa, menggali fakta, menyusun informasi, dan menentukan sudut pandang berita tetap membutuhkan pengetahuan serta pertimbangan manusia.

Wartawan tidak cukup hanya pandai menggunakan perangkat digital. Ia harus mampu membedakan fakta dan dugaan, memahami konteks, serta menuliskan informasi secara jernih agar pembaca tidak salah menangkap maksud sebuah peristiwa.

Menulis Sendiri, Menemukan Karakter

Saya cukup sering mendapat pertanyaan dari mahasiswa, penulis, maupun wartawan muda tentang penggunaan AI dalam menulis. Mereka ingin mengetahui apakah tulisan yang dikerjakan sendiri akan berbeda hasilnya dengan tulisan yang dibantu teknologi tersebut.

Menurut saya, perbedaannya tidak semata-mata terletak pada bagus atau tidaknya susunan kalimat. Ada proses berpikir, pengalaman, pengamatan, dan kepekaan yang membentuk karakter seorang penulis.

Semua itu tumbuh melalui kebiasaan membaca, meliput, bertanya, mencatat, dan menulis berulang kali.

Seorang wartawan yang turun langsung ke lapangan mungkin menemukan detail kecil yang luput dari perhatian orang lain. Ia melihat wajah seorang pedagang yang tokonya terendam banjir, mendengar suara warga yang mengeluhkan bantuan terlambat, atau menyaksikan petugas yang bekerja berjam-jam memadamkan kebakaran lahan.

Pengalaman tersebut bukan sekadar bahan tulisan. Di dalamnya terdapat konteks, suasana, dan pemahaman yang diperoleh melalui pengamatan langsung.

AI dapat membantu mengembangkan kerangka tulisan, memperbaiki tata bahasa, atau memberikan alternatif susunan kalimat.

Akan tetapi, teknologi itu tidak boleh dijadikan alasan bagi wartawan untuk berhenti berpikir dan meninggalkan proses peliputan.

 

Saya selalu menyarankan wartawan pemula agar percaya diri dengan karya sendiri. Jangan takut tulisan masih sederhana. Jangan malu jika redaktur memberikan banyak koreksi.

Kemampuan menulis tidak terbentuk dalam satu malam. Kemampuan itu tumbuh dari latihan, kesalahan, kritik, dan kemauan memperbaiki diri.

Bagi saya, AI seharusnya menjadi alat bantu untuk meningkatkan kualitas pekerjaan, bukan pengganti kemampuan jurnalistik.

Wartawan tetap bertanggung jawab atas setiap fakta, kutipan, dan kalimat yang dipublikasikan atas namanya.

Mulailah dari Peristiwa yang Ada di Sekitar

Bagi wartawan pemula, langkah pertama untuk menulis berita sebenarnya cukup sederhana dengan belajar mengenali peristiwa yang layak diberitakan.

Tidak semua kejadian harus menjadi berita. Wartawan perlu menilai apakah sebuah peristiwa memiliki nilai penting bagi masyarakat, mengandung informasi baru, berdampak terhadap kehidupan publik, atau menyangkut kepentingan banyak orang.

Kebakaran pasar, kenaikan harga bahan pokok, kerusakan jalan, prestasi siswa, persoalan pelayanan kesehatan, hingga keluhan warga mengenai distribusi air bersih dapat menjadi bahan berita.

Kuncinya bukan semata-mata pada besar atau kecilnya peristiwa, melainkan pada informasi yang berhasil digali dan manfaatnya bagi pembaca.

Seorang wartawan pemula tidak perlu menunggu peristiwa besar untuk belajar menulis. Mulailah dari lingkungan sekitar. Amati persoalan di pasar, sekolah, kampus, kantor pelayanan publik, atau permukiman warga.

Dari sana, belajar menemukan masalah, mencari sumber informasi, dan memahami kepentingan masyarakat.

Setelah menemukan topik, wartawan harus mengumpulkan fakta. Datangi lokasi jika memungkinkan, amati situasi, catat waktu kejadian, dokumentasikan informasi yang relevan, dan wawancarai orang yang mengetahui persoalan tersebut.

Jangan terburu-buru menulis hanya karena ingin menjadi yang pertama menayangkan berita.

Kecepatan memang penting dalam dunia jurnalistik, tetapi ketepatan jauh lebih mendasar. Berita yang cepat tetapi keliru dapat merugikan orang lain dan merusak kepercayaan pembaca.

 

Foto Ilustrasi – Udara tercemar dan kabut asap adalah salah satu bahan tulisan yang diangkat dalam tulisan peliputan – (Dok Economic Travelling.Com.)

Kenali Rumus Dasar 5W+1H

Dalam jurnalistik, wartawan pemula perlu memahami rumus 5W+1H. Rumus ini membantu reporter memastikan bahwa informasi yang dikumpulkan cukup lengkap untuk menjelaskan sebuah peristiwa.

What — Apa: Peristiwa apa yang terjadi?

Who — Siapa: Siapa yang terlibat atau terdampak?

Where — Di mana: Di mana peristiwa berlangsung?

When — Kapan: Kapan peristiwa terjadi?

Why — Mengapa: Apa penyebab atau latar belakangnya?

How — Bagaimana: Bagaimana peristiwa itu berlangsung?

Misalnya, seorang wartawan meliput kebakaran pasar. Ia tidak cukup hanya menulis bahwa api menghanguskan sejumlah kios.

Ia perlu memastikan lokasi kejadian, waktu kebakaran, jumlah kios terdampak, kondisi korban jika ada, keterangan petugas, serta penyebab kebakaran apabila telah diketahui secara resmi.

Jangan menulis dugaan sebagai fakta. Jika penyebab kebakaran masih diselidiki, sampaikan bahwa penyelidikan masih berlangsung. Hindari menyimpulkan bahwa kebakaran disebabkan korsleting listrik hanya karena ada warga yang menduga demikian.

Rumus 5W+1H bukan sekadar daftar pertanyaan untuk memenuhi kelengkapan berita. Rumus ini merupakan alat untuk menguji apakah informasi yang disampaikan kepada masyarakat sudah memadai dan dapat dipertanggungjawabkan.

Menulis dengan Pola Piramida Terbalik

Setelah bahan liputan terkumpul, langkah berikutnya adalah menyusun berita. Dalam penulisan berita langsung atau straight news, wartawan umumnya menggunakan pola piramida terbalik. Informasi terpenting ditempatkan di bagian awal, kemudian diikuti penjelasan dan detail pendukung.

Struktur berita biasanya terdiri atas judul, teras berita atau lead, dan tubuh berita atau body.

Teras berita menjadi bagian yang sangat penting karena pembaca biasanya ingin segera mengetahui inti peristiwa. Karena itu, paragraf pembuka harus menyampaikan informasi utama dengan bahasa yang ringkas, jelas, dan mudah dipahami.

Sebagai contoh, jika terjadi kebakaran di sebuah pasar, teras berita dapat ditulis seperti ini:

Sebanyak 20 kios di Pasar X, Banjarmasin, terbakar pada Minggu pagi. Petugas pemadam kebakaran masih melakukan pendinginan setelah api berhasil dikendalikan.

Angka, nama lokasi, dan keterangan dalam contoh tersebut tentu harus disesuaikan dengan fakta yang benar-benar diperoleh reporter. Contoh itu memperlihatkan bagaimana inti peristiwa dapat disampaikan secara langsung tanpa berputar-putar.

Paragraf berikutnya menjelaskan kronologi, keterangan saksi, informasi dari petugas, dampak kejadian, serta perkembangan penanganan. Susun informasi berdasarkan tingkat kepentingannya. Jangan justru membuka berita dengan daftar pejabat yang menghadiri sebuah kegiatan, sementara inti persoalan baru muncul pada paragraf kelima.

Saya cukup sering menemukan berita acara seremonial yang lebih sibuk menyebutkan nama dan jabatan para undangan daripada menjelaskan hal penting yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Padahal, pembaca membutuhkan informasi mengenai keputusan, manfaat, dampak, atau persoalan yang dibahas.

Wartawan perlu membiasakan diri bertanya: Apa informasi paling penting yang harus diketahui pembaca? Jawaban atas pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi dasar penyusunan teras berita.

Kalimat Jernih Lebih Penting daripada Kalimat Rumit

Kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula adalah berusaha membuat tulisan terdengar hebat dengan kalimat panjang, istilah rumit, dan ungkapan berlebihan. Akibatnya, berita menjadi sulit dipahami.

Padahal, kekuatan berita terletak pada kejelasan informasi. Gunakan kalimat aktif, pilih kata yang tepat, dan hindari pengulangan yang tidak diperlukan. Setiap paragraf harus mempunyai fungsi yang jelas.

Perhatikan pula penggunaan tanda baca, terutama koma. Penempatan koma yang keliru dapat mengubah makna kalimat atau membuat pembaca kesulitan memahami hubungan antarinformasi. Nama orang, jabatan, angka, tanggal, lokasi, dan kutipan harus diperiksa sebelum berita dikirimkan ke redaksi.

Wartawan juga perlu membiasakan diri merekam wawancara, membuat catatan, dan memeriksa kembali pernyataan narasumber. Ingatan manusia terbatas. Satu kata yang terlewat dapat mengubah arti sebuah pernyataan.

Misalnya, kalimat “Polisi belum akan memeriksa saksi” berbeda makna dengan “Polisi tidak akan memeriksa saksi”. Kata belum menunjukkan sesuatu yang mungkin dilakukan kemudian, sedangkan tidak menyampaikan penolakan atau ketiadaan tindakan. Karena itu, jika pernyataan narasumber kurang jelas, tanyakan kembali. Jangan menebak maksudnya.

Dalam berita kriminal, misalnya, pembaca perlu mengetahui siapa yang diduga melakukan tindak pidana, siapa yang menjadi korban, dan apa yang diduga terjadi atau diambil. Namun, wartawan harus tetap berhati-hati menggunakan istilah hukum dan tidak menyatakan seseorang bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Menulis berita bukan perlombaan membuat kalimat paling indah. Tugas utama wartawan adalah menyampaikan fakta dengan bahasa yang dapat dipahami pembaca.

*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Ahli Pers Dewan Pers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!