Lima Tahun Economic Travelling Di Antara Doa dan Empati

0
ULANG TAHUN KE-5 ECONOMIC TRAVELLING.COM

Dari sebuah percakapan sederhana di Jakarta, sebuah media lahir dengan mimpi menjelajah ekonomi dan pariwisata.

Lima tahun kemudian, perjalanan itu tidak semata tentang berita, pertumbuhan, dan eksistensi di tengah perubahan teknologi, melainkan tentang bagaimana sebuah media menjaga nurani, merawat kepedulian, dan tetap hadir ketika masyarakat membutuhkan suara serta uluran tangan.

Oleh: Muhammad Risanta

Founder EconomicTravelling.com

29 September 2021. Sebuah tanggal yang mungkin tidak pernah kami bayangkan akan menjadi penanda perjalanan panjang sebuah media. Kala itu, dunia baru saja berusaha bangkit dari pandemi Covid-19.

Banyak usaha terpuruk, industri pariwisata masih merangkak, dan industri media menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Namun, di sebuah kafe di Jakarta, sebuah percakapan sederhana justru melahirkan gagasan yang kelak tumbuh menjadi EconomicTravelling.com.

Saya masih mengingat suasana diskusi itu. Ada Olpah Sari, Badru Zamal dari Jakarta, Lalu Rahmat Junaedi dari Lombok, Juanda dari Bogor, serta Amoy dari Depok.

Kami memiliki latar belakang yang beririsan, sama-sama mengenal dunia jurnalistik dan pernah menjadi bagian dari ekosistem kontributor televisi swasta nasional.

Semula, gagasan kami sederhana yakni membangun sebuah media online yang menghimpun para kontributor televisi swasta, menjadi rumah bersama bagi karya jurnalistik, sekaligus ruang kolaborasi yang memungkinkan setiap orang berkembang.

Namun, gagasan itu kemudian bergerak ke arah berbeda. Masing-masing memiliki pemikiran untuk membangun media sendiri, dengan tetap menjaga hubungan dan semangat kolaborasi.

Dari percakapan itulah saya bersama Olpah Sari memutuskan mendirikan sebuah media online yang memiliki perhatian khusus pada ekonomi dan pariwisata.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Kami sama-sama menyukai dunia perjalanan, mengenal denyut industri pariwisata, dan menjadi bagian dari kepengurusan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI).

 

Indonesia Travel Mart 2023 di Jakarta,salah satu kegiatan yang diikuti Jurnalis Kalsel, dan Economic Travelling.Com . (Foto – Risanta).

Kami percaya, ekonomi dan pariwisata memiliki hubungan yang jauh lebih luas daripada sekadar angka transaksi, tingkat kunjungan, atau pertumbuhan industri.

Ada manusia yang bekerja, keluarga yang menggantungkan hidup, pelaku UMKM yang berjuang mempertahankan usaha, serta masyarakat lokal yang berharap pembangunan membuka kesempatan hidup lebih baik.

Maka, pada 29 September 2021, EconomicTravelling.com resmi hadir.

Tak lama setelah kelahirannya, media ini dipercaya menjadi salah satu media partner dalam perhelatan nasional South Kalimantan Travel Mart. Sebuah kepercayaan yang terasa istimewa bagi media yang bahkan belum genap berusia sebulan.

Tulisan-tulisan para wartawan yang dikelola Olpah Sari mulai hadir, menyuguhkan warna berbeda dalam pemberitaan ekonomi dan pariwisata.

Kami tidak ingin sekadar menambah jumlah media online di tengah derasnya arus informasi. Kami ingin menghadirkan perspektif, memberi ruang bagi cerita yang kerap terlewat, serta menjadikan perjalanan sebagai pintu masuk untuk memahami kehidupan dan ekonomi masyarakat.

Kini, lima tahun telah berlalu.

Lima tahun mungkin bukan usia yang panjang dalam sejarah industri media. Namun, bagi sebuah media yang tumbuh dari percakapan kecil, melewati ketidakpastian pascapandemi, dan berusaha bertahan di tengah perubahan lanskap digital, lima tahun adalah perjalanan yang layak disyukuri.

Membangun media online bukan pekerjaan yang selesai ketika sebuah domain aktif dan berita pertama dipublikasikan.

Ada pekerjaan panjang yang tidak selalu terlihat pembaca yaitu menjaga keberlangsungan operasional, mengelola redaksi, membangun jaringan kontributor, merawat kepercayaan, dan memastikan setiap tulisan memiliki alasan untuk dibaca.

Lima tahun adalah perjalanan belajar tentang kemandirian, kredibilitas, dan eksistensi. Kami berhadapan dengan perubahan algoritma, pergeseran perilaku pembaca, kompetisi perhatian, hingga kehadiran kecerdasan buatan yang mengubah cara informasi diproduksi dan dikonsumsi.

Namun, bagi kami, tantangan terbesar media bukan semata bagaimana sebuah berita mendapatkan banyak pembaca, melainkan bagaimana mempertahankan kepercayaan mereka.

Di tengah banjir informasi, media tidak cukup hanya cepat. Ia harus cermat. Tidak cukup hanya hadir, tetapi harus memiliki keberpihakan pada kepentingan publik, tanpa kehilangan independensi dan tanggung jawab jurnalistik.

Kami menyadari, membangun media adalah pekerjaan panjang yang membutuhkan kesabaran. Ada hari ketika berita dibaca banyak orang, demikian pula tulisan yang berjalan sunyi.

Ada harapan yang tumbuh, ada rencana yang harus ditunda. Tetapi setiap perjalanan selalu mengajarkan bahwa keberlanjutan tidak dibangun dari satu momentum besar, melainkan dari ketekunan menjaga hal-hal kecil.

Lima tahun Economic Travelling adalah kumpulan dari semua itu.

 

Olpah Sari  menjadi Juara Pertama Kompetisi menulis nasional bersama Indosat. Anugerah ini diserahkan langsung oleh Swandi Tjia (EVP Head of Circle Kalisumapa) dan Eni Nur Ifati (VP Head of External Communications). (Foto – Nina Soraya).

Saat Ekonomi Bertemu Empati

Sejak awal, Economic Travelling tidak ingin memandang ekonomi hanya dari ruang rapat, laporan keuangan, grafik pertumbuhan, atau pernyataan pejabat. Kami ingin mendekatkan ekonomi kepada kehidupan manusia.

Sebab, ekonomi yang sesungguhnya dapat ditemukan di pasar tradisional, warung kecil, rumah produksi UMKM, pelabuhan, desa wisata, hingga wajah seorang pedagang yang tetap membuka lapak meski pembeli belum tentu datang.

Kami percaya, cerita tentang UMKM bukan sekadar berita usaha kecil. Di dalamnya ada ketahanan keluarga, pendidikan anak, harapan tentang masa depan, dan keberanian seseorang untuk terus berdiri di tengah keterbatasan.

Karena itu, perhatian terhadap peningkatan kemampuan UMKM, pengembangan pariwisata, dan pemberitaan ekonomi dari sudut pandang yang lebih manusiawi menjadi bagian dari perjalanan editorial kami.

Pariwisata pun kami pandang lebih luas daripada destinasi, hotel, tiket perjalanan, atau jumlah wisatawan. Pariwisata adalah perjumpaan manusia dengan kebudayaan, alam, dan kehidupan masyarakat yang menjadi tuan rumah.

Sebuah perjalanan seharusnya membuat kita lebih mengenal Indonesia, sekaligus lebih memahami persoalan yang dihadapi masyarakatnya.

Smart Journey, Insightful Economy.

Semboyan itu bukan sekadar rangkaian kata. Ini menjadi pengingat bahwa perjalanan harus melahirkan wawasan, sementara pemberitaan ekonomi harus membawa pemahaman yang lebih dalam.

Di Antara Asap Karhutla dan Duka KM Virgo Transport 8

Ada masa ketika pekerjaan jurnalistik mengajak kami keluar dari ruang redaksi, meninggalkan kenyamanan meja kerja, dan berhadapan langsung dengan kenyataan yang tidak selalu mudah disaksikan.

Pekatnya asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan menjadi salah satu pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak pernah berhenti sebagai angka luasan lahan terbakar atau jumlah titik panas.

Di balik kabut asap, kami merasakan ada masyarakat yang kesulitan bernapas, relawan yang bekerja dalam keterbatasan, serta keluarga yang harus menghadapi gangguan kesehatan dan aktivitas sehari-hari.

Economic Travelling berusaha mengambil bagian dalam kepedulian itu. Bukan semata melalui pemberitaan, melainkan juga dengan hadir di lapangan, menyapa mereka yang terdampak, dan berbagi bersama para relawan.

Kami menyadari, sebuah media mungkin tidak mampu memadamkan seluruh api. Namun, media dapat membantu menghadirkan perhatian, menghubungkan kepedulian, dan mengingatkan bahwa penderitaan masyarakat tidak boleh berlalu begitu saja setelah sorotan kamera berpindah.

Pengalaman lain yang meninggalkan jejak mendalam adalah tragedi terbalik dan tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa.

Di tengah operasi pencarian dan pertolongan, kami menyaksikan bagaimana sebuah kecelakaan kapal bukan sekadar peristiwa yang dihitung melalui jumlah penumpang, korban selamat, korban meninggal dunia, dan mereka yang masih dalam pencarian.

Ada keluarga yang menunggu kabar dengan mata lelah. Di sana terdapat  orang tua yang menggenggam harapan. Ada saudara yang berusaha tegar meski informasi yang diterima belum memberikan kepastian. Ada pula para petugas SAR dan relawan yang terus bekerja di tengah kondisi laut yang tidak mudah dan tak bersahabat.

Berita tentang tragedi itu membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan perkembangan operasi SAR.

Kami harus menjaga akurasi, menghormati keluarga korban, dan tidak menjadikan duka sebagai komoditas untuk mengejar perhatian pembaca.

Sebab, di balik setiap angka korban, ada nama, wajah, keluarga, dan kehidupan yang tidak akan pernah sama lagi.

Dalam suasana seperti itu, doa menjadi bahasa yang paling jujur ketika kata-kata terasa tidak cukup. Empati menjadi sikap yang harus terus dijaga, bahkan setelah berita terakhir dipublikasikan.

Kami turut berduka sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga korban KM Virgo Transport 8. Semoga mereka yang telah berpulang mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, sementara keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.

Peristiwa ini kembali mengingatkan kami bahwa jurnalisme bukan semata pekerjaan menyampaikan apa yang terjadi. Tetapi juga merupakan tanggung jawab untuk memperlakukan manusia dengan martabat.

 

Salah satu wartawan Economic Travelling.Com, Olpah Sari menorehkan prestasi menjuarai Lomba Karya Jurnalistik di Tahun 2023. Olpah Sari juga adalah Pemimpin Umum media online ini,

Lima Tahun, Sebuah Janji yang Diperbarui

Bagi Economic Travelling, usia lima tahun bukan garis akhir untuk merayakan keberhasilan. Justru ini menjadi ruang untuk bercermin, mengevaluasi perjalanan, dan memperbarui janji kepada pembaca.

Kami ingin terus bertumbuh sebagai media ekonomi dan pariwisata yang adaptif terhadap perubahan, tanpa kehilangan karakter jurnalistik. Teknologi boleh berubah, kecerdasan buatan boleh berkembang, dan pola konsumsi informasi boleh bergeser, tetapi integritas, verifikasi, dan empati harus tetap menjadi fondasi.

Kami juga menyadari bahwa perjalanan ini tidak pernah menjadi milik pendiri semata.

Ada Olpah Sari yang mengelola dan menjaga denyut redaksi. Ada para wartawan, kontributor, mitra, narasumber, sahabat, serta pembaca yang telah memberikan kepercayaan dan ruang bagi Economic Travelling untuk terus tumbuh.

Kepada seluruh pihak yang pernah menjadi bagian dari perjalanan ini, kami menyampaikan terima kasih.

Kepada pembaca yang tetap membuka halaman-halaman kami, membagikan tulisan, memberikan kritik, bahkan mengingatkan ketika ada kekurangan, kepercayaan Anda adalah amanah yang harus dijaga.

Dan kepada seluruh sahabat yang dahulu duduk dalam diskusi sederhana di Jakarta, mungkin kita tidak pernah benar-benar mengetahui ke mana sebuah gagasan akan membawa perjalanan masing-masing. Namun, lima tahun kemudian, kita memiliki satu alasan untuk tersenyum sebuah percakapan telah melahirkan sesuatu yang terus bergerak.

Kami tidak ingin mengukur perjalanan ini semata dari seberapa jauh nama media dikenal, seberapa banyak berita dipublikasikan, atau seberapa tinggi angka kunjungan pembaca.

Kami ingin mengingatnya dari berapa banyak cerita yang berhasil diberi ruang, berapa banyak persoalan yang ikut disuarakan, dan seberapa jauh kehadiran kami dapat memberi manfaat bagi sesama.

Sebab, media yang baik tidak hanya mengabarkan dunia yang sedang berubah. Media juga harus memiliki keberanian untuk mendengar, memahami, dan merawat kemanusiaan di dalamnya.

Lima tahun ini adalah perjalanan di antara doa dan empati. Sebuah perjalanan yang mengajarkan kami bahwa berita boleh selesai dibaca, tetapi kepedulian tidak boleh berhenti.

Selamat Milad ke-5 EconomicTravelling.com.

Terus menjelajah, terus memberi makna. Sebab, setiap perjalanan memiliki cerita, dan setiap cerita selalu menyimpan kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!