Selamat dari Virgo, Enam Penyintas Masih Berjuang Pulihkan Trauma

0
KORBAN TRAUMA UTAMA

Psikolog TNI AL, Letda Laut (KH/W) Graciella Florence Kusila, dari Dinas Psikologi TNI AL Surabaya memberikan spirit kepada para penyintas selamat melalui terapi trauma healing. (Foto - Olpah Sari).

Laut sudah mereka tinggalkan. Namun bagi enam penyintas atau korban selamat KM Virgo Transport 8, kejadian yang dialami di tengah laut itu belum benar-benar selesai.

Mereka kini berada di Hotel Citra Banjarmasin. Di tempat ini, para penyintas mendapat pendampingan psikologis dari TNI Angkatan Laut untuk membantu memulihkan kondisi mereka setelah selamat dari musibah.

Pendampingan dilakukan psikolog TNI AL, Letda Laut (KH/W) Graciella Florence Kusila, dari Dinas Psikologi TNI AL Surabaya, Minggu (27/9/2026).

Satu per satu penyintas diajak berbicara. Mereka diberi kesempatan menceritakan apa yang dialami, termasuk rasa takut dan kekhawatiran yang masih terbawa setelah kejadian.

Palaksa Lanal Banjarmasin Mayor Laut (P) Mohamad Rifan mengatakan, kegiatan trauma healing tersebut bukan kali pertama dilakukan. Pendampingan sudah beberapa kali diberikan, baik kepada penyintas maupun keluarga korban.

“Kita melaksanakan perintah dari Danlanal Banjarmasin. Pada pagi ini sebenarnya bukan kesempatan yang pertama kali, tetapi sudah beberapa kali kita laksanakan trauma healing bagi para korban maupun keluarga korban untuk mengurangi beban pikiran mereka,” kata Rifan kepada awak media.

 

Palaksa Lanal Banjarmasin Mayor Laut (P) Mohamad Rifan memberikan keterangan kepada awak media. (Foto – Olpah Sari).

Menurut Rifan, perhatian terhadap korban tidak berhenti setelah mereka berhasil diselamatkan. Kondisi psikologis para penyintas juga menjadi bagian dari penanganan pascamusibah.

Enam penyintas yang saat ini berada di Hotel Citra berasal dari Palembang dan Nusa Tenggara Timur. Sebagian dari mereka datang ke Kalimantan dengan tujuan mencari pekerjaan.

Empat orang di antaranya merupakan pencari kerja yang hendak menuju Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Mereka berharap mendapatkan pekerjaan di sektor perkebunan kelapa sawit.

Harapan itu pula yang membuat mereka berangkat ke Kalimantan. Namun perjalanan mencari pekerjaan tersebut berubah menjadi pengalaman yang tidak pernah mereka bayangkan.

Rifan mengatakan Lanal Banjarmasin akan tetap menjaga komunikasi dengan para penyintas. Ia juga akan menyampaikan kondisi mereka kepada pimpinan, termasuk mengenai harapan mendapatkan pekerjaan.

“Besar harapan mereka mendapat pekerjaan saat berangkat ke Kalimantan ini. Saya akan laporkan kepada atasan secara berjenjang. Sekalipun nanti mereka pulang dulu ke daerah masing-masing, kita tetap jaga kontak,” ujarnya.

Masih Menunggu Anak Yang Hilang

Bagi Heru Pratono, salah satu penyintas Palembang, selamat dari musibah belum berarti semua persoalan selesai. Ada satu orang yang masih ia tunggu.Anaknya yang ikut perjalanan mengadu nasib ke Kalimantan, hingga kini belum ditemukan.

Hal itu membuat Heru masih sulit menghilangkan rasa cemas. Ia mengaku trauma dengan kejadian yang dialaminya.

“Saya sedih mengingat anak saya, sudah saya ajak bangun dan lari saat mendengar kapal miring.Namun pegangan saya terlepas, dia merosot ke sisi badan kapal yang lain dan tak bisa saya raih.Saya sendiri berhasil menyelamatkan diri setelah berada di anjungan kapal yang terbalik bersama 11 penumpang lainnya,” tuturnya pelan menahan sedih.

 

Heru Pratono memperlihatkan foto anaknya yang menjadi penumpang yang hilang dalam tragedi Kapal Virgo Transport 8. (Foto – Olpah Sari).

Ia pun berusaha menahan kecemasan dan kesedihan, dengan selalu berdoa disamping mengunjungi Posko SAR di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Pendampingan yang diberikan psikolog TNI AL setidaknya membuat perasaannya sedikit lebih tenang.

“Ya, Alhamdulillah merasa tenang. Setidaknya ini mengurangi kesedihan dan membuat kami bangkit,” ujarnya.

Lanal Banjarmasin menyatakan pendampingan terhadap penyintas dan keluarga korban akan terus dilakukan. Dukungan itu menjadi bagian dari penanganan setelah musibah, ketika mereka yang selamat harus kembali menjalani kehidupan dengan membawa pengalaman yang tidak mudah dilupakan.

Bagi Heru dan para penyintas lainnya, selamat dari laut adalah satu bagian dari perjalanan. Setelah itu, masih ada keluarga yang menunggu, orang-orang yang belum ditemukan, serta kehidupan yang harus kembali mereka jalani.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!