Religi Expo dan Mooncake, Merawat Banjarmasin

0
MERAWAT KEBERSAMAAN UTAMA

Kebersamaan Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR dengan sejumlah anak dan remaja yang mengisi acara dengan latar belakang keberagaman. (Foto - Media Center Banjarmasin).

Sebuah kota tidak dibangun hanya dengan jalan, jembatan, gedung, pasar atau pusat perdagangan. Ada sesuatu yang jauh lebih lunak, tetapi menentukan apakah sebuah kota bisa tumbuh dengan tenang dan cara warganya hidup bersama.

Banjarmasin memiliki cerita panjang tentang itu.

Kota yang tumbuh di tepian sungai ini dihuni masyarakat dengan beragam keyakinan, etnis, budaya dan tradisi. Perbedaan tersebut bukan sesuatu yang datang belakangan. Ia tumbuh bersama perjalanan kota, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Semangat merawat keberagaman itu kembali terlihat dalam pembukaan Religi Expo ke-11 Tahun 2026 yang dirangkai dengan Festival Mooncake, Jumat (25/9/2026).

Dua kegiatan dengan latar tradisi berbeda dipertemukan dalam satu ruang. Religi Expo yang digagas Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Kota Banjarmasin) mengangkat tema “Merakit: Menjaga Ragam Keyakinan dan Ikatan Tradisi”.

Sementara Festival Mooncake yang digelar Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kalimantan Selatan membawa tema “PSMTI Kalsel Berduka dan Peduli: Doa untuk Negeri.”

Kegiatan dibuka langsung Wali Kota Banjarmasin H M Yamin HR. Setelah membuka acara, Yamin bersama jajaran terkait menyempatkan diri meninjau sejumlah stan yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Namun, yang menarik dari pertemuan kedua agenda tersebut bukan sekadar kemeriahan acara.

Ada pesan sosial yang lebih besar: bagaimana perbedaan tetap memiliki ruang untuk hadir, saling menghormati dan berjalan berdampingan dalam kehidupan sebuah kota.

Yamin memberikan apresiasi kepada LK3 Kota Banjarmasin yang konsisten menghadirkan Religi Expo hingga memasuki penyelenggaraan ke-11. Apresiasi yang sama disampaikan kepada PSMTI Kalimantan Selatan yang menghadirkan Festival Mooncake.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran LK3 Kota Banjarmasin yang kembali menghadirkan Religi Expo untuk ke-11 kalinya, serta kepada jajaran PSMTI Kalimantan Selatan yang turut menggelar Festival Mooncake,” ujar Yamin.

Bagi Yamin, kedua kegiatan memang memiliki bentuk dan latar yang berbeda. Religi Expo berbicara mengenai keberagaman keyakinan dan tradisi, sementara Festival Mooncake berangkat dari tradisi budaya masyarakat Tionghoa.

Tetapi keduanya bertemu pada satu nilai yang sama yakni kebersamaan.

“Memang kedua kegiatan ini memiliki latar dan bentuk event yang berbeda, namun bertemu dalam semangat yang sama, yaitu memperkuat kebersamaan, kepedulian dan persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat,” tuturnya.

Pesan itu menjadi semakin relevan karena Festival Mooncake tahun ini tidak ditempatkan semata sebagai perayaan budaya.

Tema “PSMTI Kalsel Berduka dan Peduli: Doa untuk Negeri” membawa suasana reflektif. Tradisi tidak berhenti sebagai simbol budaya, tetapi menjadi ruang untuk menyampaikan empati dan kepedulian terhadap sesama serta kondisi bangsa.

Sementara Religi Expo mengajak masyarakat melihat keberagaman sebagai bagian dari kehidupan Banjarmasin. Keduanya seperti dua pintu yang berbeda, tetapi menuju ruang yang sama, ruang perjumpaan masyarakat.

Lampion dan Doa di Sungai Martapura

Malam harinya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kirab lampion dan larung lampion teratai di Sungai Martapura.

Sungai yang selama berabad-abad menjadi urat nadi kehidupan Banjarmasin itu kembali menjadi ruang simbolik bagi masyarakat untuk menitipkan doa dan harapan.

Lampion-lampion yang bergerak di atas air bukan semata soal cahaya.

Ada doa dan harapan di sana, termasuk pesan bahwa kota ini dibangun oleh banyak tangan dan banyak latar belakang.

Yamin berharap rangkaian kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Banjarmasin memiliki keragaman agama, etnis, budaya dan tradisi. Namun seluruh masyarakat hidup dalam satu ruang yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama pula untuk menjaga kerukunan.

Terlebih, kegiatan tersebut berlangsung di tengah momentum Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin.

Lima abad perjalanan Banjarmasin tentu bukan semata soal usia sebuah kota. Ada sejarah panjang tentang manusia yang datang, menetap, berdagang, membangun keluarga, mendirikan komunitas dan kemudian menjadi bagian dari cerita kota.

Karena itu, merawat Banjarmasin juga berarti merawat hubungan antarmanusianya.(Ridzky Husna).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!