Pontianak, Kabut Asap dan Laptop yang Tetap Menyala
Oleh : Olpah Sari
Jurnalis – Pemimpin Umum Media Online Nasional Economic Travelling.Com.
Ada yang berbeda ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Pontianak.
Bukan suasana kota yang langsung menarik perhatian, melainkan udara yang terasa berat. Kabut asap menyelimuti langit. Jarak pandang terbatas. Pesawat Citilink yang membawa saya bersama rombongan jurnalis dari Kalimantan Selatan pun sempat mengalami keterlambatan pendaratan.
Padahal, ada rencana sederhana yang sudah dibayangkan sebelum berangkat. Sesampainya di Pontianak, ingin melihat suasana malam kota, menikmati kuliner, mungkin sekadar berjalan sebentar dan merasakan atmosfer kota yang berada tepat di garis khatulistiwa itu.
Rencana tinggal rencana.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan membuat perjalanan udara tidak berjalan seperti yang diharapkan. Malam yang seharusnya bisa digunakan untuk menikmati Pontianak akhirnya kami habiskan di kamar hotel.
Saya bersama suami, Muhammad Risanta, jurnalis senior CNN Indonesia, akhirnya memilih membuka laptop. Bukan untuk bermain atau sekadar mengisi waktu, tetapi tetap bekerja seperti biasa.
Saya mulai mencari informasi, membaca perkembangan berita, membuka bahan tulisan dan mengedit naskah yang masih harus diselesaikan. Risanta melakukan pekerjaannya sendiri, setelah satu pekan terakhir banyak menghabiskan waktu siaran live bersama CNN Indonesia tentang karhutla. Dua laptop menyala di dalam kamar hotel yang malam itu berubah menjadi ruang redaksi kecil.

Mungkin memang begitulah kehidupan seorang jurnalis.
Perjalanan boleh tertunda. Agenda boleh berubah. Tetapi berita tidak mengenal kata menunggu.
Dan malam itu, tanpa saya sadari, pengalaman tersebut justru membuat saya melihat laptop dari sudut yang berbeda.
Wartawan Membawa Kantor di Dalam Tas
Bagi wartawan, laptop bukan sekadar benda elektronik.Laptop itu adalah ruang kerja yang ikut bepergian.
Di dalamnya ada naskah, foto, rekaman, dokumen, bahan wawancara, catatan, data dan berbagai informasi yang sewaktu-waktu harus diolah menjadi berita.
Pekerjaan wartawan hari ini juga jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Seorang reporter tidak lagi hanya menulis berita setelah pulang dari lapangan. Ia bisa menulis dari lokasi kejadian, melakukan wawancara melalui video conference, mengirim foto, mengedit materi, membaca dokumen, mencari data dan berkomunikasi dengan redaksi dalam waktu yang hampir bersamaan.
Semua itu bisa terjadi hanya dari satu laptop. Karena itu, kebutuhan terhadap laptop pun berubah.
Perangkat kerja tidak cukup hanya cepat. Ia harus nyaman dibawa, memiliki daya tahan baterai yang panjang, layar yang enak digunakan berjam-jam, konektivitas yang memadai dan keamanan yang mampu menjaga data.
Terlebih ketika pekerjaan mulai bersentuhan dengan kecerdasan buatan.
Pontianak dan Wajah Media yang Berubah
Beberapa jam setelah malam yang kami habiskan di kamar, suasana berubah ketika sekitar 150 awak media dari lima provinsi di Kalimantan berkumpul dalam Media Gathering ASUS di Pontianak.
Para jurnalis datang dengan kebiasaan kerja yang berbeda-beda. Ada yang masih sibuk dengan catatan di buku.Bahkan seperti teman saya Cintya Barito Post dan Yuli Pojok Banua mengetik langsung melalui laptop.
Berbeda dengan Wawa Jurnalis Kompas.Com dan Amang Efet dari Radar Banjarmasin, keduanya lebih senang memotret dan membuat video.Demikian pula dengan Jurnalis muda seperti Nanang Shalokal Indonesia, Gusti Taufiqurrahman Kalsel Hits, asik mengirim bahan ke redaksi melalui telepon genggam.Keduanya sebelumnya baru saja mewawancarai salah satu pejabat yang akan menghadiri satu acara di Pontianak, saat tiba di Bandara Internasional Supadio Pontianak.
Tetapi ada satu kesamaan yang terlihat jelas adalah teknologi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan jurnalistik.
Di ruangan itu, laptop bukan lagi benda asing yang hanya digunakan oleh pekerja kantoran.
Laptop berada di tangan reporter, editor, fotografer, produser dan berbagai pekerja media yang harus bekerja cepat mengikuti ritme berita.
Tak berlebihan jika saya mulai memahami mengapa perkembangan laptop bisnis menjadi menarik untuk diperhatikan.

Perubahan desainnya memang terlihat karena sekarang itu laptop semakin tipis. Bobotnya semakin ringan, namun pekerjaan manusia yang berada di balik layar justru semakin berat.
Bicara soal laptop, saya juga ingat saat jalan ke Jakarta sempat melihat produk laptop di sebuah toko elektronik di Mangga Dua, Jakarta Pusat. Saya sempat mengamati ASUS ExpertBook Ultra B9406CAA merupakan salah satu contoh dari arah perkembangan tersebut.
Laptop ini memiliki bobot mulai 0,99 kilogram dan ketebalan sekitar 10,9 milimeter. Sekilas, angka itu hanya menunjukkan bahwa perangkat ini ringan dan tipis.
Tetapi bagi wartawan yang sering berpindah tempat, bobot laptop memiliki cerita sendiri.
Bayangkan membawa peralatan kerja sepanjang hari. Laptop masuk tas saat berangkat, dikeluarkan ketika tiba di lokasi, dibawa kembali saat berpindah tempat, kemudian dibuka lagi ketika deadline mendekat.
Setiap gram akhirnya terasa dan yang menarik, mengejar bentuk tipis tidak membuat perangkat ini menghilangkan konektivitas yang masih dibutuhkan dalam pekerjaan. Tersedia dua Thunderbolt 4, dua USB-A 3.2 Gen 2, HDMI 2.1 dan jack audio 3,5 milimeter.
Bagi seorang wartawan, hal seperti ini lebih berarti daripada sekadar angka di brosur.
Ketika harus memindahkan data, menyambungkan layar tambahan, melakukan presentasi atau bekerja dengan perangkat lain, semakin sedikit perlengkapan tambahan yang harus dibawa tentu semakin baik.
Laptop boleh tipis. Tetapi jangan sampai pekerjaan ikut dibuat tipis.
ExpertBook Ultra menggunakan prosesor Intel Core Ultra dengan NPU hingga 50 TOPS. ASUS juga membawa AI ExpertMeet untuk membantu pekerjaan rapat, termasuk transkripsi dan penerjemahan.
Ada pula Zenni Claw yang diperkenalkan untuk kebutuhan agentic AI. Bagi dunia jurnalistik, perkembangan seperti ini menarik.
Bayangkan seorang wartawan selesai melakukan wawancara panjang. Selama ini, salah satu pekerjaan yang cukup menguras waktu adalah memeriksa kembali rekaman, mencari bagian penting, kemudian menyusun catatan.
Jika teknologi dapat membantu pekerjaan tersebut, waktu wartawan dapat dialihkan kepada pekerjaan yang jauh lebih penting yakni mencari informasi tambahan, melakukan verifikasi dan menggali cerita.
Sekedar bahan refleksi saja Ai itu adalah teknologi, tetapi jangan salah dia bukan menggantikan wartawan.
Melainkan membantu wartawan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan pekerjaan yang hanya bisa dilakukan manusia.
Sebab AI bisa membantu membaca dan mengolah informasi, tetapi ia tidak bisa menggantikan seorang reporter yang berdiri di tengah lapangan, melihat sendiri kejadian, berbicara dengan korban, mencium asap kebakaran, merasakan suasana lokasi dan kemudian mempertanyakan informasi yang diterimanya.

Karena itu menurut suami saya yang juga Ahli Pers Dewan Pers, wartawan tetap harus hadir di mana pun.Ia harus bertanya dan harus melakukan verifikasi.
Semakin pintar laptop, semakin banyak pula pekerjaan yang dapat dilakukan di dalamnya. Tetapi ada konsekuensi yang tidak boleh dilupakan adalah data.
Seorang wartawan bisa menyimpan rekaman wawancara, dokumen narasumber, bahan investigasi, foto, catatan dan berbagai informasi yang belum boleh dipublikasikan.
Begitu pula perusahaan. Dokumen internal, data pelanggan, laporan keuangan dan strategi bisnis memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada perangkat tempat data itu disimpan.
Karena itu, impian semua orang khususnya konsumen adalah laptop bisnis tidak cukup hanya memiliki performa tinggi, namun juga harus memiliki perlindungan.
ExpertBook Ultra menawarkan sejumlah lapisan keamanan seperti ASUS Security Processor, TPM 2.0, Microsoft Pluton, sensor sidik jari, Windows Hello IR, penutup fisik kamera, pendeteksi pembukaan chassis dan dual self-healing BIOS ROM.
Nama-nama tersebut mungkin terdengar sangat teknis. Tetapi maksudnya sederhana.
Laptop boleh dibawa ke mana-mana, tetapi data yang ada di dalamnya tidak boleh ikut menjadi barang yang mudah dibawa siapa saja.
Saya juga bahkan teman-teman seprofesi seperti saya melihat satu hal yang sering dianggap sepele yakni tentang layar.
Padahal wartawan bisa menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar untuk membaca dokumen, mengedit tulisan, melihat foto, memeriksa data atau menyelesaikan berita menjelang deadline.
Nah bicara produk laptop, tentu ExpertBook Ultra memiliki layar 14 inci dengan rasio 16:10 dan resolusi 3K 2.880 x 1.800 piksel. Pada varian Tandem OLED, tingkat kecerahan HDR mencapai 1.400 nits dengan cakupan warna 100 persen DCI-P3.
Rasio 16:10 memberi ruang vertikal yang lebih luas. Untuk membaca dokumen atau bekerja dengan spreadsheet, tambahan ruang itu cukup terasa.
Bagi saya, kualitas layar bukan perkara membuat laptop terlihat mewah, tetapi ini sudah menyangkut kenyamanan.
Karena pekerjaan yang berlangsung berjam-jam membutuhkan perangkat yang tidak membuat mata dan pikiran cepat lelah.
Cepat Itu Bagus, Tetapi Jangan Mudah Menyerah
Laptop tipis dengan performa tinggi tentu menghadapi persoalan klasik adalah soal panas.
Semakin berat pekerjaan yang dijalankan, semakin besar tantangan menjaga perangkat tetap stabil.
ASUS menggunakan sistem pendinginan ExpertCool Pro dengan dua kipas dan dukungan performa hingga 50W TDP. Pada konfigurasi tertentu, ExpertBook Ultra menggunakan Intel Arc B390.
ASUS juga mengklaim performanya sekitar 35 persen lebih tinggi dibandingkan NVIDIA RTX 4050 30W TGP dalam pengujian 3DMark Time Spy.
Tetapi seorang pekerja tidak membuka laptop untuk melihat angka benchmark. Yang dicari adalah pekerjaan yang selesai.

Bagi wartawan, performa terbaik adalah ketika laptop mampu mengikuti ritme kerja tanpa membuat pengguna terlalu sering menunggu.
Sederhananya begini, naska bisa dibuka dan foto-foto dapat diedit.Demikian pula dengan dokumen dapat berpindah dan rapat bisa berjalan lacar serta pekerjaan terus bergerak.
Kembali ke Kalimantan Barat, malam pertama di Pontianak membuat saya kembali memikirkan satu hal sederhana baterai.
Ketika rencana perjalanan berubah dan pekerjaan akhirnya dilakukan dari kamar hotel, laptop menjadi sangat penting.
ExpertBook Ultra membawa baterai 70 Wh. ASUS mengklaim daya tahan hingga 26 jam dalam kondisi pengujian tertentu dan pengisian hingga 50 persen dalam sekitar 30 menit.
Penggunaan sebenarnya tentu berbeda-beda. Tetapi bagi pekerja yang banyak bepergian, baterai panjang memberikan satu kemewahan sederhana, karena tidak terlalu sering mencari colokan.
Bagi wartawan, itu bukan perkara kecil. Karena deadline tidak selalu datang ketika kita sedang duduk dekat stopkontak.
Dari Pontianak Saya Membawa Cerita Lain
Saya datang ke Pontianak untuk menghadiri media gathering. Saya membayangkan akan melihat kota pada malam hari. Kabut asap mengubah semuanya. Pesawat terlambat mendarat. Rencana jalan-jalan batal. Saya dan Risanta menghabiskan malam di kamar sambil bekerja dengan laptop, sembari menikmati kopi cappuicino panas dan roti hangat.
Malam itu saya memang tidak sempat menikmati keindahan Pontianak.
Tetapi dari sebuah kamar hotel, ditemani suara pendingin ruangan, cahaya layar laptop dan kabut asap yang menutup kota, saya justru menemukan cerita tentang masa depan pekerjaan.
Tentang wartawan yang semakin mobile saat bersama pekerjaan yang tak lagi santai namun cepat. Kemudian ada cerita AI yang mulai menjadi bagian dari meja kerja dan laptop tipis.
Dan bagi seorang jurnalis, selama masih ada cerita yang harus dicari, pekerjaan memang belum benar-benar berakhir.
