Pentingnya Pemandu Gunung Punya Legalitas dan Perlindungan Hukum

0
ABBY WEBINAR 2026

Di tengah semakin terbukanya peluang kerja sebagai pemandu wisata gunung, persoalan legalitas dan perlindungan hukum menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.

Traveler Indonesia, Abby mengingatkan para calon maupun pelaku profesi pemandu gunung agar tidak hanya memikirkan bagaimana mendapatkan pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga memastikan seluruh proses pekerjaan dilakukan sesuai regulasi yang berlaku.

“Penerapan regulasi merupakan bagian penting untuk mewujudkan keadilan dan perlindungan bagi para pekerja di sektor pariwisata alam,” ujarnya saat berbicara dalam Webinar Naik Gunung Naik Kompetensi, Sabtu (05/09/2026).

Abby mengaitkan hal tersebut dengan sila kelima Pancasila mengenai keadilan sosial. Menurutnya, prinsip tersebut dapat diwujudkan apabila seluruh pihak, termasuk asosiasi dan pemangku kepentingan di bidang pemanduan, menjalankan profesi sesuai aturan yang telah ditetapkan.

“Kita menjadi salah satu tim perumus untuk pemanduan. Karena itu, jangan sampai kita tadinya ingin mencari kerja atau membantu keluarga, tetapi legalitas kita kurang,” sebutnya lagi.

Lebih jauh Founder LPK Elang Khatulistiwa Indonesia (EKI)  menilai persoalan legalitas bukan sekadar urusan administrasi. Bagi pemandu gunung, legalitas berkaitan langsung dengan kepastian profesi sekaligus perlindungan ketika menghadapi persoalan di lapangan.

Terlebih, aktivitas pendakian memiliki risiko yang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Ketika terjadi kecelakaan, misalnya, seorang pemandu yang bekerja tanpa dasar legalitas dan perlindungan yang memadai dapat menghadapi persoalan yang jauh lebih besar.

“Kalau terjadi apa-apa, siapa yang melindungi pemandu? Ingat, kalian mencari uang, tetapi kalau terjadi kecelakaan, kalian juga bisa mengorbankan keluarga karena perlindungan hukum kalian tidak kuat kalau bekerja secara ilegal,” katanya.

 

Karena itu, traveler yang sering traveling keliling dunia ini meminta para pemandu tidak melihat sertifikasi, legalitas dan kepatuhan terhadap regulasi sebagai beban. Justru seluruh aspek tersebut menjadi bagian dari upaya membangun profesi pemandu gunung yang lebih dihargai, aman dan memiliki masa depan.

Profesionalisme, menurut dia, bukan hanya ditentukan oleh kemampuan membawa wisatawan mencapai puncak. Profesionalisme juga terlihat dari kepatuhan terhadap standar, kemampuan menjaga keselamatan wisatawan, kepedulian terhadap lingkungan serta keberanian menjalankan pekerjaan secara legal.

Dengan semakin berkembangnya wisata pendakian di Indonesia, kebutuhan terhadap pemandu profesional diperkirakan akan terus meningkat.

Namun, peluang tersebut harus dibarengi dengan kesadaran bahwa bekerja di alam terbuka memiliki tanggung jawab besar.

Mencari penghasilan memang menjadi tujuan penting. Tetapi, menurut Abby penghasilan tidak boleh membuat seorang pemandu mengabaikan keselamatan, kompetensi dan perlindungan hukum.

Sebab, ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi di gunung, yang menghadapi akibatnya bukan hanya pemandu dan wisatawan, tetapi juga keluarga yang menunggu mereka pulang.

Webinar yang diselenggarakan LPK Elang Khatulistiwa Indonesia dan didukung Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta, juga menghadirkan narasumber Dodi Samsul Bahri, SE., MM (Kabib Pariwisata) mewakili Kepala Dinas Pariwisata Disporaparbud Kabupaten Purwakarta, Dr. Aep Durahmon, S.Pd., M.Pd dan Andi Agung Mappacelly, SH,MM Kabid Pelatihan dan Produktivitas Dinas Tenaga Kerja Purwakarta dan  serta Arto dari KPH Bandung Utara bersama praktisi-akademisi Bandung, Imam Budi Sumarna, S.Kom., M.Sc., M.Ds., C.QAP

Kegiatan Webinar dipandu langsung Eva Krista Hutajulu, S.Kom., M.M.S.I dengan menghadirkan Pembina LPK Elang Khatulistiwa Indonesia, Alfina dan Ketua Umum Asosiasi Pemandu Wisata Bhakti Pertiwi, Muhammad Risanta SE MM. (M.Irfani).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!