Menyeruput Sejarah dari Secangkir Kopi Asiang Pontianak
Penulis bersama Babah Asiang, yang legend dengan ciri khas bertelanjang dada menyajikan kopi khas Pontianak. (Foto - Olpah Sari).
Pontianak tidak hanya bisa dinikmati dari sungai, khatulistiwa, kuliner, dan hiruk-pikuk kotanya.
Ada satu cara sederhana untuk mengenal wajah kota ini duduk di sebuah warung kopi, memesan secangkir kopi panas, lalu membiarkan waktu berjalan bersama aroma kopi yang mengepul.
Jika perjalanan membawa kita ke Pontianak, Kalimantan Barat, jangan buru-buru mencari tempat yang serba modern. Sesekali, cobalah masuk ke ruang-ruang sederhana tempat masyarakat kota berbincang, bertemu, berdebat tentang politik, membicarakan bisnis, atau sekadar menghabiskan pagi dengan secangkir kopi.
Salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi adalah Warung Kopi Asiang.
Bagi sebagian orang, Kopi Asiang mungkin hanya sebuah warung kopi. Tetapi bagi mereka yang mau duduk lebih lama dan memperhatikan, tempat ini menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.
Di balik setiap cangkir kopi tarik yang disajikan, ada perjalanan keluarga, tradisi, kerja keras dan perubahan sebuah kota yang berlangsung lebih dari enam dekade.
Perjalanan yang Dimulai dari Sebuah Gerobak. Maka kisah Kopi Asiang bermula pada 1958.
Saat itu, jauh sebelum nama Asiang dikenal sebagai salah satu ikon kopi Pontianak, ayah Pak Asiang memulai usaha kecil dengan sebuah warung kopi gerobakan di kawasan Jalan Agus Salim.
Mengutip kisah cerita dari laman kopi Asiang, ternyata tida ada interior yang dirancang khusus.Termasuk ada papan nama besar.Bahkan tak ada ada konsep kedai kopi seperti yang kita kenal sekarang.

Hanya sebuah gerobak sederhana, perlengkapan seadanya, pohon yang memberikan keteduhan, dan secangkir kopi yang dibuat dengan kesungguhan.
Cerita sejarah pun berawal dari tempat sederhana itulah pelanggan datang dan pergi. Pejalan kaki, pedagang dan masyarakat sekitar menjadi bagian dari kehidupan warung kopi tersebut.
Kopi diseduh dengan cara tradisional menggunakan saringan kain. Air panas, bubuk kopi dan tangan yang terampil menjadi bagian dari proses panjang sebelum secangkir kopi sampai ke tangan pelanggan.
Konon dalam lintasan sejarah dan di tengah suasana itulah seorang remaja bernama Asiang tumbuh. Usianya sekitar 17 tahun ketika mulai benar-benar mengenal dunia kopi dari dekat.
Pemuda biasa-biasa saja ini, bukan hanya melihat ayahnya bekerja.Namun dia belajar secara langsung ilmu yang kelak membawanya menjadi seorang wirausaha yang bertransformasi menjadi Ikon Pontianak dan Kalimantan Barat.
Bagaimana memilih dan mengolah kopi. Bagaimana menyeduh serta menggunakan saringan. Bagaimana menjaga rasa dan melayani pelanggan.
Yang dipelajari bukan semata teknik membuat kopi semata.
Tetapi juga sebuah filosofi sederhana, pelanggan datang membawa harapan untuk mendapatkan secangkir kopi yang enak, dan pekerjaan kita adalah memberikan yang terbaik.
Tahun demi tahun pun telah berlalu.Pengetahuan yang awalnya diperoleh dari sang ayah perlahan menjadi keterampilan pribadi. Dari sekadar membantu, Asiang kemudian tumbuh menjadi orang yang mampu meracik dan menyajikan kopi dengan karakter yang semakin dikenal pelanggan.
Perjalanan itu kemudian memasuki babak penting pada 1992.
Warung Kopi Asiang berpindah ke sebuah ruko sederhana di Jalan Merapi, Pontianak. Perpindahan tempat tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan Kopi Asiang.
Dan gerobak kopi ini telah berganti menjadi ruko. Namun ada hal-hal yang tidak ikut berubah. Dia tetap mempertahankan cara menyeduh kopi. Salah satunya juga adalah Kopi tarik tetap menjadi bagian dari identitas.
Dan yang paling penting, semangat untuk menyajikan kopi dengan cara yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya tetap hidup.
Jalan Merapi kemudian tidak hanya menjadi alamat.Namun jalan ini menjadi bagian dari ingatan banyak orang yang pernah datang ke Pontianak dan menyempatkan diri duduk menikmati kopi di sana.
Bagi wisatawan, tempat seperti ini menarik karena menawarkan sesuatu yang tidak selalu bisa ditemukan di destinasi wisata yang dibangun secara khusus. Karena kisah indah menawarkan kehidupan yang berjalan apa adanya.
Salah satu pengalaman yang membuat kunjungan ke Kopi Asiang terasa berbeda adalah melihat langsung proses penyajiannya.
Kopi yang telah diseduh kemudian ditarik dari satu wadah ke wadah lainnya.Wow gerakanya sangat cepat panjang dan berulang.

“Dan dilakukan dengan ketelitian yang seolah sudah menjadi bagian dari ingatan tangan. Dari kejauhan, kopi seperti sedang “terbang” mengikuti gerakan tangan pembuatnya,” begitu Yan Andria, Jurnalis CNN Indonesia perwakilan Pontianak menerangkan kisahnya, saat kami menikmati kopi Asiang, Kamis pagi (03/09/2026).
Ini bukan sekadar atraksi, namun ada keterampilan yang membutuhkan pengalaman di balik gerakan tersebut. Bagi wisatawan yang baru pertama kali melihatnya, proses itu menjadi pengalaman visual tersendiri.
“Tetapi jangan berhenti hanya pada memotret prosesnya.Sebaiknya kalian duduklah lalu pesan kopi dan rasakan kenikmatan kopi atau the tariknya, lalu rasakan keindahan suasana tak ada di mana pun,” sambung Kang Yan menyeruput teh tarik panas.
Tampaknya apa yang diutarakan Kang Yan Andria ada benarnya.Karena pengalaman di warung kopi tidak selesai ketika kamera mengambil gambar.
Pengalaman justru dimulai ketika kita ikut menjadi bagian dari suasana. Kopi yang tidak hanya untuk miminum, namun ada sesuatu yang menarik dari budaya warung kopi Pontianak.
“Orang datang tidak selalu karena ingin minum kopi, tetapi ada yang datang untuk untuk bertemu teman. Ngobrol santai ditemani secangkir kopi panas, kue panas dan beragam bubur buat sarapan tatkala pagi menyapa,” terang Syahriyanto, Jurnalis Radio Elshinta yang nekad jalan kaki dari Hotel Ibis untuk merasakan napak tilas ngopi ke Warung Asiang di Jalan Merapi, Pontianak.
Ada satu hal yang membuat Kopi Asiang begitu mudah diingat.
Pak Asiang dikenal dengan cara menyeduh kopi sambil bertelanjang dada.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin terasa tidak biasa.
Tetapi justru di situlah karakter tersebut menjadi bagian dari identitas Kopi Asiang. Ia tidak dibuat-buat untuk menjadi sebuah pertunjukan, tetapi lahir dari kebiasaan bekerja.
Hem dapur terasa panas dan aktivitas menyeduh kopi berulang-ulang. Dari sebuah cara bekerja yang telah dijalani bertahun-tahun.
Dalam dunia yang sekarang begitu gemar menciptakan citra dan membangun personal branding, Kopi Asiang justru menarik karena identitasnya tumbuh secara alami.
Bukan karena dibuat untuk menjadi viral. Tetapi karena memang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Menikmati Kopi Sambil Mencicipi Pontianak
Secangkir kopi tentu terasa lebih lengkap jika ditemani makanan. Di kawasan warung kopi Pontianak, kopi sering berjalan beriringan dengan berbagai kudapan dan makanan ringan.
Wisatawan dapat memilih kudapan tradisional, kue-kue, maupun makanan yang menjadi bagian dari budaya kuliner masyarakat setempat.
Jika datang bersama teman atau keluarga, pesan beberapa jenis makanan untuk dinikmati bersama.Maka ada benarnya pula jika kita sebagai wisatawan tak perlu terburu-buru.
Biarkan sarapan atau makan ringan menjadi bagian dari perjalanan.
Sebab wisata kuliner yang menyenangkan bukan soal seberapa banyak tempat yang bisa didatangi dalam satu hari.
Tetapi seberapa banyak cerita yang bisa dibawa pulang. Mengapa Kopi Asiang Layak Masuk Itinerary?
Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke Pontianak, Kopi Asiang dapat ditempatkan sebagai salah satu tujuan kuliner dalam perjalanan.
Datanglah pada pagi hari.Kita bisa menikmati suasana kota yang mulai bergerak, menikmati kopi hangat atau secangkir teh tarik.Pontianak memang bukan sekadar kopi Asiang, namun cerita panjang menginspirasi “Nikmatnya secangkir kopi”.
Sebuah cangkir kopi bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah, kebiasaan, manusia dan karakter sebuah kota.
*Penulis adalah Jurnalis & Pimpinan Media Online Economic Travelling.Com
