Dosen STIE Pancasetia Dorong Modernisasi Usaha Pupur Basah

0
TIM PKM Dan ibu-ibu keleleng benteng Ulu

Sejumlah dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pancasetia Banjarmasin menghadirkan inovasi pemberdayaan bagi pengrajin pupur basah di Desa Keliling Benteng Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. (Foto - Aulia Helmina Putri).

Tingkatkan Daya Saing Produk Lokal Kalsel

Peran perguruan tinggi dalam mendorong penguatan ekonomi masyarakat terus diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Sejumlah dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pancasetia Banjarmasin menghadirkan inovasi pemberdayaan bagi pengrajin pupur basah di Desa Keliling Benteng Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar.

Melalui program “Pemberdayaan Usaha Mikro Pengrajin Pupur Basah Melalui Modernisasi Teknologi Produksi dan Penguatan Manajemen Bisnis”, tim dosen STIE Pancasetia memberikan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki kualitas produk, serta memperkuat tata kelola usaha mikro berbasis kearifan lokal.

Program tersebut menjadi bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat – Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (Hibah BIMA) yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Tim pengabdian STIE Pancasetia dipimpin oleh Nofarina Maulida Yanti bersama anggota tim Aulia Helmina Putri dan Firda Nosita. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa STIE Pancasetia, yaitu Ahmad Maliki dan Fadia Aulia Rizky H., sebagai bagian dari kolaborasi akademik dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.

Ketua Tim Pengabdian STIE Pancasetia, Nofarina Maulida Yanti, mengatakan pengrajin pupur basah di Desa Keliling Benteng Ulu memiliki potensi besar untuk berkembang, namun masih menghadapi sejumlah kendala, terutama pada aspek teknologi produksi dan pengelolaan bisnis.

“Selama ini proses produksi masih banyak dilakukan secara konvensional dan bergantung pada kondisi cuaca. Karena itu, kami memberikan intervensi teknologi agar produksi dapat lebih stabil, efisien, dan memiliki kualitas yang lebih baik,” ujar Nofarina.

 

Tim Dosen STIE Pancasetia memberikan pendampingan khusus kepada pengrajin pupur basah di Desa Keliling Benteng Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar.(Foto – Aulia Helmina Putri).

Dalam program tersebut, dosen STIE Pancasetia memberikan bantuan sekaligus pelatihan penggunaan berbagai peralatan modern, seperti oven pengering otomatis dengan pengendali thermostat, mesin mixer untuk pengolahan bahan baku, serta alat sealer dan mesin vakum (vacuum machine) untuk meningkatkan standar pengemasan produk.

Penggunaan teknologi pengering otomatis membuat proses produksi pupur basah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sinar matahari.

Hal ini menjadi solusi bagi pengrajin ketika menghadapi musim hujan yang selama ini menjadi salah satu hambatan produksi.

Sementara mesin mixer membantu mempercepat proses penghalusan bahan, sedangkan teknologi pengemasan vakum mampu menjaga kualitas produk, memperpanjang masa simpan, serta membuka peluang pemasaran ke wilayah yang lebih luas.

Selain penguatan teknologi produksi, para dosen STIE Pancasetia juga memberikan pendampingan dalam aspek manajemen usaha.

Pengrajin diberikan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, strategi menentukan harga jual, serta pengembangan pemasaran digital melalui media sosial dan platform lokapasar (marketplace).

Menurut Nofarina, pengembangan usaha mikro tidak cukup hanya dengan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membutuhkan kemampuan manajemen agar usaha dapat tumbuh secara berkelanjutan.

“Produk lokal harus didukung dengan tata kelola bisnis yang baik. Ketika teknologi produksi semakin kuat dan manajemen usaha semakin tertata, maka nilai ekonomi produk juga akan meningkat,” katanya.

Melalui program Hibah BIMA ini, dosen STIE Pancasetia berharap pengrajin pupur basah mampu naik kelas dari usaha tradisional menuju usaha mikro yang lebih modern, mandiri, dan memiliki daya saing.

Pemberdayaan tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi akademisi dalam menjaga keberlanjutan produk kosmetik tradisional khas Kalimantan Selatan, sekaligus mendorong peningkatan pendapatan masyarakat Desa Keliling Benteng Ulu.

Dengan pendekatan berbasis teknologi, pendampingan bisnis, dan kolaborasi antara dosen, mahasiswa, serta masyarakat, pupur basah lokal diharapkan tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga berkembang sebagai produk ekonomi kreatif yang memiliki peluang pasar lebih luas.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!