Keluar dari Kebuntukan Satu Dekade
Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com
Transformasi Digital Warung Nasi Kuning Mama Ari melalui Pendampingan UMKM di Banjarmasin
Oleh:Tim Masyarakat STIE Pancasetia Banjarmasin
Pagi di Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, selalu dimulai dengan aktivitas yang sama. Sebelum sebagian besar masyarakat memulai rutinitas kerja, aroma nasi kuning, santan, dan rempah-rempah khas Banjar sudah lebih dahulu memenuhi sudut kawasan tersebut.
Di antara geliat usaha kuliner yang tumbuh di kawasan itu, terdapat sebuah warung sederhana yang telah bertahan hampir satu dekade. Namanya Warung Nasi Kuning Mama Ari.
Bagi sebagian pelanggan, warung milik Ibu Khotimah ini mungkin terlihat seperti usaha kuliner kecil biasa. Namun, di balik meja tempat menyajikan makanan dan aktivitas melayani pembeli setiap pagi, terdapat perjalanan panjang seorang pelaku UMKM yang berusaha menjaga roda usaha tetap berjalan dari hari ke hari.
Selama hampir sepuluh tahun, Ibu Khotimah mempertahankan usaha dengan cara yang sama seperti banyak pelaku UMKM tradisional lainnya.
Mengandalkan kualitas makanan, menjaga hubungan baik dengan pelanggan lama, dan berharap informasi mengenai warungnya menyebar melalui rekomendasi dari orang ke orang.
Cara tersebut memang mampu membuat usaha bertahan. Pelanggan tetap masih datang, menu khas Banjar yang dijual masih memiliki peminat, dan warung tetap menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Namun, perkembangan usaha berjalan sangat lambat.
Di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin dekat dengan teknologi digital, pola pemasaran lama mulai menghadapi keterbatasan.

Pelanggan baru sulit dijangkau karena informasi mengenai usaha belum tersebar secara luas. Ketika banyak bisnis mulai memanfaatkan media sosial, layanan pesan daring, dan sistem transaksi digital, Warung Nasi Kuning Mama Ari masih berjalan dengan pola konvensional.
Situasi tersebut menjadi tantangan yang banyak dialami UMKM. Banyak usaha kecil sebenarnya memiliki produk yang kuat, cita rasa yang khas, serta pelanggan yang loyal, tetapi belum memiliki strategi untuk memperkenalkan keunggulan tersebut kepada pasar yang lebih luas.
Warung Nasi Kuning Mama Ari memiliki potensi besar untuk berkembang. Menu yang dijual bukan sekadar makanan harian. Nasi kuning, lontong kuah santan, bubur ayam, dan mie habang merupakan bagian dari budaya kuliner Banjar yang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat.
Namun, kekuatan sebuah produk perlu didukung cara pengelolaan usaha yang mampu mengikuti perkembangan zaman.
Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat STIE Pancasetia Banjarmasin melakukan pendampingan kepada Warung Nasi Kuning Mama Ari.
Program ini dirancang bukan untuk mengubah karakter usaha tradisional yang sudah melekat, melainkan membantu mitra menemukan cara baru agar usaha yang telah dibangun selama bertahun-tahun memiliki peluang berkembang lebih luas.
Pendampingan dimulai dengan melihat kembali bagaimana usaha tersebut tampil di mata pelanggan.
Bagi usaha mikro, tampilan sering kali menjadi pintu pertama yang membangun kesan. Sebelum seseorang membeli makanan, mereka terlebih dahulu melihat bagaimana sebuah usaha memperkenalkan dirinya.
Nama warung, papan informasi, tampilan menu, hingga kemudahan menghubungi penjual menjadi bagian kecil yang ikut menentukan keputusan pelanggan.
Saat pendampingan dilakukan, salah satu persoalan yang terlihat adalah kondisi identitas visual Warung Nasi Kuning Mama Ari yang belum berkembang mengikuti kebutuhan usaha.
Spanduk yang selama ini menjadi penanda keberadaan warung sudah mengalami penurunan kualitas. Warna mulai memudar, tampilan kurang menarik, dan informasi mengenai menu serta kontak pemesanan belum tersampaikan secara optimal.
Padahal, bagi sebuah usaha kecil, spanduk bukan hanya sekadar tanda bahwa di tempat tersebut ada aktivitas jual beli. Spanduk merupakan media komunikasi pertama antara usaha dan calon pelanggan.
Karena itu, tim melakukan pembaruan identitas visual usaha dengan membuat desain spanduk baru yang lebih jelas dan representatif.
Nama Warung Nasi Kuning Mama Ari ditampilkan lebih kuat, menu utama diperkenalkan secara lebih menarik, serta nomor WhatsApp dicantumkan agar pelanggan memiliki akses lebih mudah untuk melakukan pemesanan.
Perubahan tersebut terlihat sederhana, tetapi bagi mitra usaha, pembaruan itu memberikan pengalaman baru. Warung yang selama ini berjalan dengan tampilan lama mulai memiliki wajah baru yang lebih siap berhadapan dengan persaingan usaha kuliner.
Setelah memperkuat identitas usaha, pendampingan dilanjutkan pada aspek literasi digital.
Salah satu tantangan terbesar bagi UMKM bukan hanya keterbatasan perangkat teknologi, tetapi juga pemahaman mengenai bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk kepentingan bisnis.
Melalui kegiatan pendampingan, Ibu Khotimah bersama putranya, Ari, mulai dikenalkan dengan cara memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi.
Pelatihan dilakukan secara sederhana dan praktis, mulai dari teknik mengambil foto makanan menggunakan telepon pintar, memilih sudut gambar yang menarik, menyusun informasi menu, hingga mengelola akun media sosial usaha.
Bagi usaha kuliner, foto makanan memiliki peran penting. Sebuah gambar yang mampu menampilkan warna, tekstur, dan penyajian makanan dapat menjadi daya tarik awal bagi pelanggan.
Apalagi dalam persaingan kuliner saat ini, keputusan membeli sering kali dimulai dari apa yang dilihat melalui layar telepon.
Melalui proses tersebut, mitra mulai memahami bahwa media sosial bukan sekadar tempat mengunggah foto, tetapi dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan cerita usaha, membangun hubungan dengan pelanggan, dan memperluas jaringan pasar.
Perubahan lain dilakukan melalui penerapan sistem pembayaran digital QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Perkembangan transaksi non-tunai telah mengubah kebiasaan masyarakat. Banyak pelanggan mulai terbiasa menggunakan pembayaran digital karena dianggap lebih praktis dan cepat. Kondisi tersebut mendorong UMKM untuk ikut menyesuaikan diri.
Warung Nasi Kuning Mama Ari kemudian difasilitasi dalam proses pengajuan dan aktivasi QRIS. Bagi mitra, penggunaan QRIS menjadi pengalaman baru dalam pengelolaan usaha. Pelanggan memiliki pilihan pembayaran yang lebih mudah, sementara pemilik usaha mulai mengenal sistem transaksi yang lebih modern.
Setelah rangkaian pendampingan dilakukan, perubahan mulai terlihat dalam cara mitra mengelola usaha. Warung Nasi Kuning Mama Ari mulai memiliki identitas visual yang lebih baik, memahami pentingnya promosi digital, serta memiliki fasilitas pembayaran yang mengikuti perkembangan kebutuhan konsumen.
Peluang pasar pun mulai berkembang. Pesanan tidak lagi hanya berasal dari pelanggan yang datang langsung ke warung, tetapi mulai terbuka melalui komunikasi WhatsApp dan media sosial.
Dukungan program juga dimanfaatkan mitra untuk memperkuat usaha melalui penambahan modal dan pengembangan menu. Bagi Ibu Khotimah, perubahan tersebut menjadi langkah penting setelah bertahun-tahun menjalankan usaha dengan keterbatasan.
Pengalaman Warung Nasi Kuning Mama Ari memberikan gambaran bahwa perjalanan UMKM bukan hanya tentang menjual produk, tetapi tentang kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan.
Usaha kecil yang memiliki akar kuat pada budaya lokal tetap memiliki peluang tumbuh apabila mendapatkan ruang belajar, pendampingan, dan akses terhadap pengetahuan baru.
Program Pengabdian kepada Masyarakat yang dilakukan oleh STIE Pancasetia Banjarmasin melalui dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Tahun 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat melalui pendekatan yang dekat dengan kebutuhan pelaku usaha.
Sebuah warung kecil di Sungai Jingah memperlihatkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah sederhana.
Memperbaiki cara memperkenalkan usaha, belajar menggunakan teknologi, dan membuka diri terhadap cara kerja baru dapat menjadi jalan bagi UMKM untuk keluar dari kebuntuan yang selama ini membatasi pertumbuhannya.
*Tim Pengabdian Masyarakat STIE Pancasetia Banjarmasin Terdiri dari Adista Anjar Diany, Nico Kosasih, Ros Nirwana, Kristin Mariyani, Muhammad Risanta.
