Menikmati Sehatnya Berlari Sejak Remaja dan Dewasa
Foto Ilustrasi - Penulis latihan lari era-80 dan masa kini. (Foto - Risanta).
Oleh : Muhammad Risanta
Jurnalis Senior – Akademisi
Selepas salat subuh handphone saya berdering. Di seberang sana terdengar suara sahabat saya, Syahriyanto Ruslan, Jurnalis Radio Elshinta, mengajak saya berolahraga pagi di hari Minggu.
Saya pun mengiyakan, karena inilah waktu yang pas untuk kembali memberi ruang bagi tubuh setelah sepekan dipadati kesibukan pekerjaan sebagai jurnalis dan mengajar di kampus di Banjarmasin dan Banjarbaru.
Olahraga yang kami lakukan adalah berlari, biasanya kalau ngga di kawasan Citraland atau Stadion Lambung Mangkurat.
Sebuah aktivitas sederhana, tetapi menyimpan begitu banyak kenangan. Berlari bukan sesuatu yang asing bagi saya. Olahraga ini sudah menjadi bagian perjalanan hidup sejak masa sekolah dasar, berlanjut ketika remaja, saat memasuki dunia rumah tangga, hingga sekarang ketika usia telah membawa saya pada fase kehidupan sebagai seorang kakek.
Setiap langkah kaki yang menyentuh aspal pagi itu seperti membuka kembali lembaran lama yang tersimpan rapi dalam ingatan. Saya kembali teringat masa SMA tahun 1980-an, ketika setiap tiga minggu sekali saya berlatih lari di Stadion 17 Mei Banjarmasin. Saat itu lapangan atletik menjadi tempat bertemunya anak-anak muda Banua yang memiliki mimpi, semangat, dan kecintaan terhadap olahraga.
Kami ditempa oleh dua pelatih atletik legendaris Kalimantan Selatan, almarhum Husni Mudaya dan Kamarul. Mereka bukan hanya mengajarkan teknik berlari, tetapi juga menanamkan disiplin, ketekunan, dan mental seorang atlet.
Sebab dalam olahraga, kemenangan bukan hanya tentang siapa yang tiba lebih cepat di garis akhir, melainkan bagaimana seseorang mampu mengalahkan rasa malas dan keterbatasan dalam dirinya sendiri.
Saya masih mengingat wajah-wajah para pelari yang kala itu menjadi bagian dari perjalanan atletik Banua. Saya berkesempatan berada dalam satu generasi dengan pelari-pelari hebat seperti almarhum Tajuddin Noor Admi, Bang Imamis, Kholil, si kembar Rusdi dan Rusli, almarhum Irwansyah atau yang dikenal dengan sebutan Ancah Tofa, serta Ali Akbar.
Kalau seangkatan saya ada Syamsudin (Pensiunan Kalak BPBD HSS), Edya Rosyadi (Guru olahraga SMA di Batola), Masnur Alamsyah (sekarang penggiat gowes), M Zain (Pegawai Bapelkes).
Ada pula sosok pelari senior yang sangat dikenal di kalangan atletik Kalimantan Selatan, almarhum M Arsyad yang kemudian akrab dipanggil Kai Api. Beliau terkadang ikut berlatih bersama kami, memberikan warna tersendiri dalam suasana latihan di Lapangan SKB Mulawarman maupun Stadion 17 Mei Banjarmasin.
Bagi kami saat itu, lapangan bukan sekadar tempat berolahraga. Lapangan adalah ruang pembelajaran kehidupan dan persaudaraan. Dari sana kami belajar bahwa setiap pencapaian membutuhkan proses panjang, keringat, kesabaran, dan keberanian untuk terus bergerak.

Dalam dunia olahraga, lari merupakan salah satu cabang atletik yang paling mendasar. Gerakannya terlihat sederhana, hanya melangkahkan kaki dengan kecepatan tinggi, tetapi di balik itu terdapat perpaduan antara kekuatan fisik, teknik, konsentrasi, dan daya tahan tubuh.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, lari berarti melangkah dengan kecepatan tinggi. Namun secara olahraga, lari memiliki karakteristik yang membedakannya dari jalan cepat. Dalam aktivitas lari terdapat fase melayang, yaitu ketika kedua kaki tidak menyentuh permukaan tanah secara bersamaan.
Momen singkat tersebut menjadi ciri khas olahraga lari. Tubuh seolah meninggalkan pijakan sesaat sebelum kembali menyentuh bumi untuk melanjutkan langkah berikutnya.
Cabang olahraga ini memiliki berbagai nomor pertandingan. Ada lari jarak pendek seperti 100 meter dan 200 meter yang membutuhkan ledakan kecepatan maksimal.
Ada lari jarak menengah yang menuntut keseimbangan antara kecepatan dan daya tahan. Ada pula lari jarak jauh seperti maraton yang menguji kemampuan fisik sekaligus mental seorang pelari.
Selain itu terdapat nomor estafet yang mengutamakan kerja sama tim serta lari gawang yang membutuhkan kombinasi kecepatan, kelincahan, dan teknik.

Lari merupakan bagian dari atletik, sebuah cabang olahraga yang sering disebut sebagai “ibu dari segala olahraga”. Sebutan tersebut bukan tanpa alasan. Atletik mengandung gerakan dasar yang menjadi fondasi berbagai aktivitas olahraga, yakni jalan, lari, lompat, dan lempar.
Melalui atletik, seseorang dapat meningkatkan kemampuan biomotorik seperti kekuatan, daya tahan, kecepatan, fleksibilitas, koordinasi, hingga keseimbangan tubuh.
Namun lebih dari sekadar teori olahraga, berlari mengajarkan filosofi kehidupan. Tidak semua orang harus menjadi juara di lintasan. Tidak semua orang harus mengejar catatan waktu terbaik. Terkadang kemenangan terbesar adalah ketika seseorang mampu melawan dirinya sendiri untuk tetap bergerak.
Saat ini olahraga lari mengalami perkembangan yang sangat pesat. Jika dahulu lari lebih banyak identik dengan atlet profesional, kini aktivitas tersebut telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan.
Fenomena komunitas lari tumbuh hampir di berbagai daerah. Setiap akhir pekan, jalan raya, taman kota, dan ruang publik dipenuhi orang-orang yang mengenakan sepatu olahraga, memasang jam pintar di tangan, lalu berlari bersama.
Menariknya, lari menjadi olahraga yang mampu mempertemukan berbagai latar belakang manusia. Seorang pengusaha dapat berlari bersama pekerja biasa. Seorang pejabat dapat berlari bersama mahasiswa. Seorang jurnalis dapat berbagi cerita dengan atlet, dokter, guru, maupun masyarakat umum.
Tidak ada sekat yang membedakan ketika semua orang berada di lintasan yang sama.
Salah satu alasan olahraga ini begitu diminati adalah karena sifatnya yang sederhana dan murah. Berlari tidak membutuhkan peralatan mahal atau tempat khusus. Seseorang cukup memiliki sepatu yang nyaman, pakaian olahraga, dan kemauan untuk memulai.
Aktivitas ini juga sangat fleksibel. Bisa dilakukan pagi hari sebelum bekerja, sore selepas aktivitas, maupun saat akhir pekan bersama keluarga dan komunitas.
Di tengah kehidupan modern yang semakin padat, lari menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari tekanan pekerjaan. Banyak penelitian kesehatan menunjukkan bahwa aktivitas fisik seperti berlari membantu menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan metabolisme, membakar kalori, serta menjaga kesehatan jantung.
Namun manfaat berlari tidak hanya dirasakan oleh tubuh.
Bagi banyak orang, berlari menjadi cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental. Setelah beberapa kilometer melangkah, pikiran terasa lebih ringan. Hormon endorfin yang dilepaskan tubuh memberikan rasa nyaman dan membantu mengurangi tekanan psikologis akibat rutinitas sehari-hari.
Saya merasakan sendiri bagaimana langkah kaki di pagi hari memberikan energi baru. Ada ruang untuk berpikir, mengingat masa lalu, sekaligus mensyukuri perjalanan panjang yang telah dilalui.
Berlari mengajarkan bahwa kehidupan bukan perlombaan untuk selalu menjadi yang tercepat. Ada masa ketika seseorang harus berlari mengejar mimpi, ada waktu ketika seseorang harus memperlambat langkah untuk menikmati perjalanan.
Puluhan tahun telah berlalu sejak saya mengenakan kostum merah dan berlatih di Stadion 17 Mei Banjarmasin bersama para pelari muda Banua. Banyak wajah yang dulu berlari bersama kini hanya tinggal kenangan. Sebagian telah meninggalkan dunia, tetapi semangat mereka tetap hidup dalam ingatan.
Hari ini, ketika kaki kembali menyentuh jalan, saya tidak lagi mengejar medali atau catatan waktu. Saya berlari untuk menjaga kesehatan, merawat kenangan, dan menikmati setiap kesempatan yang diberikan kehidupan.
Sebab dalam setiap langkah ada cerita dan setiap keringat ada perjuangan. Dan dalam setiap perjalanan panjang, selalu ada alasan untuk tetap bergerak.
Berlari bukan hanya tentang seberapa jauh jarak yang mampu ditempuh, melainkan tentang bagaimana seseorang menjaga semangat agar tetap hidup.
Karena selama masih mampu melangkah, selalu ada kesempatan untuk menikmati sehatnya berlari.
