Antara Mesin Cerdas dan Nilai Manusia

0
MAHASISWA DAN ROFINUS LEKI

Oleh : Rofinus Leki

Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin & Praktisi Keuangan

Beberapa waktu lalu, selepas mengajar, saya berbincang dengan beberapa mahasiswa yang sedang menikmati waktu istirahat di kantin kampus.

Mereka bercerita tentang pengalaman menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan akademik maupun kreatif.

Ada yang mengatakan, tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat. Ada pula yang merasa terbantu karena AI mampu memberikan ide ketika mereka mengalami kebuntuan.

Saya hanya tersenyum mendengarkan cerita mereka. Di satu sisi, ada rasa kagum melihat perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih besar bagaimana manusia akan menempatkan dirinya ketika mesin mulai mampu melakukan banyak hal yang sebelumnya hanya dapat dikerjakan oleh manusia?

Pertanyaan serupa pernah disampaikan seorang teman saya yang berprofesi sebagai guru. Ia merasa tertantang melihat perubahan cara belajar generasi muda.

Dahulu, siswa mencari referensi dari buku dan berdiskusi lebih panjang untuk menyelesaikan tugas. Kini, jawaban dapat ditemukan dalam hitungan detik melalui bantuan AI.

Namun, persoalannya bukan semata-mata apakah siswa menggunakan AI atau tidak. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana memastikan teknologi tersebut membantu proses berpikir, bukan menggantikan kebiasaan berpikir.

Saya juga melihat pengalaman menarik dari dunia usaha dan industri kreatif. Seorang desainer yang saya kenal memanfaatkan AI untuk mencari inspirasi pola pakaian dan mengembangkan gagasan desain.

Seorang programmer di Banjarmasin bercerita bahwa pekerjaan tertentu yang dulu memerlukan waktu panjang kini dapat dibantu teknologi sehingga proses pengembangan menjadi lebih efisien.

Perubahan itu nyata. Jika kita perhatikan ternyata dunia kerja sedang bergerak menuju pola baru.

Karena itu, perdebatan mengenai AI sebenarnya tidak lagi berada pada pertanyaan apakah teknologi ini akan mengubah kehidupan manusia. Perubahan tersebut sudah berlangsung.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana masyarakat, dunia pendidikan, dan dunia usaha mampu menyesuaikan diri.

Selama ini, banyak orang membicarakan AI dari sisi pekerjaan yang mungkin hilang. Kekhawatiran tersebut sangat wajar. Sebab bagi banyak orang, pekerjaan bukan hanya cara mendapatkan penghasilan, melainkan bagian penting dari perjalanan hidup.

Melalui pekerjaan, seseorang membangun kepercayaan diri. Seseorang merasa memiliki kemampuan, memiliki peran, dan memiliki kontribusi bagi keluarga maupun masyarakat.

Makanya wajar ketika pekerjaan berubah atau bahkan hilang, yang terganggu bukan hanya kondisi ekonomi seseorang, tetapi juga rasa kebermaknaan dalam dirinya.

Aspek inilah yang sering kurang mendapat perhatian dalam pembahasan tentang masa depan pekerjaan.

Sejarah sebenarnya sudah berkali-kali memperlihatkan bahwa teknologi selalu membawa perubahan besar. Ketika mesin mulai digunakan dalam industri, banyak pekerjaan manual berkurang.

Ketika komputer masuk ke ruang kantor, cara manusia bekerja berubah. Ketika internet berkembang, berbagai profesi baru muncul sementara sebagian pekerjaan lama perlahan ditinggalkan.

Manusia selalu hidup berdampingan dengan perubahan teknologi.

Perbedaan era AI dengan perubahan sebelumnya adalah kecepatannya. Dunia kerja tidak lagi memiliki waktu panjang untuk beradaptasi. Kemampuan baru harus dipelajari lebih cepat karena perubahan teknologi berlangsung hampir setiap saat.

Karena itu, pertanyaan yang sering muncul adalah pekerjaan apa yang akan tetap bertahan ketika AI semakin berkembang?

Mungkin pertanyaan tersebut perlu dilihat dari sudut yang lebih luas, bukan hanya satu sudut saja atau angle (istilah sahabat saya Risanta).

Yang perlu dipikirkan bukan hanya jenis pekerjaan apa yang aman, tetapi kemampuan apa yang harus dimiliki manusia agar tetap relevan.

AI memang memiliki kemampuan luar biasa dalam mengolah informasi. Teknologi ini dapat membantu manusia mencari pola dari data, menyusun berbagai alternatif, dan mempercepat proses pekerjaan.

Namun, keputusan tentang bagaimana teknologi digunakan tetap membutuhkan manusia yang memiliki pertimbangan, pengalaman, dan tanggung jawab.

Sebuah mesin dapat memberikan rekomendasi, tetapi manusia yang menentukan apakah keputusan tersebut tepat atau tidak. Sebuah sistem dapat membaca kecenderungan perilaku, tetapi manusia tetap yang memahami nilai, etika, dan konsekuensi dari sebuah pilihan.

Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya menghasilkan orang yang mahir menggunakan teknologi. Dunia itu membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki karakter, mampu bekerja sama, dan memahami persoalan di sekitarnya.

Dalam perspektif ekonomi, perkembangan AI memberikan peluang besar. Produktivitas dapat meningkat, proses bisnis menjadi lebih cepat, dan inovasi dapat berkembang lebih luas.

Namun, pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya dilihat dari seberapa besar efisiensi yang dihasilkan teknologi. Ada sisi lain yang perlu dijaga, yaitu bagaimana masyarakat tetap memiliki kesempatan untuk bekerja, berkembang, dan merasa dihargai.

Ekonomi pada dasarnya berbicara tentang manusia yang mengelola sumber daya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Angka pertumbuhan, investasi, dan produktivitas memang penting, tetapi semua itu tetap memiliki tujuan akhirnya yakni meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Karena itu, tantangan terbesar era AI bukan sekadar menciptakan tenaga kerja yang mampu menggunakan teknologi. Tantangan yang lebih luas adalah membangun manusia yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan nilai dirinya.

Jadi seorang guru tetap memiliki peran penting karena pendidikan bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi membentuk cara berpikir dan karakter peserta didik.

Demikian pula seorang dokter tetap dibutuhkan karena pengobatan bukan hanya persoalan membaca data kesehatan, tetapi juga memahami kecemasan seorang pasien.

Nah pada tatalaksana leadership seorang pemimpin tetap diperlukan karena keputusan tidak selalu dapat dibuat hanya berdasarkan perhitungan angka.

Teknologi dapat mempercepat banyak pekerjaan, tetapi hubungan antarmanusia tetap membutuhkan kepercayaan dan kepedulian.

Karena itu, AI sebaiknya tidak dipandang sebagai lawan yang harus ditakuti. Teknologi ini adalah bagian dari perjalanan manusia dalam mencari cara bekerja yang lebih baik.

Pertanyaan penting bagi kita bukan hanya apakah mesin akan semakin pintar, tetapi apakah manusia juga terus mengembangkan kebijaksanaan dalam menggunakan kecerdasannya.

Kemampuan memahami teknologi akan menjadi modal penting. Namun, kemampuan menjaga integritas, membangun hubungan, dan bertanggung jawab terhadap keputusan akan menjadi bekal yang semakin berharga.

Perubahan teknologi selalu membawa tantangan. Bahasa sederhanannya lagi sejarah menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk belajar dan beradaptasi.

AI mungkin akan mengubah banyak pekerjaan. Namun, masa depan tetap bergantung pada bagaimana manusia memilih menggunakan teknologi tersebut.

Apakah sekadar mengejar kecepatan dan efisiensi, atau menjadikannya sebagai alat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Sebab teknologi itu hanyalah alat. Arah perjalanan tetap ditentukan oleh manusia yang menggunakannya.Sederhana saja khan!

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!