Pemadaman PLN, Forkot Banjarmasin Hitung Kerugian Warga Capai Rp10,59 Triliun
Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan kembali menuai sorotan.
Forum Kota (Forkot) Banjarmasin menilai gangguan pasokan listrik tidak hanya berdampak pada kenyamanan masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar.
Ketua Forum Kota (Forkot) Banjarmasin, Syarifuddin Nisfuadi, mengungkapkan hasil simulasi internal pihaknya menunjukkan potensi kerugian masyarakat akibat pemadaman listrik dapat mencapai Rp10,59 triliun.
Angka tersebut dihitung berdasarkan asumsi jumlah penduduk terdampak sebanyak 745.652 jiwa dengan estimasi kerugian rata-rata sebesar Rp14,2 juta per orang.
Perhitungan itu mencakup kerugian materiil maupun immateriil yang muncul akibat terganggunya aktivitas masyarakat selama pemadaman berlangsung.
“Ini merupakan simulasi untuk menggambarkan besarnya dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat. Bukan angka kerugian final secara hukum, tetapi menjadi gambaran bahwa pemadaman listrik memiliki konsekuensi yang tidak kecil,” ujar Syarifuddin kepada awak media, Minggu (26/07/2027).
Menurutnya, pemadaman listrik dengan durasi rata-rata sekitar empat jam per hari telah memberikan tekanan terhadap berbagai sektor kehidupan warga. Mulai dari aktivitas rumah tangga, usaha kecil, perdagangan, pelayanan publik, hingga kegiatan ekonomi berbasis teknologi.
“Ketika listrik padam, yang berhenti bukan hanya mesin atau lampu di rumah. Banyak usaha kehilangan transaksi, bahan baku rusak, pekerjaan terganggu, dan masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengatasi kondisi tersebut,” katanya.
UMKM Berpotensi Rugi Rp92,5 Miliar
Forkot Banjarmasin juga menyoroti dampak pemadaman terhadap sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Dengan asumsi jumlah UMKM sekitar 37.000 unit usaha dan kerugian rata-rata Rp2,5 juta per usaha akibat gangguan operasional, penurunan omzet, kerusakan bahan baku, serta tambahan biaya energi alternatif, maka potensi kerugian sektor UMKM diperkirakan mencapai Rp92,5 miliar.
Syarifuddin mengatakan pelaku usaha kecil menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampak ketika pasokan listrik tidak stabil.
“Pedagang makanan, usaha minuman, toko kelontong, usaha berbasis internet, hingga industri rumahan sangat bergantung pada listrik. Sekali operasional terganggu, pendapatan mereka langsung terdampak,” jelasnya.
Dorong PLN Evaluasi Sistem Pelayanan
Forkot Banjarmasin meminta PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (PLN Kalselteng) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyediaan listrik di daerah.
Menurut Syarifuddin, masyarakat sebagai pelanggan memiliki hak memperoleh pelayanan listrik yang andal sesuai standar pelayanan yang telah ditetapkan.
“PLN harus terbuka menjelaskan penyebab pemadaman, langkah perbaikan, dan bagaimana memastikan kejadian serupa tidak terus berulang. Masyarakat membutuhkan kepastian, bukan hanya informasi gangguan,” tegasnya.
Ia menambahkan, apabila ditemukan adanya kerugian nyata yang dialami masyarakat, Forkot Banjarmasin siap mendorong langkah hukum sebagai bentuk perjuangan terhadap hak warga.
“Kami mengajak masyarakat yang mengalami kerugian untuk mendokumentasikan semuanya. Bukti kerusakan alat elektronik, kehilangan omzet, biaya tambahan, dan dampak lainnya harus dicatat,” ujarnya.
Syarifuddin menegaskan, persoalan listrik harus ditempatkan sebagai isu pelayanan publik strategis.
“Listrik adalah kebutuhan dasar masyarakat modern. Ketika pasokan terganggu secara berulang, dampaknya merembet ke ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan produktivitas warga,” pungkasnya.
Simulasi potensi kerugian yang disampaikan Forkot Banjarmasin bersifat ilustratif untuk menggambarkan dampak ekonomi dan sosial akibat pemadaman listrik. Besaran kerugian dalam proses hukum nantinya tetap harus dibuktikan berdasarkan fakta, bukti pendukung, serta kerugian riil yang dialami masyarakat.
Sementara Humas PLN Humaidi, menolak memberikan komentar dan hanya menyebutkan sedang menunggu koordinasi pengelola dan manajemen.
“ Kami lagi koordinasi dengan pengelola kita untuk progressnya Pak, InsyaAllah kaulw sudah ada segera kami share Pak,” katanya singkat, lewat chat Whatsapps. (Olpah Sari).
