Sepak Bola Mengajarkan Kerendahan Hati

0
BAMBANG HASIL BRASIL NORWEGIA

Oleh: Bambang Budiansyah

Kolumnis Economic Travelling

Sejak subuh hingga pagi Senin ini kita disuguhkan dua partai menarik di 16 besar. Ada Brasil bersua dengan Norwegia dan Inggris melawan Mexico. Dua partai yang menyita perhatian dunia termasuk kita yang di Indonesia.

Piala Dunia selalu lebih besar daripada sepak bola itu sendiri.Karena menjadi panggung tempat negara-negara membawa mimpi, harga diri, bahkan sepotong sejarah. Setiap empat tahun sekali, dunia seolah berhenti sejenak.

Maka orang-orang rela begadang, melupakan pekerjaan esok pagi, hanya untuk melihat selembar bola bergulir di atas rumput hijau.

Dan Piala Dunia 2026 kembali membuktikan satu hal yang paling indah dari olahraga ini tidak ada yang benar-benar abadi.Termasuk negeri sepakbola indah, Brasil.

Sejak kecil, nama Brasil selalu identik dengan kemenangan. Dari Pele, Romario, Ronaldo, Ronaldinho, hingga Neymar, negeri Samba seolah memiliki pabrik yang tak pernah berhenti memproduksi pesepak bola berbakat.

Namun sepak bola tidak pernah mengenal sejarah. Ia hanya mengenal siapa yang bermain lebih baik hari ini.

Di Stadion MetLife, New Jersey, sejarah itu berubah. Norwegia, negara yang selama ini lebih dikenal karena fjord yang indah dan aurora yang memesona, justru menuliskan kisah terbesar dalam sejarah sepak bolanya.

Dan di momen ini Erling Haaland menjadi tokoh utama.

Dua golnya pada menit-menit akhir mengubah wajah pertandingan. Brasil yang sempat merasa aman mendadak kehilangan arah. Penalti Neymar di penghujung laga hanya menjadi catatan kecil di papan skor.

Peluit panjang berbunyi dan sudah dipastikan Brasil pulang.Lalu Norwegia berpesta, maka begitulah sepakbola.

Ia sering kali menulis cerita yang tidak pernah disiapkan oleh para penulis skenario.

Kekalahan Brasil tentu langsung mengarah kepada satu nama: Carlo Ancelotti.

Pelatih asal Italia itu datang dengan reputasi luar biasa. Lemari trofinya penuh. Pengalamannya melatih klub-klub elite Eropa nyaris tanpa tandingan. Namun melatih tim nasional ternyata berbeda.

Di klub, seorang pelatih punya waktu berbulan-bulan untuk membangun filosofi permainan. Di tim nasional, waktu jauh lebih singkat. Semua harus berjalan cepat.

Pilihan Bruno Guimarães sebagai algojo penalti yang gagal menjadi salah satu keputusan yang terus diperdebatkan. Di media sosial, kritik datang seperti hujan deras.

Tetapi Ancelotti memilih tetap tenang.Pria ini tidak menyalahkan pemain dan juga tidak mencari kambing hitam.

Ia hanya berkata bahwa kekalahan ini adalah awal dari sebuah siklus baru. Kalimat yang sederhana, tetapi mengandung keberanian.

Selamat Jalan Neymar !

Di sisi lain, ada suasana haru yang sulit dilupakan adalah Neymar.

Nama yang selama lebih dari satu dekade menjadi simbol sepak bola Brasil itu memberi isyarat bahwa inilah penampilan terakhirnya bersama tim nasional.

Waktu memang tidak pernah bisa dihentikan. Setiap generasi memiliki akhirnya sendiri. Dulu kita menyaksikan Pele berpamitan, lalu Ronaldo disusul Ronaldinho. Dan kini perpisahan itu dilakukan Neymar.

Sepak bola selalu melahirkan bintang baru, tetapi olahraga populer ini juga selalu mengajarkan cara mengucapkan selamat tinggal.

Di tengah semua kesedihan itu, justru muncul satu pemandangan yang menurut saya jauh lebih indah daripada dua gol Haaland.

Video singkat yang beredar di media sosial memperlihatkan Vinicius Junior menghampiri Haaland selepas pertandingan.Menariknya tidak ada wajah marah, sindiran dan ego. Hanya sebuah uluran tangan, lalu pelukan.Hem sesederhana itu bikin dunia bersimpati.

Dunia sepak bola modern sering dipenuhi rivalitas yang kadang berlebihan. Tetapi dua pemain muda ini mengingatkan kita bahwa kompetisi tidak harus menghilangkan rasa hormat.

Haaland tetap rendah hati meski kini namanya sejajar dengan Kylian Mbappé dan Lionel Messi dalam perebutan top skor sementara.

Vinicius pun menunjukkan bahwa kekalahan tidak membuat seseorang kehilangan kelas. Barangkali inilah kemenangan yang sesungguhnya.

Kini Norwegia bersiap menghadapi Inggris di babak perempat final.

Inggris datang dengan kepercayaan diri tinggi.

Harry Kane kembali menjadi pemimpin yang tenang di lini depan. Jude Bellingham terus berkembang menjadi gelandang komplet yang mampu mengatur ritme sekaligus mencetak gol.

Mereka menyingkirkan Meksiko dalam pertandingan dramatis di Estadio Azteca.

Perjalanan mereka juga semakin diperhitungkan. Berbagai analisis statistik bahkan mulai memasukkan Inggris sebagai salah satu kandidat kuat juara.

Namun, jika Piala Dunia mengajarkan sesuatu, statistik hanyalah angka. Yang menentukan tetaplah sembilan puluh menit di atas lapangan.

Sebagai penikmat sepak bola, saya justru menikmati Piala Dunia kali ini bukan semata karena gol-gol spektakuler.

Yang membuat saya jatuh hati adalah cerita-cerita kecil di balik pertandingan. Tentang seorang pelatih yang tetap bertanggung jawab ketika kalah.

Tentang seorang legenda yang memilih mengakhiri perjalanan dengan kepala tegak. Tentang dua rival yang saling berpelukan setelah bertarung habis-habisan.

Dan tentang seorang striker bernama Erling Haaland yang tetap rendah hati ketika seluruh dunia sedang memujanya.

Sepak bola memang selalu lebih indah ketika para pemainnya mengingat bahwa kemenangan hanyalah tamu.

Hari ini ia datang dan besok bisa pergi. Mungkin itulah mengapa Piala Dunia selalu dirindukan. Karena setiap pertandingan bukan sekadar mencari siapa yang paling kuat.

Melainkan mengingatkan kita bahwa dalam hidup, seperti halnya sepak bola, tidak ada mahkota yang melekat selamanya.

Yang abadi hanyalah sportivitas, kerendahan hati, dan keberanian untuk bangkit ketika harus pulang lebih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!