Siapa Itu Penulis Buku?
Oleh: Muhammad Risanta
Siapa sebenarnya penulis buku?
Kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya, jawabannya sederhana saja penulis buku adalah orang yang tidak pernah berhenti bercakap-cakap dengan pikirannya sendiri.
Percakapan itu kadang terjadi di meja kerja. Kadang saat menyeruput kopi. Kadang justru ketika sedang naik motor, melihat hujan turun di pinggir jalan, atau ketika menunggu pesawat yang tak kunjung lepas landas.
Ide datang tanpa mengetuk pintu. Ide bisa muncul sesuka hati. Tugas penulis hanya satu, jangan biarkan ide itu pergi begitu saja.
Banyak orang mengira penulis buku adalah profesi yang penuh ketenangan. Duduk di depan laptop, mengetik beberapa jam, lalu buku selesai. Ah, kalau semudah itu, mungkin semua orang sudah menjadi penulis.
Padahal, menulis buku lebih mirip perjalanan mendaki gunung. Ada semangat di awal, kelelahan di tengah, dan rasa haru ketika akhirnya tiba di puncak.
Saya sering mengatakan bahwa buku tidak lahir dari jari-jari yang lincah mengetik. Buku lahir dari kepala yang terus berpikir dan hati yang tidak pernah berhenti merasa.
Penulis buku bukan hanya pencipta cerita. Karena ia juga penyimpan pengalaman manusia.
Ada penulis yang membangun dunia imajinasi. Mereka melahirkan tokoh-tokoh yang membuat pembaca tertawa, menangis, marah, bahkan jatuh cinta. Mereka disebut penulis fiksi. Novel, cerpen, puisi, hingga skenario film lahir dari kreativitas mereka.
Di sisi lain ada penulis nonfiksi. Mereka tidak sedang membangun kerajaan khayalan, tetapi merangkai fakta menjadi pengetahuan. Mereka menulis buku sejarah, biografi, buku pelajaran, buku motivasi, hingga karya ilmiah. Senjatanya bukan sekadar imajinasi, melainkan data, riset, dan ketelitian.
Keduanya sama-sama penting, yang satu menghidupkan mimpi.Sedangkan yang satunya lagi memperkaya wawasan.
Sesungguhnya dan jujur saja, banyak orang hanya melihat hasil akhirnya yang menjadi sebuah buku yang tersusun rapi di rak toko. Jarang yang melihat perjalanan panjang di belakangnya.

Sebelum sebuah buku hadir di tangan pembaca, penulis biasanya melewati banyak tahap. Mencari referensi, membaca puluhan buku lain, mewawancarai narasumber, menyusun kerangka tulisan, menulis bab demi bab, lalu mengedit berkali-kali.
Percayalah, bagian paling sulit dalam menulis bukan menemukan kata pertama.
Yang paling sulit adalah menghapus kalimat yang sebenarnya kita sukai, tetapi ternyata tidak membuat tulisan menjadi lebih baik.Kadang fase ini ego seorang penulis diuji.
Ada pula pertanyaan yang sering muncul. Apa bedanya penulis dan pengarang?
Dalam percakapan sehari-hari, dua istilah itu memang sering dipakai bergantian.
Namun, ada perbedaan kecil yang menarik. Penulis adalah siapa saja yang menghasilkan tulisan. Seorang jurnalis, blogger, kolumnis, bahkan mahasiswa yang menulis skripsi pun bisa disebut penulis.
Sementara pengarang biasanya merujuk kepada sosok yang menciptakan sebuah karya utuh, terutama karya sastra atau buku, lengkap dengan ide, alur, dan jiwanya.
Perbedaannya memang tipis. Tetapi keduanya sama-sama menghasilkan sesuatu yang berharga: gagasan.
Saya pribadi sering bertemu orang yang berkata, “Saya ingin menulis buku, tapi belum berbakat.”
Saya selalu tersenyum mendengar kalimat itu. Karena menjadi penulis sebenarnya tidak memiliki syarat yang rumit.Karena menulis itu tidak ada ijazah khusus, batas usia apalagi pakai test masuk segala.
Yang dibutuhkan hanyalah rasa ingin tahu yang besar dan kemauan untuk terus belajar.
Semua penulis hebat pernah menjadi penulis pemula. Tahukah kita semua buku terbaik pernah berupa halaman kosong.
Kalau ada satu rahasia menjadi penulis, mungkin jawabannya justru bukan menulis. Melainkan membaca.
Semakin banyak membaca, semakin kita mengenal berbagai gaya bercerita, cara menyusun argumen, memilih diksi, hingga membangun emosi pembaca.
Membaca adalah sekolah yang tidak pernah tutup bagi seorang penulis.
Saya selalu percaya, perpustakaan adalah ruang latihan terbaik sebelum seseorang berani menulis bukunya sendiri.
Lalu, kapan waktu terbaik untuk menulis? Kalau saya menjawabnya ya sekarang, kapan lagi. Ingat jangan menunggu laptop mahal atau menunggu meja kerja yang estetik.
Apalagi sampai menunggu secangkir kopi yang sempurna di atas meja. Ide tidak pernah peduli apakah kita sedang berada di ruang kerja atau di halte bus.
Karena itu, biasakan mencatat apa saja. Di telepon genggam, buku kecil, secarik kertas, bahkan di belakang struk belanja jika memang tidak ada pilihan lain.
Banyak buku besar lahir dari catatan-catatan kecil yang nyaris terlupakan.
Gangguan terbesar seorang penulis sebenarnya bukan media sosial.
Bukan pula notifikasi telepon, tetapi rasa takut.Karena takut tulisan dianggap biasa dan dikritik bahkan bukunya tidak ada yang membaca dan tidak laku.

Padahal, setiap penulis yang hari ini terkenal pernah mengalami ketakutan yang sama. Bedanya, mereka tetap menulis.
Saya percaya, buku memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada penulisnya.
Seseorang boleh saja telah tiada, tetapi pikirannya masih terus berbicara melalui halaman demi halaman yang ia tinggalkan.
Itulah sebabnya menulis buku bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi adalah sebuah cara bijak meninggalkan jejak.
Jejak yang mungkin akan dibaca anak-anak kita. Jejak yang mungkin menginspirasi orang yang bahkan tidak pernah kita kenal.
Jejak yang akan berkata kepada masa depan, “Aku pernah hidup. Aku pernah berpikir. Dan aku pernah berbagi.”
Jadi sejatinya memang penulis buku bukanlah orang yang sekadar pandai merangkai kata.Penulis dalam kacamata saya adalah orang yang merawat dan menjaga ingatan.
Karena di dalamnya ada gagasan yang dirawat dan barangkali pencerita zaman.
Dan barangkali, seseorang yang percaya bahwa satu buku yang baik mampu mengubah cara seseorang memandang dunia.
Bukankah itu alasan yang cukup indah untuk mulai menulis hari ini?
