Menjadi Dosen Mengapa Tidak ?
Oleh: Muhammad Risanta
Beberapa hari lalu, saya membaca tulisan sahabat saya, Dr. Saukani, yang diposting Junaidi, pensiunan reporter RRI Banjarmasin. Tulisan itu sederhana, tetapi cukup mengusik pikiran.
Sebagaimana biasanya, Dr. Saukani selalu melihat persoalan dengan sudut pandang yang luas dan jernih. Sebagai sahabat, kami cukup sering berdiskusi tentang banyak hal, mulai dari pendidikan, media, hingga masa depan generasi muda.
Saya sepakat dengan sebagian besar pandangan beliau. Bahwa hari ini, profesi dosen memang sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Dulu, menjadi dosen adalah cita-cita banyak orang. Profesi ini dipandang mulia, bergengsi, sekaligus menjanjikan stabilitas hidup. Di kampung-kampung, jika ada anak yang menjadi dosen, orang tua akan bercerita dengan bangga kepada tetangga.
Status sosialnya tinggi. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan profesi dosen sebagai puncak karier intelektual. Namun zaman telah berubah.
Hari ini, ketika saya berdiskusi dengan banyak anak muda, terutama Generasi Z, jawabannya hampir seragam. Mereka lebih tertarik bekerja di perusahaan teknologi, menjadi konsultan, membuka usaha digital, menjadi kreator konten, atau berkarier di sektor industri kreatif.
Menjadi dosen? Bukan pilihan utama.
Mengapa? Jawabannya ternyata cukup sederhana tentang perhitungan rasional.

Generasi muda sekarang sangat realistis. Mereka menghitung antara pengorbanan dan hasil yang diperoleh. Untuk menjadi dosen, seseorang minimal harus menyelesaikan pendidikan S2. Banyak pula perguruan tinggi yang mensyaratkan S3 untuk pengembangan karier jangka panjang.
Setelah itu, tantangan baru muncul. Ada Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus dijalankan secara bersamaan mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian kepada masyarakat.
Belum lagi kewajiban publikasi ilmiah, akreditasi, sertifikasi, laporan kinerja, hingga urusan administratif yang kadang menyita energi lebih besar daripada kegiatan akademik itu sendiri.
Sebagian dosen bahkan berkelakar, “Waktu menulis laporan lebih banyak daripada waktu membaca buku.”
Tentu ini ironi. Padahal, dosen idealnya adalah manusia pembelajar. Mereka semestinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpikir, meneliti, menulis, dan mendampingi mahasiswa.
Persoalan berikutnya adalah kesejahteraan.
Harus diakui, terutama di sejumlah perguruan tinggi swasta, penghasilan dosen sering kali belum sepenuhnya kompetitif jika dibandingkan dengan profesi lain.
Ketika seorang lulusan terbaik dapat memperoleh pendapatan dua atau tiga kali lebih besar di sektor teknologi atau keuangan, maka pilihan menjadi dosen menjadi semakin berat.
Tetapi, apakah ini berarti profesi dosen akan kehilangan masa depan?
Saya kira tidak. Profesi dosen tidak akan pernah punah. Dunia pendidikan akan selalu membutuhkan mereka. Yang perlu dilakukan adalah melakukan penyesuaian terhadap perubahan zaman.
Kampus tidak bisa lagi dikelola dengan cara-cara lama.

Anak muda hari ini membutuhkan ruang yang fleksibel. Mereka menyukai otonomi, kebebasan berkreasi, dan lingkungan kerja yang tidak terlalu birokratis. Kampus perlu bertransformasi menjadi ruang intelektual yang lebih dinamis.
Dosen muda harus diberi kesempatan membangun personal branding. Mereka tidak boleh hanya hidup di ruang kelas. Mereka harus hadir di ruang digital.
Mengapa seorang dosen tidak boleh memiliki podcast sendiri?
Mengapa seorang akademisi tidak boleh aktif di media sosial menjelaskan ilmu pengetahuan dengan bahasa sederhana?
Mengapa seorang profesor tidak bisa menjadi influencer intelektual?
Justru dari kacamata saya yang sederha ini di situlah tantangan masa depan pendidikan.
Saya membayangkan suatu saat nanti, dosen tidak hanya dikenal melalui jurnal ilmiah, tetapi juga melalui kanal YouTube, podcast, TikTok edukasi, atau forum-forum diskusi digital. Ilmu pengetahuan harus keluar dari tembok kampus dan hadir di tengah masyarakat.
Kampus juga perlu mempercepat reformasi birokrasi. Proses kenaikan jabatan akademik, sertifikasi dosen, maupun pengembangan karier harus lebih transparan, sederhana, dan cepat. Jangan sampai idealisme anak muda padam hanya karena berhadapan dengan tumpukan administrasi.
Sebab sesungguhnya, banyak anak muda masih memiliki hasrat mengajar. Banyak pula yang ingin berbagi ilmu dan berkontribusi bagi bangsa. Hanya saja, mereka ingin profesi dosen tampil lebih relevan dengan zamannya.
Saya sendiri akhirnya jua mendapat tawaran untuk mengajar secara tetap di perguruan tinggi swasta dan berlabuh disana puluhan tahun lamanya . Sebuah kehormatan tentu saja.
Disisi lain hingga kini, saya juga memilih tetap berada di jalur profesi yang saya cintai dunia jurnalistik.
Bukan karena saya menolak dunia akademik sepenuh hati. Saya hanya percaya bahwa setiap orang memiliki panggilan hidupnya masing-masing.
Memang sebagian besar hidup saya tetap berada di ruang redaksi, menulis, merekam peristiwa, serta menjaga agar suara-suara masyarakat tetap menemukan jalannya.
Sebab bagi saya, menjadi jurnalis juga merupakan ruang pengabdian.
Bukankah endingnya, dosen maupun wartawan sama-sama sedang melakukan satu pekerjaan yang sama mencerdaskan kehidupan bangsa?
Hanya ruang kelasnya saja yang berbeda, namun tujuannya mulia.
*Penulis Adalah Seorang Jurnalis Senior dan Akademisi.
