Jangan Biarkan Lok Baintan Tinggal Kenangan

0
RISANTA-ARIFIN

Oleh: Muhammad Risanta

Suatu malam, saya berbincang santai dengan salah satu legenda pariwisata Kalimantan Selatan, Muhammad Arifin. Bagi insan pariwisata Banua, nama ini bukanlah sosok asing.

Setelah memasuki masa purnatugas sebagai aparatur sipil negara, Arifin tetap mengabdikan diri pada isu lingkungan dan pariwisata. Ia kini lebih banyak menghabiskan waktu menjaga warisan yang menurutnya tak ternilai yakni budaya sungai urang Banjar.

Di sela obrolan, terselip kegelisahan mendalam. Arifin khawatir terhadap masa depan Pasar Terapung Lok Baintan di Kabupaten Banjar.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Ia pernah menyaksikan sendiri bagaimana Pasar Terapung Kuin yang dahulu begitu ramai perlahan kehilangan denyut kehidupannya.

“Jangan sampai Lok Baintan bernasib sama,” ujar Ketua Dewan Pengawas Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalimantan Selatan itu, sembari menyeruput teh panas di sebuah warung malam di kawasan S Parman Banjarmasin.

Kekhawatiran tersebut patut menjadi alarm bersama.

Pasar Terapung bukan sekadar tempat transaksi ekonomi. Ia merupakan representasi peradaban sungai masyarakat Banjar yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Di atas jukung-jukung kecil itulah nilai gotong royong, budaya bertutur, tradisi berpantun, hingga pola interaksi sosial masyarakat sungai diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa warisan budaya dapat hilang apabila tidak dijaga secara serius.

 

Muhammad Arifin, Tour Guide Legenda Banua. (Foto – Risanta).

Pasar Terapung Kuin menjadi contoh nyata. Dahulu pasar ini merupakan pusat perdagangan utama masyarakat sungai. Seiring perubahan zaman, masyarakat beralih ke pasar darat yang dianggap lebih praktis.

Budaya barter mulai ditinggalkan. Aktivitas ekonomi di sungai menurun. Degradasi lingkungan sungai pun memperparah keadaan.

Akibatnya, pasar yang dahulu menjadi denyut ekonomi masyarakat sungai itu perlahan kehilangan pembeli, kehilangan fungsi sosial, bahkan hampir kehilangan identitasnya.

Pemerintah Kota Banjarmasin kemudian melakukan berbagai langkah penyelamatan melalui revitalisasi kawasan di sekitar Makam Sultan Suriansyah.

Pasar dihidupkan kembali dengan orientasi wisata budaya. Namun, perubahan fungsi tersebut juga menghadirkan tantangan baru: pasar tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang ekonomi masyarakat lokal, melainkan lebih banyak bergantung pada kunjungan wisatawan.

Pengalaman Kuin semestinya menjadi pelajaran berharga bagi Lok Baintan.

Hari ini, Lok Baintan masih tampak hidup. Setiap pagi puluhan acil dengan penuh semangat mendayung jukung membawa hasil kebun, buah-buahan, sayuran, hingga berbagai kuliner khas Banjar. Pantun-pantun yang mereka lontarkan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Akan tetapi, di balik romantisme itu, terdapat persoalan mendasar yang tidak boleh diabaikan.

Pertama, persoalan regenerasi pedagang. Sebagian besar pedagang pasar terapung saat ini adalah perempuan lanjut usia. Generasi muda mulai enggan meneruskan profesi tersebut karena dianggap kurang menjanjikan secara ekonomi. Jika tidak ada skema regenerasi yang jelas, maka dalam beberapa dekade ke depan jumlah pedagang dapat terus menyusut.

Kedua, perubahan perilaku konsumen. Masyarakat modern lebih memilih berbelanja di pasar darat, minimarket, maupun platform digital. Kondisi ini membuat pasar terapung semakin bergantung pada sektor pariwisata.

Ketiga, persoalan lingkungan sungai. Sungai Martapura merupakan urat nadi keberlangsungan pasar terapung. Pencemaran, sedimentasi, dan perubahan tata ruang kawasan sungai akan berdampak langsung terhadap eksistensi pasar.

Karena itu, menjaga Lok Baintan tidak cukup hanya dengan menjadikannya objek wisata.

Pemerintah daerah harus memperkuat program pemberdayaan pedagang melalui bantuan modal, subsidi peremajaan jukung, hingga jaminan perlindungan sosial bagi para pedagang.

Kehadiran negara sangat diperlukan agar para acil tetap memiliki semangat berdagang.

 

Modernisasi juga tidak boleh dihindari. Digitalisasi transaksi melalui QRIS dapat menjadi jembatan antara tradisi dan kemajuan teknologi. Wisatawan akan semakin mudah bertransaksi tanpa menghilangkan karakter pasar tradisional.

Selain itu, promosi harus dikemas secara berkelanjutan. Festival Pasar Terapung tidak cukup diselenggarakan secara seremonial.

Yang dibutuhkan adalah agenda pariwisata tahunan yang konsisten, terintegrasi dengan paket wisata sungai, ekonomi kreatif, dan atraksi budaya masyarakat setempat.

Aspek terpenting lainnya adalah pelestarian lingkungan. Tanpa sungai yang sehat, tidak akan ada pasar terapung.

Upaya menjaga kebersihan Sungai Martapura harus menjadi gerakan kolektif pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga komunitas lingkungan.

Sebuah penelitian yang dilakukan Mutia Wilanda mengenai eksistensi pedagang Pasar Terapung Lok Baintan menunjukkan bahwa keberlangsungan pasar sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor sosial-budaya dan faktor penunjang fisik-operasional. Artinya, pasar terapung hanya akan bertahan apabila tradisi masyarakat tetap hidup dan didukung infrastruktur yang memadai.

Dengan kata lain, melestarikan Pasar Terapung Lok Baintan bukan semata mempertahankan destinasi wisata. Lebih dari itu, ini adalah upaya menjaga identitas, memori kolektif, dan peradaban sungai masyarakat Banjar.

Jika hari ini kita lalai menjaganya, bukan tidak mungkin beberapa puluh tahun mendatang anak cucu kita hanya dapat menyaksikan pasar terapung melalui foto-foto lama dan cerita nostalgia.

Dan saat itu terjadi, kita akan menyadari bahwa yang hilang bukan sekadar pasar, melainkan sepotong jiwa Banua.

*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!