Polda Kalsel Ajak Media “Jaga Narasi” Informasi Terbaik

0
KAPOLDA KALSEL DAN MEDIA

Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan dan Waka Polda Kalsel Brigjen Pol Noviar didampingi Ketua PWI Kalsel Zaenal Helmi serta Perwakilan KPID Kalsel dan Komisi Informasi Kalsel. (Foto - Olpah Sari).

Banjir informasi di ruang digital membuat batas antara fakta, opini, dan provokasi semakin kabur.

Di tengah situasi itu, Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan menilai stabilitas keamanan daerah kini tidak hanya ditentukan oleh kerja aparat di lapangan, tetapi juga oleh arah narasi yang berkembang di media dan media sosial.

Melalui sarasehan bersama awak media dan influencer di Auditorium Polda Kalsel, Selasa (23/06/2026), Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mengelola informasi publik agar tetap akurat dan tidak memicu kepanikan sosial.

Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan menyebut, kecepatan penyebaran informasi di era digital membuat satu isu kecil berpotensi membesar dalam waktu singkat jika tidak diimbangi klarifikasi dan pemberitaan yang proporsional.

“Ruang digital hari ini sangat cepat. Karena itu, kita perlu memastikan informasi yang beredar tidak justru menimbulkan keresahan,” ujarnya dalam forum tersebut.

Dalam pendekatan yang lebih luas, kepolisian melihat media dan influencer bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga aktor yang ikut membentuk persepsi publik terhadap situasi keamanan.

Di tengah dinamika itu, istilah “menjaga narasi” muncul sebagai penekanan pada pentingnya tanggung jawab bersama dalam ekosistem informasi,terutama saat isu-isu sensitif menyebar tanpa verifikasi yang memadai.

Forum tersebut juga menyoroti perubahan lanskap komunikasi publik, di mana media sosial kerap menjadi sumber utama informasi masyarakat, bahkan sebelum konfirmasi resmi keluar dari lembaga terkait.

Sejumlah rujukan umum menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat konsumsi media sosial yang tinggi di kawasan.

Laporan berbagai lembaga riset digital seperti We Are Social dan DataReportal dalam beberapa tahun terakhir konsisten menempatkan Indonesia dalam jajaran pengguna media sosial terbesar di dunia, dengan ratusan juta akun aktif.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dalam berbagai pernyataannya juga menyebut masih ditemukannya ribuan konten hoaks setiap tahun yang tersebar di berbagai platform digital, terutama terkait isu sosial, politik, dan keamanan publik.

Kondisi ini membuat ruang informasi menjadi arena yang sangat menentukan, karena persepsi publik dapat terbentuk lebih cepat dibanding proses klarifikasi resmi.

Kapolda Kalsel menegaskan bahwa komunikasi dengan media tidak boleh berhenti pada forum formal atau kegiatan seremonial semata.

Ia mendorong adanya pola komunikasi yang lebih rutin dan responsif, terutama dalam menghadapi isu yang berkembang cepat di ruang digital.

Menurutnya, pendekatan kolaboratif diperlukan agar informasi yang sampai ke publik tetap berada dalam koridor akurat, berimbang, dan tidak memperkeruh situasi sosial di daerah.

Sarasehan ini memperlihatkan pergeseran cara pandang terhadap keamanan. Jika sebelumnya stabilitas lebih identik dengan kehadiran fisik aparat di lapangan, kini ruang digital menjadi medan baru yang tidak kalah penting.

Di titik ini, “menjaga narasi” bukan sekadar soal pilihan kata, tetapi tentang bagaimana informasi diproduksi, disaring, dan disebarkan agar tidak menjadi pemicu kegaduhan sosial.

Dengan ekosistem informasi yang semakin cepat dan masif, sinergi antara aparat keamanan, media, dan pelaku konten menjadi faktor penting dalam menjaga ketenangan publik di Kalimantan Selatan.(Olpah Sari).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!