Menjaga Narasi di Tengah Banjir Informasi
Oleh : Muhammad Risanta
Kalau kita jujur, hari ini kita hidup di era yang paradoks. Karena informasi begitu mudah didapat, tapi kebenaran justru makin sering diperdebatkan.
Satu potongan video, satu potongan judul, bahkan satu cuplikan unggahan bisa berubah jadi “kebenaran sosial” dalam hitungan menit, meskipun belum tentu utuh atau benar.
Sederhana dan menarik, ungkapan pertama ketika saya melihat langkah Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan menggelar sarasehan bersama media dan influencer di Banjarmasin, Selasa (23/06/2026).Ini menjadi menarik, bukan karena seremoninya, tetapi karena tema yang diangkat menekankan “menjaga narasi.”
Istilah ini mungkin terdengar sederhana, bahkan sedikit normatif. Tapi kalau dibaca lebih dalam, hal ini sebenarnya menyimpan kegelisahan yang sangat relevan, siapa yang hari ini paling berpengaruh membentuk persepsi publik, aparat, media, atau justru algoritma?
Kita sedang hidup di situasi di mana kecepatan mengalahkan ketelitian. Informasi dari lapangan bisa langsung berubah menjadi konsumsi publik sebelum sempat diverifikasi secara utuh.
Di sisi lain, klarifikasi resmi sering kali datang belakangan saat narasi sudah telanjur terbentuk dan bahkan viral.
Jujur saja ruang digital menjadi semacam “medan baru” yang tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata. Satu isu lokal bisa tiba-tiba terasa nasional hanya karena viral.
Dalam konteks ini, pernyataan Kapolda Kalsel tentang pentingnya informasi yang menyejukkan sebenarnya bisa dibaca sebagai upaya merespons perubahan ekosistem tersebut.
Media tidak lagi hanya dianggap sebagai penyampai berita, tetapi juga bagian dari sistem yang ikut mempengaruhi stabilitas sosial.

Media, influencer, dan pergeseran peran
Menariknya, dalam forum itu posisi influencer juga ikut disorot. Ini menandai perubahan zaman yang cukup signifikan.
Dulu, arus informasi lebih banyak dimonopoli media arus utama. Sekarang, satu akun dengan audiens besar bisa memiliki dampak yang setara, bahkan kadang lebih cepat menjangkau publik.
Artinya, “narasi publik” tidak lagi tunggal. Sekarang sudah tersebar, cair, dan sering kali saling bertabrakan.
Dalam situasi seperti ini, istilah “menjaga narasi” bisa dibaca bukan sebagai kontrol, tetapi sebagai ajakan untuk lebih sadar terhadap dampak informasi yang kita sebarkan. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi institusi, tetapi juga ketenangan sosial di tingkat masyarakat.
Hanya saja publik harus mengerti influencer itu beda dengan media arus utama (media cetak, online, elektronik (penyiaran). Meskipun sama-sama menyampaikan informasi.
Influencer adalah individu (atau akun personal) di media sosial yang membangun pengaruh dari kedekatan dengan audiens. Mereka biasanya mengandalkan gaya komunikasi yang lebih personal, pengalaman pribadi, dan kedekatan emosional.
Kredibilitas influencer sangat bergantung pada reputasi pribadi, engagement, dan kepercayaan pengikut bukan pada sistem verifikasi jurnalistik yang ketat.
Sementara itu, media massa adalah lembaga atau organisasi (seperti televisi, surat kabar, portal berita) yang memproduksi dan menyebarkan informasi secara sistematis dengan standar jurnalistik.
Di dalamnya ada proses verifikasi, penyuntingan, dan kode etik yang harus dipatuhi, sehingga informasi yang disampaikan lebih terstruktur dan bisa dipertanggungjawabkan secara institusional.
Indonesia dan tantangan ekosistem digital
Kalau kita tarik ke gambaran yang lebih luas, Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia. Laporan-laporan seperti DataReportal dan We Are Social dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa masifnya penetrasi digital di masyarakat kita.
Konsekuensinya jelas dan berdampak kepada volume informasi meningkat drastis, tapi tidak semuanya melalui proses verifikasi yang sama.
Di sisi lain, berbagai laporan dari instansi pemerintah juga berulang kali menunjukkan bahwa konten hoaks dan misinformasi masih menjadi tantangan yang terus berulang di ruang digital.
Dalam kondisi seperti ini, ruang publik menjadi sangat sensitif terhadap framing. Kata, judul, dan konteks bisa mengubah cara publik membaca sebuah peristiwa.
Yang membuat sarasehan ini menarik bukan sekadar kehadiran institusi, tetapi pesan implisitnya, komunikasi publik hari ini tidak bisa lagi bersifat satu arah.
Kapolda Kalsel dalam forum itu menekankan pentingnya komunikasi yang berkelanjutan, bukan sekadar pertemuan formal.
Ini penting, karena tantangan utama bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi menjaga ritme komunikasi agar tidak kalah cepat dari persebaran isu di ruang digital.
Dan mungkin di titik ini kita perlu sedikit jujur, menjaga kamtibmas hari ini tidak lagi hanya soal patroli dan penegakan hukum, tetapi juga soal bagaimana narasi publik terbentuk setiap hari.
Saya hanya menekankan satu kata, “menjaga narasi” bukan soal membatasi informasi, melainkan soal memastikan informasi tidak kehilangan konteks.
Karena di era sekarang, yang sering kali membuat keadaan menjadi gaduh bukan hanya peristiwa itu sendiri, tetapi cara peristiwa itu diceritakan, dipotong, dan disebarkan.
Dan di tengah semua itu, media, aparat, dan publik sebenarnya sedang berada di ruang yang sama, ruang yang sama-sama sedang belajar beradaptasi dengan kecepatan zaman.
