Menulis Artikel Berkelas bagi Pejabat Publik
Oleh : Muhammad Risanta
Banyak sahabat saya yang kini mengemban amanah sebagai pejabat publik sering bertanya sederhana, “Bagaimana cara menulis artikel yang baik, berbobot, tetapi tetap enak dibaca masyarakat?”
Pertanyaan itu muncul hampir di setiap diskusi santai. Ada yang bertanya sambil menikmati kopi, ada pula yang berdiskusi di sela-sela kegiatan pemerintahan.
Mulai dari kepala daerah, anggota legislatif, hingga kepala dinas. Mereka menyadari bahwa pada era digital hari ini, seorang pejabat tidak cukup hanya bekerja. Jadi wajar saja ia juga harus mampu menyampaikan gagasan dan menjelaskan kebijakannya kepada masyarakat.
Tulisan ini lahir dari obrolan-obrolan ringan tersebut. Ini bukan rumusan baku, apalagi bermaksud menggurui. Saya pun masih terus belajar. Tulisan ini hanyalah sharing pengalaman, berbagi pandangan, sekaligus saling mengingatkan bahwa menulis adalah keterampilan yang dapat dipelajari oleh siapa saja.
Bagi pejabat publik, menulis artikel bukanlah sarana pencitraan semata. Menulis sesungguhnya adalah bentuk pertanggungjawaban moral kepada masyarakat.
Lewat tulisan, seorang pejabat dapat menjelaskan alasan lahirnya sebuah kebijakan, menjawab berbagai pertanyaan publik, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi daerah.
Tulisan yang baik mampu menjembatani jarak antara pemerintah dan rakyat. Sebaliknya, tulisan yang buruk justru dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Karena itu, sebelum mulai menulis, pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah: “Apa tujuan tulisan ini?”
Apakah ingin mensosialisasikan program baru? Menjelaskan kebijakan yang menuai polemik? Atau sekadar mengajak masyarakat bergotong royong menyelesaikan persoalan bersama?
Tujuan yang jelas akan menentukan arah tulisan.
Kenali Siapa Pembacanya
Kesalahan yang sering terjadi adalah pejabat menulis seolah-olah seluruh pembacanya adalah akademisi.
Padahal mayoritas masyarakat tidak terbiasa membaca bahasa birokrasi yang panjang, berlapis, dan dipenuhi istilah teknis.
Masyarakat lebih menyukai bahasa yang sederhana, lugas, dan membumi.
Bila pembacanya adalah masyarakat umum, gunakanlah bahasa populer. Jika sasarannya kalangan profesional atau akademisi, tentu kedalaman analisis dapat ditambah.
Prinsipnya sederhana saja, jangan mempersulit pembaca.
Albert Einstein pernah mengatakan, “Jika Anda tidak bisa menjelaskan sesuatu secara sederhana, berarti Anda belum cukup memahaminya.”
Tulisan pejabat publik tidak boleh sekadar berisi opini atau slogan.
Data adalah fondasi utama sebuah tulisan. Makanya ketika berbicara tentang kemiskinan, tampilkan angka terbaru. Saat membahas pembangunan infrastruktur, sertakan capaian konkret. Jika menulis tentang pendidikan, hadirkan fakta lapangan.
Memang berkat data tulisan lebih kredibel dan mudah dipahami siapa saja.
Namun demikian, jangan membombardir pembaca dengan terlalu banyak angka. Pilih data yang relevan dan sajikan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Misalnya, daripada menulis:
“Tingkat pertumbuhan ekonomi meningkat sebesar 5,27 persen year on year.”
Akan lebih komunikatif bila ditulis:
“Ekonomi daerah tumbuh positif. Aktivitas perdagangan, UMKM, dan investasi mulai bergerak lebih baik dibanding tahun sebelumnya.”
Data tetap ada, tetapi terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Gunakan Struktur yang Sederhana
Artikel yang baik ibarat perjalanan. Pembaca harus tahu dari mana ia berangkat dan ke mana ia akan dibawa. Karena itu, susunan tulisan perlu dibuat sistematis.
Pertama, buatlah judul yang kuat, singkat, dan menarik.
Kedua, buka tulisan dengan fakta menarik, kutipan, atau persoalan aktual yang sedang menjadi perhatian publik.
Ketiga, masuklah ke pembahasan inti dengan menjelaskan masalah, solusi, kebijakan, serta dampaknya bagi masyarakat.
Terakhir, tutup tulisan dengan harapan, ajakan, atau optimisme.
Jangan biarkan pembaca selesai membaca tanpa mendapatkan pesan utama.
Hindari Bahasa Birokrasi
Salah satu penyakit tulisan pejabat adalah terlalu banyak menggunakan jargon. Kalimat seperti “Optimalisasi sinkronisasi lintas sektoral dalam rangka penguatan akselerasi pembangunan.”
Mungkin ini terdengar hebat di ruang rapat. Namun bagi masyarakat, kalimat tersebut bisa terasa membingungkan.
Cobalah menggantinya dengan kalimat “Pemerintah memperkuat kerja sama antarinstansi agar pembangunan berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.”
Pesan yang sama, tetapi jauh lebih mudah dipahami.
Ingatlah, tujuan menulis bukan untuk terlihat pintar, melainkan agar pembaca memahami apa yang ingin disampaikan.
Fokus pada Solusi, Bukan Menyerang
Pejabat publik adalah representasi negara. Karena itu, tulisan yang dibuat sebaiknya mengedepankan solusi, bukan serangan personal.
Masyarakat lebih membutuhkan gagasan dan jalan keluar dibanding saling menyalahkan. Tulisan yang bernuansa kenegarawanan akan lebih dihargai publik daripada tulisan yang dipenuhi emosi.
Perbedaan pandangan ini adalah hal biasa dalam demokrasi. Namun, etika harus tetap dijaga. Hindari menyerang individu, apalagi membawa isu suku, agama, ras, dan antargolongan.Karena itu saya menyarankan sebaiknya membangun narasi yang menyejukkan.
Karena yang dicatat sejarah bukanlah seberapa keras seseorang berbicara, melainkan seberapa besar manfaat yang diberikannya.
Banyak tulisan bagus kehilangan kualitas hanya karena penulis terburu-buru menerbitkannya Padahal, proses membaca ulang sangat penting.
Karena itu periksa kembali data, nama, angka, tanda baca, hingga kemungkinan salah ketik.
Bacalah tulisan dengan suara pelan. Jika terdengar janggal saat dibaca, besar kemungkinan pembaca juga akan merasakan hal yang sama. Tulisan yang baik lahir dari proses revisi berulang.
Bahkan para penulis besar dunia pun melakukan penyuntingan berkali-kali sebelum menerbitkan karyanya.
Menulis adalah Proses Belajar yang Tidak Pernah Selesai
Saya selalu percaya, tidak ada penulis yang langsung hebat. Semua berawal dari keberanian menulis, kemudian terus belajar, membaca, memperbaiki, dan mengasah diri.
Bagi pejabat publik, kemampuan menulis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, masyarakat membutuhkan pemimpin yang tidak hanya bekerja, tetapi juga mampu menjelaskan, menginspirasi, dan menghadirkan optimisme melalui kata-kata.
Karena kebijakan yang baik akan lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan bahasa yang baik pula.
Mari terus belajar menulis. Sebab setiap tulisan yang lahir dengan niat baik, sesungguhnya sedang membangun peradaban.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi
