Koperasi Kehilangan Anak Muda?

0
ARIYANTI KOPERASI

Foto Ilustrasi - Dok M.Risanta.

Saat Generasi Z Berlari ke Startup, Siapa Menjaga Ekonomi Gotong Royong?

Oleh: Muhammad Risanta

Andai Bung Hatta hidup hari ini, mungkin beliau akan tersenyum melihat geliat ekonomi digital Indonesia.

Anak-anak muda mendirikan startup, membangun aplikasi, menjual produk melalui marketplace, menjadi content creator, hingga menciptakan bisnis berbasis kecerdasan buatan. Kreativitas tumbuh di mana-mana. Inovasi menjadi bahasa sehari-hari.

Namun di balik semarak itu, ada satu pertanyaan yang layak diajukan.

Di tengah ledakan startup dan ekonomi digital, ke mana perginya koperasi?

Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika kita melihat fakta bahwa Indonesia adalah negara yang sejak awal menempatkan koperasi sebagai salah satu fondasi utama perekonomian nasional.

Bahkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

Tetapi hari ini, jika kita bertanya kepada mahasiswa tentang cita-cita mereka, sebagian besar akan menjawab ingin menjadi entrepreneur, founder startup, investor, atau content creator.

Sangat sedikit yang bercita-cita membangun koperasi.

Apakah koperasi sudah tidak relevan? Ataukah koperasi gagal bertransformasi mengikuti perubahan zaman?

 

Foto Ilustrasi – Jajaran Tim Kopdit Karya Kasih yang siap memberikan pelayanan terbaik bagi anggota koperasi.(Foto – Trisia).

Ketika Startup Menjadi Simbol Masa Depan, Generasi Z lahir di era internet.

Mereka tumbuh bersama media sosial, e-commerce, fintech, kecerdasan buatan, dan ekonomi digital. Mereka menyaksikan kisah sukses para pendiri perusahaan teknologi yang mampu membangun bisnis bernilai miliaran dolar hanya dari sebuah ide dan perangkat komputer.

Narasi yang mereka konsumsi setiap hari adalah tentang inovasi, disrupsi, valuasi, investasi, dan pertumbuhan bisnis.

Startup hadir dengan citra yang segar. Cepat dan dinamis banget serta modern. Sebaliknya, koperasi sering kali hadir dengan wajah yang kurang menarik bagi generasi digital.

Yang muncul dalam benak banyak anak muda adalah kantor koperasi sederhana, rapat anggota tahunan yang panjang, sistem administrasi yang masih manual, dan layanan yang belum sepenuhnya berbasis teknologi.

Akibatnya terjadi kesenjangan persepsi. Startup dianggap masa depan, sedangkan Koperasi dianggap masa lalu. Padahal belum tentu demikian.

Data Berbicara, Koperasi Masih Besar, Tetapi Semakin Tua

Data dari Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia menunjukkan bahwa hingga tahun 2024 terdapat lebih dari 130 ribu koperasi aktif di Indonesia dengan puluhan juta anggota. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa koperasi masih menjadi kekuatan ekonomi yang besar.

Meskipun begitu ternyata oh ternyata terdapat persoalan serius.

Sebagian besar anggota koperasi berasal dari kelompok usia produktif yang lebih tua. Partisipasi generasi muda masih relatif rendah dibandingkan potensi demografis yang dimiliki Indonesia.

Padahal berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Generasi Z dan milenial saat ini mendominasi struktur penduduk Indonesia. Mereka merupakan kelompok usia yang akan menentukan arah ekonomi nasional dalam dua hingga tiga dekade mendatang.

Artinya, jika koperasi gagal menarik minat generasi muda, maka koperasi berisiko kehilangan regenerasi.

Dan ketika regenerasi berhenti, keberlanjutan organisasi pun mulai dipertanyakan.Jadi wajar sebagian besar penggiat koperasi berharap anak muda tetap melek koperasi.

Anak Muda Tidak Membenci Koperasi

Yang menarik, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa generasi muda tidak memiliki penolakan terhadap nilai-nilai koperasi.

Mereka menyukai kolaborasi, komunikasi, bahkan ekonomi berbagi.Tak hanya anak muda juga kerja sama hingga keberlanjutan sosial.

Bukankah semua itu merupakan DNA koperasi?

Penelitian mengenai persepsi generasi milenial terhadap koperasi menemukan bahwa sebagian besar responden menganggap nilai-nilai koperasi tetap relevan. Namun mereka menilai koperasi belum tampil modern dan kurang mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Temuan serupa juga muncul dalam berbagai studi mengenai Generasi Z. Mereka tidak mempermasalahkan konsep koperasi, tetapi mempertanyakan model bisnis, inovasi, dan transformasi digitalnya.

Dengan kata lain, masalah koperasi bukan terletak pada ideologinya.

Masalahnya terletak pada kemasannya.

Ironi terbesar justru muncul ketika kita melihat fenomena startup saat ini.

Banyak startup sebenarnya mengusung nilai yang sangat dekat dengan semangat koperasi.

Mereka membangun komunitas, lalu menciptakan kolaborasi dan sampai mempertemukan banyak pihak dalam satu ekosistem.

Namun ada satu perbedaan mendasar yakni tentang kepemilikan.

Pada startup konvensional, nilai ekonomi terbesar biasanya dinikmati oleh pemegang saham dan investor.

Sedangkan dalam koperasi, nilai ekonomi dibagikan kepada anggota yang sekaligus menjadi pemilik.

Karena itu, jika dipikir-pikir, koperasi sebenarnya adalah startup yang paling demokratis.Jika lebih dalam lagi ia startup milik rakyat.

Sayangnya, narasi ini belum berhasil dikomunikasikan kepada generasi muda.

 

Apakah Koperasi Perlu Rebranding?

Jawabannya tentu sangat perlu.

Namun rebranding bukan sekadar mengganti logo atau membuat akun media sosial.

Yang harus berubah adalah cara koperasi mendefinisikan dirinya.

Koperasi harus berhenti menjual nostalgia. Koperasi harus mulai menjual masa depan.

Karena anak muda tidak tertarik karena koperasi pernah berjasa pada masa lalu. Mereka tertarik jika koperasi mampu menjawab kebutuhan mereka hari ini.

Jujur saja mereka tertarik akses modal, peluang bisnis, jaringan pemasaran, teknologi digital, hingga pengembangan keterampilan.

Koperasi harus tampil sebagai ekosistem ekonomi modern. Bukan sekadar lembaga simpan pinjam.

Belajar dari Dunia, Ketika Koperasi Menjadi Raksasa Modern

Mereka yang menganggap koperasi sebagai model ekonomi kuno perlu melihat apa yang terjadi di berbagai negara.

Di Spanyol terdapat Mondragon Corporation, salah satu federasi koperasi terbesar di dunia yang memiliki puluhan ribu pekerja dan bergerak di sektor manufaktur, pendidikan, keuangan, hingga teknologi.

Di Finlandia, kelompok koperasi S Group menguasai pangsa pasar ritel yang sangat besar dan melayani jutaan anggota.

Di Korea Selatan dan Jepang, koperasi pertanian berkembang menjadi organisasi bisnis modern yang mampu mengintegrasikan produksi, distribusi, pembiayaan, hingga ekspor.

Mereka membuktikan bahwa koperasi tidak identik dengan keterbelakangan.Jadi koperasi itu bisa modern, bisa digital dan mendunia.

Jika Saya Membangun Koperasi Generasi Z

Saya membayangkan sebuah koperasi yang tidak terlihat seperti koperasi pada umumnya. Tidak ada formulir kertas yang menumpuk. Tidak ada antrean panjang. Tidak ada proses yang berbelit. Semua layanan berbasis aplikasi.

Keanggotaan dilakukan secara digital dan SHU dapat dipantau secara real time. Marketplace tersedia dalam satu platform. Pembiayaan usaha kreatif terintegrasi.

Pelatihan AI, digital marketing, desain grafis, fotografi, hingga content creation menjadi layanan rutin.

Anggotanya adalah kreator digital, freelancer, UMKM kreatif, desainer, videografer, penulis, programmer, dan pelaku startup muda.

Mereka bukan hanya pengguna platform, tetapi adalah pemilik platform,ini bahasa sederhana dan perbedaannya.

Indonesia itu sedang menikmati bonus demografi.

Dalam beberapa tahun ke depan, Generasi Z akan menjadi kelompok usia produktif terbesar di negeri ini.

Mereka akan menjadi pengusaha, pemimpin perusahaan, birokrat, akademisi, dan penggerak ekonomi.

Pertanyaannya sederhana.

Apakah koperasi akan menjadi bagian dari masa depan mereka?

Atau justru menjadi artefak ekonomi yang perlahan ditinggalkan zaman?

Jawabannya tidak bergantung pada generasi muda semata, melainkan bergantung pada keberanian koperasi untuk berubah.

Sebab sesungguhnya anak muda tidak menolak koperasi.

Mereka hanya belum melihat koperasi sebagai sesuatu yang relevan dengan masa depan mereka.

Dan mungkin di situlah tantangan terbesar koperasi hari ini.

Bukan mencari anggota baru. Melainkan menemukan kembali cara berbicara kepada generasi yang lahir di era digital.

Saya sependapat dengan kata sahabat saya, Rory Handriano, Ketua Kopdit Kalsel, yang menyebutkan koperasi bukanlah cerita lama yang usang.

Koperasi itu sesungguhnya adalah gagasan besar tentang ekonomi gotong royong yang sedang menunggu untuk ditemukan kembali oleh generasi baru Indonesia.

Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!