STIE Pancasetia Dorong Budaya Kampus Berkelanjutan Lewat Program MARKISSA

0
DOSEN DISTA

Foto - Dok Economic Travelling.Com.

Komitmen STIE Pancasetia Banjarmasin dalam membangun budaya kampus berkelanjutan terus diwujudkan melalui berbagai program yang berdampak langsung bagi lingkungan.

Salah satunya melalui program MARKISSA (Mari Kita Sedekah Sampah), sebuah gerakan edukatif yang mengajak sivitas akademika untuk peduli terhadap pengelolaan sampah sekaligus menumbuhkan nilai-nilai sosial di lingkungan kampus.

Program MARKISSA menjadi bukti bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana.

Melalui pengumpulan sampah plastik yang masih memiliki nilai guna, mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan diajak untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan setiap hari.

Menariknya, program ini berawal dari gagasan seorang mahasiswa STIE Pancasetia, Soni Setiawan, yang melihat pentingnya menghadirkan gerakan nyata dalam mengurangi sampah plastik di lingkungan kampus.

Gagasan tersebut kemudian mendapat dukungan dan pendampingan dari dosen Adista Anjar Diany, sehingga dapat diaktualisasikan menjadi program yang terstruktur dan berkelanjutan.

Ketua STIE Pancasetia Banjarmasin, Dr. Sutrisno, memberikan apresiasi tinggi terhadap lahirnya program MARKISSA.

Menurutnya, inisiatif tersebut menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang lahirnya gagasan dan aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

“Manajemen kampus sangat mengapresiasi program MARKISSA yang digagas mahasiswa dan mendapat pendampingan dari dosen. Ini merupakan contoh kolaborasi yang sangat baik antara mahasiswa dan akademisi dalam menjawab persoalan lingkungan yang saat ini menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Dr. Sutrisno menilai gerakan MARKISSA sejalan dengan visi STIE Pancasetia dalam membangun budaya kampus berkelanjutan.

Salah satu fokus utama yang terus didorong adalah menciptakan lingkungan kampus yang bersih, sehat, hijau, dan nyaman bagi seluruh sivitas akademika.

Menurutnya, perubahan pola pikir terhadap pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan pendidikan.

Kampus sebagai ruang intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh dalam membangun kesadaran lingkungan.

“Kampus adalah ruang intelektual yang seharusnya menjadi pelopor perubahan. Budaya menjaga kebersihan dan mengelola sampah secara bijak harus dimulai dari kampus, sehingga nilai-nilai tersebut dapat dibawa mahasiswa ke tengah masyarakat,” tegasnya.

Melalui program MARKISSA, sampah tidak lagi dipandang sebagai barang buangan semata.

Sampah yang terkumpul akan dikelola sehingga memiliki nilai ekonomi dan sosial yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan kemanusiaan maupun program sosial lainnya.

Selain mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, program ini juga menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa untuk memahami konsep ekonomi sirkular, keberlanjutan lingkungan, serta pentingnya partisipasi aktif dalam menjaga bumi.

Dosen pendamping program, Adista Anjar Diany, berharap MARKISSA dapat menjadi gerakan kolektif yang terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk peduli terhadap lingkungan.

Dengan semangat kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan manajemen kampus, STIE Pancasetia optimistis dapat membangun budaya kampus berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peduli lingkungan dan tanggung jawab sosial.

Program MARKISSA menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali lahir dari ide sederhana. Dari sebuah tempat pengumpulan botol plastik, tumbuh gerakan yang mengajarkan kepedulian, keberlanjutan, dan semangat berbagi untuk sesama.(Olpah Sari).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!