Stand-up Comedy Satu Mikrofon Sejuta Harapan

0
RISANTA STANDUP COMEDY

Beberapa malam lalu, saya duduk santai di depan televisi. Tidak ada agenda khusus.

Hanya ingin menikmati hiburan setelah seharian beraktivitas. Pilihan saya jatuh pada Grand Final Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Season 12 di Kompas TV.

Seperti biasa, panggung megah, lampu sorot berwarna-warni, dan penonton yang memenuhi Balai Sarbini.

Namun yang membuat saya bertahan hingga acara berakhir bukan sekadar kompetisinya. Ada sesuatu yang menarik dari dunia stand-up comedy yang semakin hari terasa semakin dewasa.

Malam itu, tiga komika terbaik tampil habis-habisan. Ejja Saputra, Ratanca, dan Mukmin. Mereka datang dengan karakter, cerita, dan gaya komedi masing-masing.

Dan akhirnya, nama Mukmin diumumkan sebagai juara. Tepuk tangan bergemuruh.

Bukan sekadar kemenangan seorang komika. Bagi saya, itu adalah kemenangan sebuah cerita kehidupan.

Mukmin, atau Chairul Mukmim, bukanlah selebriti yang sejak awal hidup dalam sorotan kamera. Ia adalah seorang guru honorer dari Indonesia Timur yang telah mengabdi selama delapan tahun di sekolah yang sama. Delapan tahun mengajar.

Delapan tahun mendidik anak-anak. Delapan tahun menjalani profesi yang sering kali lebih kaya pengabdian daripada penghargaan.

Lalu siapa sangka, pengalaman hidup yang sederhana itu justru menjadi bahan bakar komedinya.

Di atas panggung, Mukmin bercerita tentang suka duka menjadi guru honorer. Tentang realitas kehidupan. Tentang keresahan yang mungkin juga dirasakan jutaan orang Indonesia. Namun semua itu dibungkus dengan cara yang unik yang membuat orang tertawa.

Inilah asyiknya dari letak keajaiban stand-up comedy. Banyak orang mengira stand-up comedy hanya soal melucu. Padahal tidak sesederhana itu.

 

Penulis bersama Host Raffi Ahmad dan Irfan Hakim di studio FYP Trans7 Jakarta. (Foto – Risanta).

Di balik satu tawa penonton, ada proses berpikir yang panjang. Ada pengamatan sosial. Ada kegelisahan. Ada pengalaman hidup yang diolah menjadi cerita.

Komika sebenarnya mirip seorang penulis.

Mereka mengamati lingkungan sekitar, lalu mencari sudut pandang yang tidak biasa. Mereka menyusun apa yang disebut setup. Sebuah pengantar yang membuat penonton memiliki ekspektasi tertentu.

Lalu tiba-tiba datang punchline. Kalimat pendek yang mematahkan ekspektasi tersebut.Dan sudah pasti penonton tertawa.

Menurut sahabat saya kolomnis Abdul Munir yang juga akademisi, stand-up comedy itu sederhana saat ditonton.Tetapi rumit saat dibuat.

Karena itulah stand-up comedy memiliki “bahasa” sendiri.

Ada bit, yaitu kumpulan lelucon dalam satu topik. Ada set, yaitu keseluruhan materi yang dibawakan selama beberapa menit. Ada tag, yakni tambahan lelucon setelah punchline utama.

Ada callback, ketika komika mengingatkan kembali lelucon lama di akhir penampilan dan membuat penonton tertawa untuk kedua kalinya.

Belum lagi soal delivery.Termasuk bagaimana intonasi dimainkan, termasuk mengatur jeda.

Tak hanya itu komika juga bisa bagaimana mengekspresikan wajah.Lalu  bagaimana tubuh bergerak melalui act-out. Semua itu adalah seni. Seni membuat orang tertawa.

Dan percayalah, membuat orang tertawa sering kali lebih sulit daripada membuat orang menangis. Dunia stand-up comedy Indonesia sendiri telah berkembang sangat jauh.

Dulu komedi identik dengan lawakan kelompok, sketsa, atau acara varietas televisi. Kini komedi hadir dalam bentuk yang lebih personal. Satu orang. Satu mikrofon dan lampu sorot serta satu cerita.

Dari panggung-panggung open mic yang sederhana, lahirlah banyak talenta besar. Ada yang kemudian menjadi aktor film. Ada yang menjadi host televisi. Ada yang menjadi penulis. Ada pula yang menjadi kreator digital dengan jutaan pengikut.

Stand-up comedy telah menjadi salah satu jalur karier baru dalam industri kreatif Indonesia. Komika tidak lagi hanya mencari tawa.

Karena mereka juga menghadirkan perspektif dan menyampaikan kritik sosial.Tak jarang pokok bahasannya adalah pendidikan, keluarga, isu daerah hingga menyuarakan kelompok-kelompok yang selama ini jarang mendapat panggung.

Mungkin itulah yang membuat saya menikmati penampilan Mukmin malam itu. Ia tidak sekadar melucu. Ia sedang bercerita tentang kehidupan. Tentang guru honorer. Tentang Indonesia Timur dan perjuangan serta mimpi mereka.

Dan ketika penonton tertawa, sebenarnya mereka sedang diajak memahami kenyataan dari sudut pandang yang berbeda.

Jika mau jujur dalam perpekstif luas, sejatinya stand-up comedy bukan hanya soal humor. Ia adalah seni bertutur. Seni mengubah kegelisahan menjadi tawa dan mungkin mengubah pengalaman hidup menjadi hiburan.

Dan kadang-kadang, dari balik gelak penonton yang memenuhi ruangan, kita menemukan satu hal yang sangat manusiawi.

Bahwa setiap orang memiliki cerita. Dan cerita yang paling jujur sering kali lahir dari mereka yang pernah merasakan perjuangan.

Malam itu, Mukmin menjadi juara. Tetapi sesungguhnya yang menang adalah cerita.

Cerita tentang seorang guru honorer yang berhasil membuktikan bahwa panggung besar selalu terbuka bagi siapa saja yang berani bermimpi.

Dan mungkin, itulah punchline terbaik dari seluruh perjalanan hidupnya.

*Penulis adalah Jurnalis Senior & Akademisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!