Kalimantan Selatan Kaya Protein Ikan, Tetapi Bagaimana dengan Susu?

0
SUSU DAN IKAN

Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.

Di Kalimantan Selatan, pembicaraan mengenai pemenuhan protein masyarakat hampir selalu identik dengan ikan.

Hal itu tidak mengherankan mengingat budaya makan ikan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banua sejak lama.

Data Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Selatan menunjukkan konsumsi ikan masyarakat mencapai sekitar 65 kilogram per kapita per tahun dan berada di atas rata-rata nasional.

Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Kalsel memiliki akses yang baik terhadap sumber protein hewani dari sektor perikanan.

Namun pertanyaan pentingnya adalah, apakah tingginya konsumsi ikan otomatis membuat kebutuhan gizi masyarakat sudah terpenuhi secara lengkap?

Para ahli gizi menyebut jawabannya belum tentu. Ikan memang kaya protein dan asam lemak omega-3, tetapi susu memiliki keunggulan tersendiri sebagai sumber kalsium, vitamin D, fosfor, dan berbagai zat gizi mikro yang sangat penting bagi pertumbuhan anak serta kesehatan tulang.

Ada satu tantangan Kalimantan Selatan muncul. Berbeda dengan Pulau Jawa yang memiliki sentra peternakan sapi perah besar seperti Boyolali, Salatiga, dan Pangalengan, Kalimantan Selatan belum dikenal sebagai daerah penghasil susu utama.

Akibatnya, sebagian besar kebutuhan susu masyarakat masih dipasok dari luar daerah.

Meski demikian, tanda-tanda meningkatnya konsumsi susu mulai terlihat. Pada awal 2026 misalnya, sejumlah pelaku usaha minuman dan kafe di Banjarmasin mengeluhkan kelangkaan susu UHT di pasaran akibat tingginya permintaan dan terbatasnya pasokan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa susu semakin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan di Banua.

Fenomena ini menjadi sinyal positif bahwa kesadaran masyarakat terhadap konsumsi susu perlahan mulai tumbuh.

Namun tantangan berikutnya adalah bagaimana menjadikan minum susu bukan sekadar tren, melainkan kebiasaan sehari-hari yang dimulai dari lingkungan keluarga.

Hari Susu Nusantara seharusnya tidak hanya menjadi ajang seremonial tahunan.

Momentum ini dapat digunakan untuk membangun kesadaran baru bahwa pemenuhan gizi anak tidak cukup hanya mengandalkan satu sumber protein. Ikan dan susu bukanlah pesaing, melainkan pasangan yang saling melengkapi.

Jika masyarakat Banua telah berhasil membudayakan makan ikan, maka membudayakan minum susu mungkin menjadi langkah berikutnya dalam menyiapkan generasi Kalimantan Selatan yang sehat, cerdas, dan tangguh menghadapi Indonesia Emas 2045.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!