Aruh Nangka , Madihin dan Masa Depan Peradaban Melayu Banjar 

0
PAMADIHIN SYAHRANI

Menutur Jejak Melayu Banjar, Merawat Warisan Banua

Oleh: Muhammad Risanta

“Aruh nangka…”

Begitu tulisan yang muncul dalam poster Talk Show Ragam Budaya Madihin Syair Bakisah yang disiarkan RRI Pro 4 Banjarmasin awal Juni 2026.

Jujur saja, ketika pertama kali membaca judul itu, saya tersenyum. Bukan karena nangkanya.

Tetapi karena saya tahu, kalau sudah Haji Syahrani yang berbicara tentang “Aruh Nangka”, biasanya yang muncul bukan sekadar cerita nangka.

Pasti ada kisah dan humor serta sindiran.

Dan biasanya, ada pelajaran hidup yang diam-diam masuk ke kepala tanpa terasa. Persis seperti karakter Madihin itu sendiri.

Obrolan kemudian berkembang di Grup WhatsApp DMDI Kalimantan Selatan. Ada Haji Syahrani, ada Haji Ibnu Sina selaku Ketua Umum DMDI Kalimantan Selatan, dan sejumlah anggota lainnya. Dari sekadar membahas tema talk show, percakapan meluas ke satu pertanyaan yang menarik,

Bagaimana kalau DMDI suatu saat memiliki program tahunan Madihin Syair Bakisah? Pertanyaan sederhana. Tetapi sesungguhnya menyimpan makna yang sangat besar.

Jujur saja ketika kita berbicara tentang Madihin, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang salah satu penyangga peradaban Melayu Banjar.

Madihin itu Bukan sekadar kesenian dan buka sekadar hiburan, tetapi cara sebuah masyarakat menjaga ingatannya.

 

Sebelum Ada Podcast, Orang Banjar Sudah Punya Madihin

Hari ini dunia mengenal podcast. Orang berbicara di depan mikrofon. Lalu didengar ribuan orang. Kita menganggap itu modern dan menjadi tren.Padahal kalau mau jujur, orang Banjar sudah melakukannya jauh sebelum internet lahir. Bedanya, mikrofon diganti tarbang. Studio diganti halaman rumah.Uniknya lagi para penonton duduk teratur namun santai sambil bersila.

Sudah pasti isi pembicaraannya jauh lebih hidup.Sudah pasti itu adalah Madihin.

Para peneliti budaya Banjar menyebut Madihin sebagai seni sastra lisan yang berkembang sejak abad ke-19 dan tumbuh kuat di tengah masyarakat Banjar.

Kesenian ini merupakan perpaduan antara pantun, syair, humor, kritik sosial, pendidikan, dan dakwah yang disampaikan secara spontan dengan iringan tabuhan tarbang.

Karena itu, Madihin tidak pernah benar-benar hanya menjadi tontonan.Kesenian ini adalah ruang dialog masyarakat, bahkan kritik termasuk ruang pendidikan,sekaligus ruang hiburan.

Kalau hari ini media sosial dipenuhi komentar netizen, dahulu masyarakat Banjar memiliki pamadihinan.

Bedanya, pamadihinan menyampaikan kritik dengan seni. Tidak marah-marah, menghujat, membuat gaduh,tetapi pesannya sampai.

Orang Banjar Punya Cara Unik Menyampaikan Kritik

Ada satu keunikan masyarakat Banjar. Amun dipadahi langsung, kadang kada tarima. Amun disindir biasa, bisa manyinggung. Tapi amun dipadahi lawan Madihin, malah batatawaan.

Inilah yang disebut orang Banjar sebagai mahalabio. Humor yang cerdas. Humor yang mengandung sindiran yang membuat orang tertawa sebelum berpikir.

Karena itu pamadihinan sejatinya bukan sekadar seniman. Mereka adalah komunikator sosial.Hebatnya mereka ini memahami psikologi masyarakat, yang tahu kapan harus membuat orang tertawa.

Dan kapan harus membuat orang merenung, makanya Madihin memiliki nilai yang luar biasa. Karena tidak semua masyarakat memiliki kesenian yang mampu menggabungkan hiburan dan kritik sosial secara bersamaan.

 

Salah satu penampilan terbaik Pamadihinan generasi muda, Syahril dan Fadil Abdan.

Dari Aruh Nangka Menuju Aruh Budaya

Dalam tradisi Banjar, kata aruh memiliki makna yang sangat dalam. Ia bukan sekadar pesta. Bukan sekadar acara kumpul-kumpul.Maknanya bisa saja adalah peristiwa sosial, ruang berbagi cerita.

Bahkan menjadi ruang memperkuat hubungan antarmanusia.

Mungkin karena itulah judul “Aruh Nangka” terasa begitu dekat dengan masyarakat.Lebih sederhana dan Banjar Banget begitu kata Haji Syahrani, yang sederhana dan mengundang rasa ingin tahu.

Persis seperti tokoh Palui dalam cerita-cerita legendaris Banjar yang selama puluhan tahun menghibur pembaca Banjarmasin Post.

Palui bukan tokoh besar. Bukan pejabat dan bukan pula seorang raja.

Tetapi melalui humor-humornya, masyarakat diajak melihat kehidupan dengan cara yang lebih jernih.

Dalam dunia komunikasi modern, cara seperti ini disebut soft communication. Pesan disampaikan tanpa menggurui. Tetapi justru lebih mudah diterima.Dan Madihin telah melakukan itu jauh sebelum teori komunikasi modern diajarkan di kampus.

Banjar dalam Peta Besar Dunia Melayu

Sering kali kita melihat Banjar hanya dari batas administratif Kalimantan Selatan. Padahal secara sejarah, Banjar adalah bagian penting dari jaringan besar Dunia Melayu.

Sejarawan Taufik Abdullah dan Anthony Reid menjelaskan bahwa kawasan Melayu sejak berabad-abad lalu terhubung oleh perdagangan, bahasa, agama, dan budaya maritim. Dalam jaringan itu, Banjar memainkan peran penting.

Pelabuhan-pelabuhan Banjar pernah menjadi titik pertemuan pedagang dari Jawa, Sumatra, Brunei, Semenanjung Malaya hingga Tiongkok. Bahasa Banjar tumbuh dari rumpun Melayu. Sastra lisannya bernapas Melayu. Nilai-nilai sosialnya dibentuk oleh tradisi Melayu-Islam.

Maka ketika kita melestarikan Madihin, sesungguhnya kita tidak hanya menjaga budaya Banjar. Kita sedang menjaga satu bagian penting dari peradaban Melayu dunia.

 

Ketua Umum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kalsel H Ibnu Sina dan istri, Dr Hj Siti Wasilah, bersama dua Pamadihin muda, Syahril dan Fadil, dalam sebuah acara budaya di Banjarmasin.

Mengapa DMDI Harus Peduli?

Pertanyaan ini penting. Mengapa Dunia Melayu Dunia Islam harus berbicara tentang Madihin?

Jawabannya menurut sudut pandang kami adalah sederhana. Karena peradaban tidak diwariskan hanya melalui bangunan.

Sejatinya menurut Pahaji Ibnu Sina, peradaban diwariskan melalui cerita.Karena melalui bahasa, ingatan yang kolektif, kita semua hari ini bisa membangun gedung tinggi.

Tetapi jika generasi muda tidak lagi mengenal syair, pantun, dan cerita leluhurnya, maka kita sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Dalam konteks inilah gagasan penyelenggaraan Program Tahunan Madihin Syair Bakisah DMDI Kalimantan Selatan menjadi sangat relevan.

Bukan hanya festival, sebuah pertunjukan atau gerakan kebudayaan.

Tetapi sebagai gerakan untuk memastikan bahwa suara tarbang tidak berhenti.Terbentang harapan bahwa syair Banjar tetap bergema dan generasi muda masih mengenal siapa dirinya.

Madihin Bukan Masa Lalu, Tetapi Masa Depan. Sering kali kesalahan kita adalah menganggap budaya sebagai barang lama. Padahal budaya justru menjadi modal masa depan.

Negara-negara maju hari ini berlomba menjual identitas budayanya kepada dunia.Tengoklah Korea dengan K-Pop, Jepang dengan anime hingga India dengan Bollywood.

Lalu Banjar punya apa?. Tenang Banjar punya Madihin. Punya Bakisah, Pantun Banjar, tradisi sungai hingga punya sastra lisan yang lahir dari peradaban ratusan tahun.

Persoalannya bukan ada atau tidak ada.

Persoalannya adalah apakah kita mau merawatnya.

Malam itu, ketika obrolan di Grup WhatsApp DMDI Kalsel terus bergulir, saya merasa diskusi tersebut sebenarnya bukan tentang sebuah acara.

Bukan pula tentang sebuah talk show. Tetapi tentang sebuah kegelisahan bersama. Kegelisahan agar budaya Banjar tidak hanya menjadi kenangan. Agar Madihin tidak berhenti pada generasi sekarang. Agar tarbang tetap berbunyi di masa depan.

Karena sesungguhnya leluhur kita sudah menyalakan api itu sejak lama. Tugas kita bukan menciptakan api baru. Tugas kita hanya menjaga agar nyalanya tidak padam.

Dan mungkin, dari sebuah obrolan sederhana tentang Aruh Nangka, akan lahir sebuah gerakan budaya yang lebih besar.

Gerakan yang membuat dunia kembali mendengar suara Banjar.

Referensi dan Rujukan

Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar.

Suriansyah Ideham, Urang Banjar dan Kebudayaannya.

Zulfa Jamalie, Madihin Sebagai Media Dakwah Islam pada Masyarakat Banjar.

Rico dkk., Interpreting the History of Madihin Culture as Banjar Oral Literature.

Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce.

Taufik Abdullah, kajian sejarah dan jaringan budaya Melayu Nusantara.

Data Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia mengenai Madihin sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Muhammad Risanta adalah Jurnalis Senior | Humas Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kalimantan Selatan

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!