Dari Radio ke Podcast, Evolusi Panjang Seni Bertutur di Era Digital
Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.
Oleh: Olpah Sari
Sebelum ada YouTube, sebelum TikTok memenuhi layar telepon genggam, bahkan sebelum media sosial menjadi ruang percakapan publik, manusia sesungguhnya telah lama jatuh cinta pada suara.
Kita mungkin lupa bahwa sejarah peradaban tidak hanya dibangun oleh tulisan, tetapi juga oleh cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut.
Di masa lampau, para pendongeng menjadi “media” pertama manusia. Mereka menyampaikan kabar, pengetahuan, legenda, dan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat.
Ribuan tahun kemudian, teknologi hadir dan mengubah cara manusia mendengarkan cerita.
Lalu lahir radio pada akhir abad ke-19 menjadi titik penting dalam sejarah komunikasi massa.

Untuk pertama kalinya, suara mampu melintasi jarak yang sangat jauh. Orang-orang yang tidak saling mengenal dapat mendengarkan informasi yang sama pada waktu yang sama.Inilah yang mengawali cikal bakal talk show modern bermula.
Pada dekade 1920-an hingga 1930-an, radio berkembang pesat di Amerika Serikat dan Eropa. Awalnya radio didominasi siaran berita dan hiburan. Namun para penyiar kemudian menemukan sesuatu yang menarik.
Ternyata masyarakat tidak hanya ingin mendengar berita. Mereka juga ingin mendengar percakapan. Pendengar ini ingin mendengar orang berdiskusi, berdebat, bertukar gagasan, bahkan berbagi pengalaman hidup.
Maka lahirlah berbagai program wawancara dan dialog yang kemudian dikenal sebagai talk show.
Di radio, talk show menjadi ruang publik baru. Tokoh politik berbicara kepada rakyat. Akademisi menjelaskan ilmu pengetahuan. Seniman membagikan kisah kreatif mereka.
Dan Talk show bukan sekadar acara bicara.Program ini adalah seni menghidupkan gagasan melalui percakapan.

Ketika televisi berkembang pesat pada pertengahan abad ke-20, format talk show ikut berevolusi. Wajah mulai mengambil alih suara. Masyarakat tidak lagi hanya mendengar narasumber, tetapi juga melihat ekspresi, bahasa tubuh, bahkan emosi mereka.
Nama-nama seperti Oprah Winfrey kemudian mengubah talk show menjadi fenomena budaya populer.
Program-program talk show tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu memengaruhi opini publik, tren sosial, hingga kebijakan politik.
Di Indonesia, talk show berkembang melalui radio dan televisi. Berbagai stasiun radio menghadirkan dialog interaktif yang melibatkan pendengar secara langsung melalui telepon.
Sementara televisi memperkenalkan format wawancara mendalam, diskusi publik, hingga program inspiratif yang menghadirkan tokoh-tokoh nasional.
Namun revolusi terbesar justru datang dari internet dan membawa perubahan luar biasa.
Pada awal tahun 2000-an, sebuah istilah baru mulai dikenal dunia: podcast. Kata podcast merupakan gabungan dari “iPod” dan “broadcast”. Konsepnya sederhana tetapi revolusioner.
Jika radio mengharuskan pendengar menyesuaikan diri dengan jadwal siaran, podcast justru membebaskan pendengar menentukan kapan dan di mana mereka ingin mendengar sebuah program.
Pendengar tidak lagi terikat waktu. Mereka dapat mendengar diskusi saat menyetir, berolahraga, bekerja, bahkan menjelang tidur.
Podcast mengembalikan kekuatan utama media suara yaitu sebuah kedekatan.Hebatnya tanpa lampu studio, tata panggung mewah, make up televisi. Yang tersisa hanyalah ide, suara, dan percakapan
Menariknya, podcast sesungguhnya menghidupkan kembali tradisi lama yang pernah dimiliki radio. Kekuatan podcast bukan pada teknologi, melainkan terletak pada kemampuan manusia untuk mendengar.
Inilah menariknya di tengah dunia yang semakin bising oleh gambar, video pendek, dan informasi yang bergerak cepat, podcast menawarkan sesuatu yang semakin langka, yakni waktu untuk berpikir.
Podcast memberi ruang bagi narasumber menjelaskan gagasan secara utuh.Bahkan memberi kesempatan kepada pendengar untuk menyimak tanpa tergesa-gesa. Podcast itu menghadirkan kedalaman di tengah budaya serba cepat.
Hari ini, batas antara talk show dan podcast semakin tipis. Banyak podcast direkam dalam format video dan ditayangkan di YouTube.
Sebaliknya, banyak talk show televisi mengadopsi gaya percakapan santai khas podcast. Keduanya saling memengaruhi.
Keduanya sama-sama bertumpu pada satu hal yang tidak pernah berubah sejak zaman para pendongeng dahulu.Sebuah kemampuan manusia untuk bercerita dan mendengarkan.
Dan teknologi boleh berubah, Radio dapat berganti televisi.Sekarang Televisi dapat berganti podcast.
Podcast suatu hari mungkin akan berganti bentuk lain yang belum kita kenal hari ini.Namun satu hal akan tetap sama. Manusia selalu membutuhkan percakapan.
Sebab melalui percakapan, pengetahuan disebarkan.Karena melalui percakapan, pengalaman diwariskan. Dan melalui percakapan pula, sebuah masyarakat belajar memahami dirinya sendiri.
Kata kuncinya adalah dari radio hingga podcast, sejarah media sesungguhnya adalah sejarah tentang manusia yang terus mencari cara untuk saling mendengar.

