Dari Alam Terbuka untuk Indonesia

0
KESEPAKATAN BARU 1

Sejumlah lembaga menyatakan dukungan dan kesepakatan dalam forum tersebut meliputi Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) yang diwakili M. Novriza, 3S Management yang diwakili Rafael hingga LPK Elang Khatulistiwa Indonesia yang diwakili Achmad Dumiyati. (Foto - Abby).

Para Praktisi Rumuskan Standar Keselamatan Wisata Gunung Nasional

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam dan pendakian gunung, kebutuhan akan standar keselamatan yang kuat dan sumber daya manusia yang profesional menjadi semakin mendesak.

Kesadaran itulah yang melatarbelakangi pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) Pra Penyusunan Standar Kompetensi Kepemanduan Wisata Gunung yang berlangsung selama dua hari, 29–30 Mei 2026.

Berbeda dengan forum-forum formal yang umumnya digelar di ruang pertemuan hotel, diskusi ini justru berlangsung di alam terbuka.

Dalam suasana sederhana namun penuh semangat, para pemandu gunung, instruktur keselamatan, praktisi sertifikasi profesi, hingga pegiat wisata alam berkumpul untuk menyusun fondasi kompetensi yang akan menentukan kualitas kepemanduan wisata gunung Indonesia di masa depan.

Forum tersebut menjadi ruang bertemunya pengalaman lapangan dengan kebutuhan pengembangan standar profesi.

Berbagai isu strategis dibahas secara mendalam, mulai dari keselamatan pendakian, kemampuan survival, navigasi darat, pertolongan pertama gawat darurat (PPGD), dasar-dasar vertical rescue, hingga standar keselamatan dan kesehatan kerja di alam terbuka.

Eva Krista H. yang bertindak sebagai moderator mengarahkan jalannya diskusi agar menghasilkan rumusan yang tidak hanya relevan secara akademis, tetapi juga aplikatif bagi para pelaku lapangan.

 

FGD tetap hangat meskipun dalam suasana sederhana di dalam tenda alam terbuka. (Foto – Abby).

Sementara itu, narasumber Alfina Mukamar menegaskan keselamatan harus menjadi fondasi utama dalam pengembangan wisata alam Indonesia.

“Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan menjadi daya tarik wisata dunia. Namun keindahan alam harus diimbangi dengan sistem keselamatan yang baik. Karena itu, standar kompetensi bagi pemandu wisata gunung menjadi kebutuhan yang sangat penting agar pelayanan kepada wisatawan berlangsung aman, profesional, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Menurut Alfina, keberadaan standar kompetensi bukan sekadar memenuhi kebutuhan administrasi profesi, melainkan menjadi instrumen penting dalam membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan.

Hal tersebut dinilai semakin relevan mengingat aktivitas pendakian gunung terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Di sisi lain, berbagai insiden di kawasan pegunungan menunjukkan pentingnya kehadiran pemandu yang memiliki kemampuan teknis, pengetahuan keselamatan, dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.

Dalam forum tersebut, para peserta juga menyepakati pentingnya penyusunan standar yang mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan sekaligus sejalan dengan perkembangan industri wisata petualangan nasional.

 

Foto Ilustrasi – Founder Elang Khatulistiwa Indonesia di salah satu event pelatihan. (Foto – Risanta).

Kesepakatan bersama tersebut kemudian diserahkan kepada Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi sebagai bagian dari proses penyusunan dan penguatan standar kompetensi kepemanduan wisata gunung di Indonesia.

Sejumlah lembaga menyatakan dukungan dan kesepakatan dalam forum tersebut meliputi Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) yang diwakili M. Novriza, 3S Management yang diwakili Rafael hingga LPK Elang Khatulistiwa Indonesia yang diwakili Achmad Dumiyati.

Kolaborasi lintas lembaga ini menunjukkan bahwa pembangunan budaya keselamatan tidak dapat dilakukan secara parsial.

Diperlukan sinergi antara organisasi profesi, lembaga pelatihan, praktisi lapangan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menciptakan sistem yang mampu melindungi wisatawan sekaligus meningkatkan kualitas profesi kepemanduan.

Lebih dari sekadar forum diskusi, FGD ini mencerminkan tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa keselamatan merupakan investasi strategis bagi masa depan pariwisata Indonesia.

Keberhasilan sebuah destinasi tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan rasa aman dan perlindungan yang memadai bagi setiap pengunjung.

Dari sebuah tenda di alam terbuka ini, lahir sebuah komitmen besar membangun standar kompetensi yang lebih kuat, memperkuat profesionalisme pemandu wisata gunung, dan menanamkan budaya keselamatan sebagai bagian dari identitas pariwisata Indonesia.

Sebab sejatinya, menjaga keselamatan wisatawan bukan hanya tentang melindungi individu, melainkan juga menjaga reputasi bangsa di mata dunia. Indonesia yang kaya akan gunung, hutan, dan bentang alamnya membutuhkan pemandu yang kompeten, berintegritas, dan siap menghadapi berbagai tantangan lapangan.

langkah besar itu dimulai dari alam terbuka, untuk keselamatan Indonesia.(M.Irfani).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!