Bahasa Banjar dan Pelintasan Linguistik Bahasa Jawa

0
BAHASA BANJAR JAWA

Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.

Oleh: Abd Munir

Bahasa tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia bergerak mengikuti migrasi manusia, perdagangan, kekuasaan politik, perkawinan antaretnik, hingga perkembangan agama dan budaya.

Karena itu, tidak ada bahasa yang benar-benar “murni”. Semua bahasa pada dasarnya adalah hasil persilangan sejarah panjang. Demikian pula yang terjadi pada Bahasa Banjar dan Bahasa Jawa.

Sekilas, Bahasa Banjar dan Bahasa Jawa tampak sangat berbeda. Perbedaan itu mudah dikenali, baik dari sistem bunyi, tekanan fonetik, maupun irama pelafalan.

Bahasa Jawa terutama dialek Jawa Timuran memiliki aksentuasi yang tegas dan cenderung ngebas, sementara Bahasa Banjar terdengar lebih ringan, cepat, dan memiliki pola intonasi khas rumpun Melayu.

Dari perspektif linguistik historis, Bahasa Banjar termasuk dalam cabang bahasa Melayuik (Malayic languages) dalam keluarga besar bahasa Austronesia.

Posisinya lebih dekat dengan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia dibanding Bahasa Jawa yang berada pada cabang tersendiri, yaitu kelompok Jawaik (Javanic).

Hal ini menjelaskan mengapa struktur dasar Bahasa Banjar memiliki banyak kemiripan dengan ragam Melayu yang berkembang di kawasan Nusantara, termasuk di Malaysia, Brunei Darussalam, sebagian Thailand Selatan, Kalimantan Barat, hingga Sumatera.

Dalam kajian kebahasaan modern, para ahli seperti James T. Collins dan K.A. Adelaar menyebut bahwa Bahasa Banjar merupakan salah satu varian penting dari jaringan bahasa Melayu regional yang berkembang akibat mobilitas perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan pesisir Kalimantan Selatan.

Bahasa Indonesia sendiri, sebagai bahasa nasional, tumbuh dari basis Bahasa Melayu yang kemudian diperkaya oleh bahasa daerah Nusantara dan unsur asing.

Karena sifatnya yang lentur, Bahasa Indonesia menyerap kosakata dari Jawa, Sunda, Banjar, Minangkabau, Bugis, Bali, Madura, hingga bahasa asing seperti Arab, Sanskerta, Portugis, Belanda, Tionghoa, dan Inggris.

Pengaruh Bahasa Jawa terhadap Bahasa Indonesia misalnya tampak pada sejumlah kosakata seperti irit, uruk/urug, kebablasan, adem ayem, hingga istilah budaya seperti selametan dan gotong royong. Pada saat yang sama, Bahasa Banjar juga menyumbang khazanah tertentu dalam praktik komunikasi regional di Kalimantan.

Persinggungan Bahasa Banjar dan Jawa

Walaupun berasal dari rumpun yang berbeda, Bahasa Banjar dan Jawa memiliki sejumlah kosakata yang sama atau mirip makna.

Kemiripan ini dapat terjadi karena tiga faktor utama: kesamaan akar Austronesia, kontak budaya yang panjang, dan proses peminjaman (borrowing).

Beberapa contoh kosakata yang memiliki kemiripan bentuk dan makna antara Bahasa Banjar dan Jawa antara lain:

Bahasa Banjar Bahasa Jawa Makna
banyu banyu air
iwak iwak ikan
lawang lawang pintu
kiwa kiwa kiri
tilam tilam kasur
lawas lawas lama
larang larang mahal

Kemiripan semacam ini bukan kebetulan linguistik. Dalam teori linguistik komparatif, sejumlah kata tersebut diduga memiliki akar bersama dari Proto-Austronesia atau Proto-Melayu-Polinesia.

Namun, menariknya, ada pula kata-kata yang memiliki pengucapan sama (homofon), tetapi maknanya berbeda. Misalnya :

Pacul dalam Bahasa Jawa berarti alat mencangkul, sementara dalam Banjar dapat memiliki konteks penggunaan berbeda.

Tampar dalam Bahasa Indonesia bermakna memukul pipi, tetapi dalam Banjar merujuk pada tali tambatan perahu.

Tampah wadah anyaman bambu, namun penggunaannya berbeda dalam konteks budaya.

Irus di Jawa merujuk alat pengambil sayur, sedangkan di Banjar dapat mengalami pergeseran makna.

Ngalih dalam Banjar berarti sulit, sementara dalam Jawa lebih dekat dengan arti berpindah.

Fenomena ini dalam linguistik disebut pergeseran semantik (semantic shift), yaitu perubahan makna kata akibat ruang budaya dan konteks sosial yang berbeda.

Jalur Sejarah dan Kontak Budaya

Bahasa tidak hanya dipengaruhi tata bunyi, tetapi juga sejarah politik. Dalam konteks Banjar, hubungan dengan Jawa memiliki akar historis panjang.

Catatan sejarah Kesultanan Banjar menunjukkan adanya hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, terutama sejak masa awal berdirinya Kesultanan Banjar pada abad ke-16.

Dalam historiografi Banjar, Pangeran Samudera memperoleh dukungan militer dari Kesultanan Demak dalam konflik politik internal. Relasi ini kemudian membuka ruang migrasi orang Jawa ke wilayah Banjar, baik melalui jalur pemerintahan, perdagangan, maupun perkawinan.

Gelombang migrasi Jawa berikutnya terjadi pada era kolonial hingga program transmigrasi modern.

Akibatnya, proses kontak bahasa berlangsung intensif selama berabad-abad. Bahasa Jawa masuk ke ruang sosial Banjar, sementara Bahasa Banjar ikut beradaptasi terhadap unsur baru.

Di Kalimantan Selatan, sejumlah istilah budaya berbasis Jawa seperti yasinan, syukuran, pengajian, jumatan, bahkan selikuran akhirnya diterima sebagai bagian dari praktik budaya masyarakat luas.

Demikian pula seni rakyat seperti wayang, Damarwulan, dan kuda kepang yang pernah hidup dalam tradisi hiburan masyarakat Banjar.

Tantangan Bahasa Banjar di Era Generasi Digital

Ironisnya, ketika Bahasa Banjar mengalami pengayaan akibat kontak budaya, di saat yang sama ia juga menghadapi ancaman pelunturan.

Fenomena language shift (pergeseran bahasa) mulai tampak pada Generasi Z dan Alpha. Bahasa Indonesiabahkan campuran bahasa gaul digital,makin dominan dalam komunikasi sehari-hari. Banyak kosakata Banjar lama mulai asing di telinga generasi muda.

Dalam kajian sosiolinguistik, kondisi ini lazim disebut kemunduran vitalitas bahasa (language vitality decline).

Jika tidak diwariskan secara aktif di lingkungan keluarga, sekolah, sastra, media, dan ruang budaya, sebuah bahasa daerah perlahan akan kehilangan penuturnya.

Padahal, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah arsip peradaban, penyimpan memori kolektif, cara pandang terhadap dunia, dan identitas budaya suatu masyarakat.

Karena itu, Bahasa Banjar tidak cukup hanya dibanggakan secara simbolik. Ia perlu dipakai, diajarkan, ditulis, didokumentasikan, dan diwariskan.

Sebab ketika sebuah bahasa hilang, sesungguhnya yang ikut hilang bukan hanya kosakata, melainkan cara suatu masyarakat memahami hidupnya sendiri.

Penulis adalah linguis, demografer, dan Sekretaris Juken Kalsel.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!