BUMD dan Masa Depan Ekonomi Banua, Siapa yang Akan Mengendalikan Pertumbuhan?

0
EKONOMI DUNIA DAN BUMD

Ada satu pertanyaan besar yang jarang dibahas secara serius dalam pembangunan daerah.

Ketika ekonomi Kalimantan Selatan terus tumbuh, siapa sebenarnya yang paling banyak menikmati pertumbuhan itu?

Pertanyaan ini penting karena pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan penguatan ekonomi daerah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perekonomian Kalimantan Selatan pada tahun 2024 tumbuh sebesar 5,05 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp286,82 triliun. Bahkan sektor akomodasi dan makanan-minuman tumbuh di atas 8 persen, menandakan aktivitas ekonomi daerah terus bergerak positif.

Namun pertanyaan berikutnya jauh lebih penting, Apakah pertumbuhan itu cukup banyak dinikmati oleh daerah sendiri?

Ataukah sebagian besar nilai ekonomi justru mengalir keluar melalui perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Kalimantan Selatan tetapi pusat pengambilan keputusannya berada di luar daerah?

Karena itu sangat penting posisi strategis Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebenarnya berada. BUMD seharusnya menjadi instrumen ekonomi yang memungkinkan daerah ikut menjadi pemain, bukan hanya penonton di tengah pertumbuhan ekonomi.

Sayangnya, di banyak daerah Indonesia, BUMD masih menghadapi persoalan klasik. Sebagian terlalu bergantung pada penyertaan modal pemerintah. Sebagian berjalan dalam zona nyaman birokrasi.

Sebagian lagi tumbuh tanpa inovasi yang cukup untuk menghadapi perubahan ekonomi modern. Akibatnya, ketika ekonomi daerah bergerak, tidak semua BUMD ikut bertumbuh dengan kecepatan yang sama.

 

Focus Group Discussion (FGD) dengan fokus pembahasan Rencana Bisnis BUMD tahun 2026, yang dilaksanakan di Ruang Rapat Aberani Sulaiman, beberapahari lalu. (Foto – Biro Adpim Kalsel).

Selama bertahun-tahun, banyak daerah menganggap keberadaan BUMD sudah cukup menjadi indikator keberhasilan. Padahal dunia bisnis tidak bekerja dengan logika kepemilikan.

Dunia bisnis bekerja dengan logika daya saing.

Hari ini perusahaan daerah tidak hanya bersaing dengan perusahaan lokal. Mereka bersaing dengan perusahaan nasional.

Bahkan bersaing dengan perusahaan global yang masuk melalui digitalisasi, teknologi finansial, logistik modern, dan jaringan investasi yang semakin luas.

Karena itu ukuran keberhasilan BUMD tidak lagi bisa berhenti pada laporan laba rugi tahunan.

Yang harus diukur adalah kemampuan menciptakan dampak ekonomi. Berapa investasi yang berhasil ditarik? Berapa UMKM yang naik kelas? Berapa lapangan kerja yang tercipta? Berapa kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)?

Bisa jadi, berapa nilai ekonomi yang berhasil dipertahankan agar tetap berputar di Kalimantan Selatan?. Menurut pandangan redaksi, ertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih relevan dibanding sekadar angka formal dalam laporan perusahaan.

FGD Rencana Bisnis BUMD Tahun 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebenarnya memberi sinyal menarik. Ada kesadaran bahwa BUMD tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri.

Tim Ahli Gubernur menyoroti pentingnya kolaborasi antarlembaga dan antar-BUMD. Pandangan ini sangat relevan dengan arah ekonomi global saat ini. Perusahaan-perusahaan besar dunia tidak tumbuh karena memiliki aset terbesar.

Mereka tumbuh karena memiliki ekosistem dan membangun jaringan serta menciptakan kolaborasi. Mereka menghubungkan satu sektor dengan sektor lain.Karena itu BUMD Kalimantan Selatan harus mulai bergerak ke arah yang sama.

Bank Kalsel, Jamkrida Kalsel, Bangun Banua, sektor logistik, energi, perdagangan, hingga pariwisata tidak boleh lagi dilihat sebagai unit-unit yang berjalan sendiri. Mereka harus menjadi satu ekosistem ekonomi Banua.

 

Foto Ilustrasi – Aktivitas kegiatan meeting manajemen. (Foto – Tim Redaksi Economic Travelling.Com).

Bank Kalsel dan Simbol Transformasi

Salah satu perkembangan yang menarik adalah proses Bank Kalsel menuju status bank devisa yang disebut telah memasuki tahap final.

Jika terealisasi, langkah ini bukan sekadar perubahan administratif. Ia membuka peluang ekspansi layanan transaksi internasional, penguatan sektor perdagangan, serta peningkatan daya saing ekonomi daerah.

Namun transformasi sesungguhnya tidak berhenti pada status. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana BUMD mampu menjadi institusi yang profesional, cepat beradaptasi, dan mampu membaca peluang ekonomi masa depan.

Jujur saja dan fakta di lapangan, tantangan Kalimantan Selatan ke depan tidak ringan.

Daerah ini masih memiliki ketergantungan besar terhadap sektor sumber daya alam.

Sementara dunia sedang bergerak menuju ekonomi yang lebih berorientasi pada hilirisasi, industri pengolahan, ekonomi kreatif, digitalisasi, dan pariwisata berkelanjutan.

Jika BUMD gagal membaca perubahan tersebut, maka mereka berisiko tertinggal.

Siapa yang Akan Menguasai Ekonomi Banua?

Inilah pertanyaan paling penting. Dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, Kalimantan Selatan akan menghadapi arus investasi yang lebih besar seiring pembangunan kawasan Kalimantan dan penguatan konektivitas ekonomi nasional.

Proyeksi ke depan dalam kacamata redaksi, ketika investasi datang, akan muncul pemain-pemain baru.Maka akan datang juga modal baru dan jaringan bisnis baru ditopang teknologi yang baru pula.

Dalam situasi itu, daerah membutuhkan institusi ekonomi yang kuat agar tidak hanya menjadi pasar.

BUMD seharusnya menjadi salah satu alat strategis untuk memastikan daerah memiliki posisi tawar dalam pertumbuhan tersebut.

Karena jika seluruh sektor strategis hanya dikuasai pihak luar, maka pertumbuhan ekonomi memang tetap terjadi. Tetapi manfaat jangka panjangnya belum tentu tinggal di daerah.Ironi memang jadinya kalau begini.

Dari sudut pandang Redaksi Economic Travelling.com, pembahasan mengenai BUMD tidak boleh dipersempit hanya pada urusan korporasi.

Ini adalah pembahasan tentang masa depan ekonomi daerah. Tentang siapa yang mengendalikan pertumbuhan dan siapa yang menikmati nilai tambah. Tentang bagaimana daerah membangun kemandirian ekonomi.

Sebab ending akhirnya itu sederhana saja, keberhasilan BUMD bukan hanya soal laba perusahaan.

Keberhasilan BUMD adalah ketika pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan benar-benar mampu dirasakan masyarakatnya.

Ketika investasi menciptakan pekerjaan.Maka UMKM ikut berkembang dan sektor wisata tumbuh.

Ketika ekonomi bergerak bukan hanya di pusat kota, tetapi juga sampai ke daerah-daerah.

Dan ketika itu terjadi, BUMD tidak lagi sekadar menjadi perusahaan milik pemerintah daerah. Mereka berubah menjadi mesin pertumbuhan yang ikut menentukan arah masa depan Banua.(Tim Redaksi).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!