Junaidi Nasri dan ChatGPT

1
JUNAIDI NASRI

Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.

Ketika Wartawan Senior Menemukan “Teman Diskusi” Baru

Di tengah riuh ruang percakapan para wartawan yang biasanya dipenuhi agenda liputan, isu politik, hingga dinamika pemerintahan, belakangan ada satu sosok yang justru menghadirkan suasana berbeda.

Ia bukan pejabat, bukan pula selebritas media sosial. Namanya Junaidi Nasri adalah wartawan senior, pensiunan reporter RRI Banjarmasin yang kini justru kembali mencuri perhatian dengan cara yang tak biasa.

Bukan karena penghargaan jurnalistik baru. Bukan pula karena liputan investigasi besar.

Junaidi mendadak menjadi “fenomenal” di kalangan jurnalis Kalimantan Selatan karena satu hal sederhana namun menggelitik, ia gemar berdiskusi dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ChatGPT, lalu membagikan hasil percakapan itu ke berbagai grup wartawan.

Yang membuatnya menarik bukan sekadar isi diskusinya, tetapi cara ia menyampaikan. Kadang serius, kadang nyeleneh, sering kali jenaka.

Sebuah gagasan kecil yang ia temukan di lapangan bisa berubah menjadi obrolan panjang dengan AI mulai dari soal jurnalistik, fenomena sosial, ide liputan, sampai renungan hidup yang tak jarang memancing tawa rekan-rekannya.

Di saat sebagian wartawan sibuk mengejar tenggat berita dan menyusun lead yang tajam, kehadiran “laporan ChatGPT ala Junaidi” justru menjadi selingan yang mencairkan suasana.

Bagi sebagian orang, itu hiburan.

Bagi sebagian lainnya, itu eksperimen menarik seorang wartawan senior yang tidak berhenti belajar.

Padahal, Junaidi bukanlah wartawan kemarin sore. Namanya cukup dikenal di dunia penyiaran Kalimantan Selatan. Bertahun-tahun bertugas di RRI Banjarmasin, ia kenyang pengalaman jurnalistik lapangan. Dari dinamika sosial, politik, hingga denyut kehidupan masyarakat pernah ia rekam lewat suara dan laporan.

 

Karikatur Ilustrasi – Junaidi sedang mengendarai Bajaj listrik.

Jam terbangnya panjang. Pengalamannya kaya.

Namun menariknya, di usia yang tak lagi muda, rasa ingin tahunya justru terlihat tetap menyala.

“Semua yang saya lakukan hanyalah mencoba menggali bagaimana fungsi AI itu sendiri. Kalau jadi hiburan kawan-kawan, ya Alhamdulillah,” ujarnya ringan, khas gaya seorang senior yang tampak santai tetapi menyimpan rasa penasaran besar terhadap perkembangan zaman.

Bagi Junaidi, teknologi tampaknya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru ia memilih mendekatinyamengobrol, mengujinya, bahkan menjadikannya partner berpikir. Di tengah banyak orang masih sibuk memperdebatkan apakah AI akan menggantikan manusia, Junaidi memilih cara yang lebih sederhana: berteman dengannya.

Tetapi cerita tentang Junaidi ternyata tidak berhenti di ChatGPT.

Di sela-sela kebiasaannya berdiskusi dengan AI, ia ternyata sedang menyimpan mimpi yang cukup “gila” setidaknya bagi kebanyakan orang seusianya.

Ia ingin berjalan kaki keliling Indonesia untuk meliput. Ya, berjalan kaki.

Bukan naik pesawat. Bukan mobil. Bukan pula sekadar perjalanan wisata. Ia membayangkan perjalanan panjang menyusuri jalan-jalan Indonesia sambil melihat langsung denyut masyarakat, mendengar cerita orang-orang kecil, dan menuliskannya menjadi catatan jurnalistik perjalanan.

Mimpi itu kini sedang ia siapkan perlahan.

Setiap hari ia membiasakan diri berjalan kaki untuk melatih fisik. Di saat bersamaan, ia mulai memikirkan dukungan sponsor agar rencana tersebut dapat terwujud.

Bagi banyak orang, gagasan itu mungkin terdengar terlalu nekat.

Namun bagi seorang wartawan, terutama yang sudah lama hidup di lapangan, perjalanan sering kali bukan soal tujuan. Tetapi tentang cerita-cerita yang ditemukan di sepanjang jalan.

Dan mungkin, seperti kebiasaannya hari ini, di tengah perjalanan nanti Junaidi akan tetap sesekali berhenti, membuka telepon genggam, lalu bertanya kepada ChatGPT tentang apa yang baru saja ia lihat.

Karena ternyata, bahkan wartawan senior pun masih bisa menemukan teman diskusi baru di zaman yang terus berubah.(M.Irfani).

1 thought on “Junaidi Nasri dan ChatGPT”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!