Mengenal Indahnya “Titip Rindu Buat Ayah”
Jurnalis Senor Muhammad Risanta dalam tulisan essainya tentang indahnya lagu karya musisi Ebiet G Ade.
Oleh : Muhammad Risanta
Ada lagu-lagu yang tak pernah benar-benar selesai kita dengarkan.
Ia berhenti di telinga, tetapi terus hidup di dada.
Setiap kali diputar, ia bukan lagi sekadar musik, melainkan perjalanan pulang menuju kenangan, menuju ruang batin yang lama tersembunyi.
Salah satu lagu itu adalah “Titip Rindu Buat Ayah” karya maestro balada Indonesia, Ebiet G. Ade.
Lagu ini bukan lagu biasa. Narasi dan lirik lagu ini seperti surat panjang seorang anak kepada ayahnya, sebagai surat yang terlambat dibaca, ketika waktu sudah tidak lagi memberi kesempatan untuk duduk bersama di beranda rumah, menyeruput kopi pahit sambil mendengar kisah-kisah sederhana tentang kerasnya kehidupan.
Barangkali hanya sedikit lagu Indonesia yang mampu merangkum rasa kehilangan dengan begitu sunyi, tetapi sangat mengguncang.
Ketika mendengar larik pembuka:
“Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa, benturan dan hempasan terpahat di keningmu…”
kita seperti sedang diajak memandangi wajah seorang ayah yang diam-diam memendam ribuan perang hidup dalam sorot matanya. Mata yang dahulu tegas, penuh tenaga, kini menyimpan letih yang tak pernah sempat diceritakan.
Betapa sering seorang ayah memilih diam. Ia tidak pandai mengeluh. Ia tak terbiasa meminta dipahami.
Sebab bagi banyak ayah, cinta bukan kata-kata. Cinta adalah kerja keras yang membuat kulit legam terbakar matahari.
Cinta adalah tangan kasar yang tetap menggenggam harapan keluarga meski tubuh mulai renta. Cinta adalah pulang malam dalam tubuh lelah, tetapi masih sempat bertanya, “Kamu sudah makan?”
Di situlah kejeniusan puitik seorang Ebiet G. Ade terasa begitu dalam. Ia tidak menggambarkan ayah sebagai sosok sempurna tanpa luka.
Sebaliknya, ia menghadirkan ayah sebagai manusia yang pelan-pelan dikalahkan usia, tetapi tidak pernah menyerah pada keadaan.
“Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari, kini kurus dan terbungkuk…”
Larik itu terasa seperti tamparan halus bagi banyak anak.
Sebab sering kali kita baru memahami perjuangan seorang ayah ketika bahunya tak lagi kuat menopang dunia. Ketika langkahnya mulai gemetar. Ketika napasnya mulai tersengal. Atau lebih menyakitkan lagi, ketika ia telah pergi dan meninggalkan rumah dalam sunyi.
Ada kesedihan yang paling getir dalam hidup seorang anak, menyadari bahwa dahulu kita terlalu sibuk tumbuh dewasa, hingga lupa memperhatikan bahwa ayah diam-diam sedang menua.
Mungkin karena itulah lagu ini tak pernah kehilangan makna lintas zaman. Ia menjadi milik siapa saja yang pernah kehilangan, merindukan, atau merasa terlambat mengucapkan terima kasih.
Di banyak rumah Indonesia, ayah adalah sosok yang bekerja dalam kesunyian. Tidak banyak bicara, tetapi seluruh hidupnya habis untuk memastikan dapur tetap mengepul, anak-anak bisa sekolah, dan keluarga tidak kehilangan arah.
Mereka sering tak hadir di banyak momen kecil, tetapi diam-diam menjadi alasan seluruh rumah tetap berdiri.
Dan pada suatu usia tertentu, seorang anak mulai memahami kalimat paling getir dalam lagu ini “Anakmu sekarang banyak menanggung beban…”
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan ledakan kesadaran. Bahwa hidup ternyata memang tidak ringan. Bahwa dunia kadang keras dan tak ramah. Bahwa keputusan hidup sering tidak hitam-putih.
Dalam bingkai itulah seorang anak akhirnya mengerti, ternyata ayah dahulu sedang bertarung sendirian melawan begitu banyak ketakutan yang tak pernah ia ceritakan.
Ia mengerti kenapa wajah ayah cepat menua. Mengerti mengapa diam ayah sering terasa berat.
Mengerti kenapa terkadang ayah tampak keras, sebab hidup memang lebih keras kepada dirinya.
Barangkali inilah kekuatan terbesar lagu “Titip Rindu Buat Ayah”. Ia membuat kita menoleh kembali kepada sosok yang selama ini terlalu sering kita anggap akan selalu ada.
Padahal tidak. Waktu selalu diam-diam mengambil bagian dari tubuh seorang ayah. Rambutnya memutih. Langkahnya pun melambat. Ingatan mulai berkurang.
Dan pada suatu hari, rumah tak lagi terdengar suara batuk kecilnya di pagi hari.
Yang tersisa hanyalah kerinduan. Kerinduan yang tak lagi punya alamat.
Mungkin sebab itu, lagu ini tidak hanya tentang kehilangan seorang ayah. Ia adalah pengingat agar kita tidak menunggu kehilangan untuk belajar mencintai.
Sebab tak semua rindu mendapat kesempatan untuk pulang.
Dan di tengah riuh kehidupan modern yang membuat banyak anak terlalu sibuk mengejar dunia, lagu karya Ebiet G. Ade seperti ingin berbisik lirih,
Pulanglah sesekali. Duduklah lebih lama bersama ayah. Dengarkan cerita yang berulang itu. Tanyakan kabarnya. Peluk bahunya yang mulai rapuh.
Sebab suatu saat nanti, ketika ia telah tiada, kita mungkin akan memahami satu hal paling menyakitkan dalam hidup.
Bahwa ternyata, orang yang paling banyak berkorban untuk kita adalah orang yang paling sedikit meminta balasan.
Lalu di dalam hening, seperti bait lagu itu, kita hanya mampu berkata perlahan, Ayah, dalam sepi, aku rindu.
*Penulis adalah Jurnalis Senior dan Akademisi.
