Muhidin Minta Ambapers Genjot PAD, Kanal Barito Harus Lebih Produktif
Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin bersama Ketua TP PKK Hj Fathul Jannah Muhidin, Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj Ananda, Direktur Utama PT Ambapers dalam peringatan 22nd Anniversary Celebration, Halal bihalal dan Costumer Gathering PT Ambang Barito Nusapersada (Ambapers), pada Kamis (23/04), di Mahligai Pancasila Banjarmasin. (Foto : Biro Adpim Kalsel).
Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin mendorong manajemen PT Ambang Barito Nusapersada (Ambapers) agar lebih agresif menggali seluruh potensi pendapatan perusahaan daerah sehingga mampu memberi kontribusi lebih besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Penegasan itu disampaikan saat menghadiri peringatan HUT ke-22 PT Ambapers yang dirangkai dengan halal bihalal dan customer gathering di Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Kamis (23/04/2026), didampingi Ketua TP PKK Kalsel Hj. Fathul Jannah Muhidin.
Menurut Muhidin, salah satu sektor yang perlu segera dibenahi ialah aturan kerja sama dan skema bagi hasil terkait pengerukan alur Sungai Barito yang selama ini dijalankan PT Ambapers bersama PT Pelindo III.
Selain itu, ia juga meminta pengkajian ulang kontribusi dari aktivitas angkutan kargo yang melintas di jalur tersebut. Namun, khusus distribusi kebutuhan pokok, gubernur menegaskan tidak perlu dibebani pungutan.
“Untuk pendapatan, gali terus, sehingga menambah pendapatan pemerintah provinsi,” tegas Muhidin.
PT Ambapers diketahui mengelola bagi hasil dari retribusi jasa alur Ambang Sungai Barito atau channel fee melalui skema kerja sama bisnis dengan BUMD dan BUMN. Kontribusi yang diberikan berupa dividen serta PNBP sekitar 8 persen selama masa konsesi 20 tahun sesuai regulasi.
Direktur Utama PT Ambapers, Zulfadli Gazali, mengatakan keberadaan Alur Barito yang dikelola pihaknya telah memberi dampak ekonomi besar bagi Kalimantan Selatan dan kawasan Indonesia Timur.
Menurutnya, jalur pelayaran kini tidak lagi bergantung pada pasang surut sungai, sehingga arus logistik menjadi lebih lancar dan efisien.
Kondisi itu berdampak pada kelancaran distribusi barang, kestabilan biaya transportasi keluar-masuk pelabuhan, hingga membantu menjaga inflasi daerah.
“Tanpa alur yang aman dan stabil, rantai pasok akan terhambat. Ambapers hadir sebagai solusi,” ujarnya.
Ia menambahkan, peran Ambapers selama ini menjadi penghubung penting antara sektor industri, pertambangan, pertanian, dan pelabuhan transit dalam menopang pergerakan ekonomi regional.
PT Ambapers sendiri merupakan perusahaan milik daerah yang mengantongi konsesi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan untuk mengelola alur Ambang Sungai Barito.
Didirikan pada 2004, perusahaan ini dikenal sebagai pionir pengelola alur pelayaran komersial pertama di Indonesia yang dibentuk untuk mengatasi persoalan pendangkalan di muara Sungai Barito.
Dalam kesempatan itu juga digelar dialog bertema Optimalisasi Kanal Barito sebagai Poros Logistik Indonesia Timur yang menghadirkan unsur pemerintah daerah, dunia usaha, dan mitra strategis.(Olpah Sari).
